Jembatan Peninggalan Belanda di Nganjuk Ambruk, Akses Warga Terganggu

- Reporter

Rabu, 4 Desember 2024

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Sebuah jembatan tua peninggalan Belanda yang terletak di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, ambruk pada rabu (04/12) dini hari.(Ist)

NGANJUK, JATIM – Sebuah jembatan tua peninggalan Belanda yang terletak di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, ambruk pada rabu (04/12) dini hari. Jembatan yang sudah berusia lebih dari seabad ini merupakan penghubung utama antara beberapa desa di kawasan tersebut. Ambruknya jembatan ini menyebabkan akses transportasi warga terganggu dan memicu kekhawatiran terkait kondisi infrastruktur peninggalan sejarah lainnya di wilayah itu.

Menurut warga sekitar, kejadian ambruknya jembatan terjadi tiba-tiba saat hujan deras mengguyur wilayah Nganjuk. Bagian tengah jembatan runtuh, sementara sisi-sisinya mengalami retakan yang cukup parah. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, tetapi seorang pengendara sepeda motor dilaporkan nyaris terjatuh ketika jembatan mulai bergoyang.

“Waktu itu saya sedang lewat, tiba-tiba jembatan bergetar keras dan bagian tengahnya runtuh. Untung saya sempat berhenti,” ujar Suwandi, salah seorang warga yang menjadi saksi mata.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Nganjuk, Sutomo, menyatakan bahwa kondisi jembatan sudah dalam kategori rawan sebelum kejadian. “Jembatan ini merupakan salah satu infrastruktur peninggalan Belanda yang dibangun pada awal abad ke-20. Struktur bangunannya memang sudah tua, dan selama ini hanya dilakukan perawatan ringan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa hujan deras yang melanda wilayah Nganjuk beberapa hari terakhir memperparah kondisi jembatan. Aliran sungai yang deras menyebabkan fondasi jembatan terkikis hingga tidak mampu menahan beban. “Kombinasi usia tua dan tekanan dari arus sungai menjadi penyebab utama runtuhnya jembatan ini,” katanya.

Ambruknya jembatan ini berdampak langsung pada aktivitas warga di sekitar. Jembatan tersebut merupakan akses utama yang menghubungkan Desa Gondanglegi dan Desa Ngliman dengan pusat Kecamatan Rejoso. Kini, warga harus menempuh rute alternatif yang jaraknya dua kali lebih jauh untuk mencapai tujuan mereka.

“Biasanya saya hanya butuh 15 menit untuk sampai ke pasar menggunakan jembatan ini. Sekarang harus memutar lebih dari 30 menit,” keluh Murni, seorang pedagang setempat.

Selain itu, distribusi hasil pertanian dari desa-desa di sekitar jembatan juga terganggu. Para petani kesulitan mengangkut hasil panen mereka ke pasar karena harus melewati jalan alternatif yang kurang memadai.

Menanggapi kejadian ini, Pemerintah Kabupaten Nganjuk berjanji akan segera melakukan langkah darurat untuk memulihkan akses transportasi warga. Sutomo mengatakan pihaknya akan membangun jembatan sementara dalam waktu dekat. “Kami sedang mempersiapkan pemasangan jembatan darurat agar warga tidak terlalu lama terputus aksesnya,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga akan melakukan kajian untuk menentukan desain jembatan permanen yang lebih kokoh dan tahan lama. “Kami akan melibatkan tim ahli untuk merancang jembatan baru yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta kondisi geografis di kawasan ini,” tambah Sutomo.

Kejadian ini juga menjadi pengingat akan pentingnya perawatan dan monitoring infrastruktur peninggalan sejarah yang masih digunakan hingga kini. Ketua Komunitas Sejarah Nganjuk, Budi Santoso, menyayangkan kurangnya perhatian terhadap jembatan-jembatan peninggalan Belanda yang ada di wilayah tersebut.

“Jembatan ini bukan hanya sarana transportasi, tetapi juga warisan sejarah yang memiliki nilai penting. Kami berharap pemerintah lebih serius dalam menjaga infrastruktur bersejarah agar kejadian seperti ini tidak terulang,” katanya.

Budi juga mengusulkan agar jembatan yang rusak tidak sepenuhnya diganti, melainkan diperbaiki dengan mempertahankan elemen-elemen aslinya untuk melestarikan nilai sejarahnya.

Hingga saat ini, lokasi jembatan ambruk telah dipasangi garis pembatas untuk mencegah warga mendekat. Aparat setempat juga terus berjaga untuk memastikan keamanan di sekitar lokasi kejadian.

Ambruknya jembatan peninggalan Belanda ini menjadi peringatan akan pentingnya perawatan infrastruktur tua sekaligus mendorong pemerintah dan masyarakat untuk menjaga warisan sejarah yang ada. Dalam waktu dekat, warga berharap pemerintah dapat memberikan solusi cepat agar aktivitas mereka kembali berjalan normal.

Editor : Agus Susanto

Berita Terkait

Pertamax Naik Rp3.950 per Liter, Warga Tuban Kini Harus Rogoh Kocek Lebih Dalam
Teror Ketuk Pintu di Melawi Viral, Polisi Ungkap Fakta Sebenarnya
Guru PPPK Paruh Waktu Datangi Disdikbud Melawi, Tuntut Kejelasan Gaji dan Dana BOS
Tenaga Outsourcing Perhutani Jatirogo Ditemukan Meninggal di Kawasan Hutan
Laut Keruh dan Dangkal, Nelayan Gadon Minta Penertiban Cucian Pasir Kuarsa Tuban
Pemkab Tuban Akui Kendala SDM Usai Temuan BPK Soal Pajak dan Retribusi
Polisi Bongkar Hoaks Pocong Jadi-jadian di BTN RSUD Melawi
Tangis Haru Keluarga Sambut Kepulangan 1.126 Jamaah Haji Tuban

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 07:22 WIB

Pertamax Naik Rp3.950 per Liter, Warga Tuban Kini Harus Rogoh Kocek Lebih Dalam

Selasa, 9 Juni 2026 - 23:57 WIB

Teror Ketuk Pintu di Melawi Viral, Polisi Ungkap Fakta Sebenarnya

Selasa, 9 Juni 2026 - 22:48 WIB

Guru PPPK Paruh Waktu Datangi Disdikbud Melawi, Tuntut Kejelasan Gaji dan Dana BOS

Selasa, 9 Juni 2026 - 22:38 WIB

Tenaga Outsourcing Perhutani Jatirogo Ditemukan Meninggal di Kawasan Hutan

Selasa, 9 Juni 2026 - 18:33 WIB

Laut Keruh dan Dangkal, Nelayan Gadon Minta Penertiban Cucian Pasir Kuarsa Tuban

Berita Terbaru

Advertisement
Exit mobile version