Tuban – Bagi warga Tuban, Kolam Renang Bektiharjo bukan sekadar tempat rekreasi. Lokasi ini memiliki sejarah panjang, konon sudah ada sejak abad ke-13 dan menjadi tempat pemandian para bangsawan setempat. Namun, kejayaan masa lampau itu kini tinggal cerita.
Ketenangan airnya kini menyisakan sepi, bukan lagi riuh tawa wisatawan. Hanya sesekali terdengar percikan air dari pengunjung yang tersisa.
“Ramenya biasanya pas weekend, tapi itupun gak serame dulu,” kata Jatmiko, salah satu pengunjung yang mengaku sering berenang di sana.
Kondisi Tak Terawat dan Bahaya Mengintai
Kondisi fisik kolam pun tak lagi menggambarkan ikon wisata kebanggaan daerah. Dinding yang kusam, bangunan yang retak, dan yang paling mencolok—lubang besar menganga di sisi utara kolam utama. Lubang itu tampak dalam dan membahayakan pengunjung.
“Ini ada lubang besar dan dalam, kalau malam gak kelihatan,” ucap Jatmiko.
Burhan, pengunjung lain, menambahkan, “Padahal dulu sempat jadi primadona kolam renang di Tuban, ini kalau dibiarkan tak terawat kan sayang.”
Pemerintah Akui Ada Kerusakan Saluran
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Tuban, Mohammad Emawan Putra, membenarkan adanya kerusakan di area kolam. Menurutnya, lubang terbentuk akibat dinding saluran pembuangan air kolam kecil yang terkikis, hingga akhirnya runtuh.
“Kami akan lakukan pengecekan terlebih dahulu. Sementara kami pasang pembatas supaya tidak ada yang melintas,” jelasnya.
Tersandung Status Lahan
Masalah lain yang ikut membelit perawatan Kolam Bektiharjo adalah status kepemilikan lahan. Meski sudah lama dikelola pemerintah, sebagian area wisata tersebut disebut masih berada di bawah administrasi desa setempat.
Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky mengatakan, pihaknya tengah melakukan komunikasi dengan Pemerintah Desa (Pemdes) untuk memastikan kepemilikan aset.
“Dulu kita sudah konsen untuk membangun sarana olahraga air, dan yang paling utama di Bektiharjo. Namun kami saat ini masih melakukan komunikasi dengan pihak desa,” ujarnya.
Ia menambahkan, langkah tersebut juga bagian dari persiapan Tuban menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) mendatang.
“Kita utamakan di Bektiharjo, namun jika memang tidak bisa, mungkin juga bisa di Pantai Boom nanti yang menjadi sentra olahraga air,” katanya.
Dampak Ekonomi Bagi Warga
Menurunnya jumlah pengunjung ke Kolam Renang Bektiharjo tak hanya berdampak pada sisi wisata, tetapi juga menggerus ekonomi warga sekitar. Dulu, di sepanjang jalan menuju lokasi wisata, berjejer pedagang kaki lima (PKL) yang menjajakan jajanan tradisional, minuman, hingga cendera mata khas Tuban.
Namun kini, suasananya berbeda. Banyak lapak yang tutup permanen, sebagian lainnya hanya buka saat akhir pekan.
“Dulu ramai sekali, terutama saat libur sekolah. Sekarang paling cuma beberapa orang yang lewat,” ungkap Siti, salah satu pedagang es degan di sekitar area wisata.
Lesunya aktivitas ekonomi di Bektiharjo turut mengurangi pemasukan daerah dari retribusi wisata maupun parkir. Sektor yang dulu menjadi sumber penghasilan bagi warga kini nyaris berhenti berdenyut.
“Kalau pengunjung sepi, otomatis pendapatan juga berkurang. Sekarang ya seadanya saja,” tambah Siti dengan nada pasrah. (Az)
Editor : Kief












