Promo
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadan 1447 H 2026 M Pemerintah Kabupaten Tuban

Muktamar NU dan Ujian Integritas: Saatnya Tegas Menolak yang Haram

- Reporter

Senin, 6 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

HM Khalilur R Abdullah Sahlawiy , (Fia Rahma/Liputansatu.id).

HM Khalilur R Abdullah Sahlawiy , (Fia Rahma/Liputansatu.id).

Situbondo –Nahdlatul Ulama (NU) akan kembali menggelar Muktamar—forum tertinggi organisasi yang tidak hanya menentukan kepemimpinan, tetapi juga arah dan wajah NU ke depan.
Momentum ini bukan sekadar agenda rutin. Ia adalah titik krusial: apakah NU tetap setia pada nilai-nilai yang melahirkannya, atau mulai bergeser mengikuti arus kepentingan kekuasaan.
Di tengah dinamika yang mulai menghangat, ada satu hal yang harus ditegaskan sejak awal—tanpa kompromi:
politik uang adalah haram, dan NU tidak boleh dibangun di atas sesuatu yang haram.

Politik Uang: Bukan Sekadar Pelanggaran, Tapi Ancaman Organisasi

Penegasan ini bukan sekadar norma moral. Ia adalah fondasi yang menentukan kualitas seluruh proses Muktamar.
Jika praktik politik uang dibiarkan, maka Muktamar berpotensi berubah dari ruang musyawarah bermartabat menjadi arena transaksi kepentingan.
Lebih jauh, persoalannya tidak berhenti pada pelanggaran etik. Ketika uang yang beredar bersumber dari praktik korupsi, maka NU berisiko terseret dalam pusaran hukum, termasuk dalam skema tindak pidana pencucian uang (TPPU).
Ini bukan asumsi berlebihan, melainkan konsekuensi nyata dari relasi antara uang, kekuasaan, dan hukum.
Menerima politik uang bukan hanya menjual suara—tetapi juga menggadaikan masa depan NU.

Saatnya Bersih-Bersih Internal

Kesadaran itu harus diikuti langkah konkret.
NU tidak cukup hanya mengingatkan, tetapi juga harus berani bertindak. Salah satunya dengan membersihkan organisasi dari individu yang terindikasi terlibat praktik korupsi.
Dalam beberapa waktu terakhir, citra NU ikut terdampak oleh isu-isu yang bersinggungan dengan tata kelola kekuasaan—termasuk polemik kuota haji.
Terlepas dari proses hukum yang berjalan, satu hal yang tidak bisa dihindari adalah kerusakan persepsi publik.
Dan bagi organisasi berbasis moral seperti NU, persepsi publik adalah aset utama.
Karena itu, pemulihan tidak cukup dengan klarifikasi. Dibutuhkan keberanian untuk melakukan pembenahan internal secara nyata.
Langkah tegasnya jelas: menyingkirkan mereka yang mencederai integritas organisasi.

NU dan Bayang-Bayang Politik Kekuasaan

Persoalan lain yang tak kalah penting adalah kecenderungan menjadikan NU sebagai kendaraan politik.
Hari ini, NU bukan hanya didekati—tetapi juga diperebutkan.
Banyak aktor politik melihat NU sebagai sumber legitimasi dan basis mobilisasi. Mereka masuk, membangun jejaring, lalu perlahan mengarahkan organisasi sesuai kepentingannya.
Dalam konteks ini, berbagai dinamika menjelang Muktamar—including penunjukan figur-figur tertentu dalam struktur kepanitiaan—perlu dibaca secara kritis.
Ini bukan soal individu, melainkan soal batas tegas antara pengabdian dan pemanfaatan.
NU harus menjaga jarak dari tarik-menarik kepentingan kekuasaan.
Sebab ketika independensi hilang, NU tidak lagi menjadi penjaga moral bangsa—melainkan sekadar bagian dari konfigurasi politik.

Kembali ke Ulama, Kembali ke Jati Diri

Pada akhirnya, Muktamar akan bermuara pada satu pertanyaan mendasar:
siapa yang layak memimpin NU?
NU tidak didirikan oleh politisi. Ia lahir dari rahim ulama—yang memiliki kedalaman ilmu, kejernihan pandangan, dan keteguhan moral.
Karena itu, kepemimpinan NU ke depan harus kembali pada ulama yang otoritatif, bukan sekadar figur yang kuat secara politik.
Ketika logika politik menggantikan otoritas keilmuan, maka yang hilang bukan hanya arah—tetapi juga ruh organisasi.

Muktamar: Pertarungan Nilai, Bukan Kepentingan

Konferensi Besar yang akan digelar pada 25 April 2026 seharusnya menjadi titik awal pembenahan.
Sebuah momentum untuk menegaskan bahwa NU masih memiliki kesadaran untuk:
• menjaga integritas,
• membersihkan diri,
• dan menata ulang arah perjuangan.
Bahwa NU tetap berdiri sebagai pilar moral bagi Republik Indonesia—bukan sekadar pelengkap kekuasaan.
Pada akhirnya, Muktamar ini bukan hanya tentang siapa yang menang.
Ia adalah tentang nilai apa yang dimenangkan.
Jika yang menang adalah nilai, maka NU akan tetap kokoh sebagai kekuatan moral.
Namun jika yang menang adalah kepentingan, maka yang tersisa hanyalah organisasi besar—tanpa arah.
Karena itu, di tengah seluruh dinamika yang mengiringi Muktamar, NU perlu kembali pada satu prinsip yang tidak boleh ditawar:
menolak yang haram—dan menjadikannya sebagai fondasi masa depan yang bersih.
Salam Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Dikutip dari tulisan:
HRM. Khallilur R Abdullah Sahlawiy

Berita Terkait

Bidan RSUD Besuki Ditemukan Tewas di Drainase Pantura Situbondo
IMM Tuban Periode 2026-2027 Resmi Dilantik, Isu Perempuan Jadi Prioritas
Meski Damai, Oknum Polisi Terduga Pemukul Badut di Tuban Tetap Diperiksa Propam
Gelombang 1,5 Meter Terjang Pesisir Tuban, Dua Kapal Nelayan Hancur Dihantam Ombak
SE Sekda Tak Digubris, Jalan Bancar–Jatirogo Masih Dipenuhi Ceceran Pasir Silika
19 Dapur MBG Disuspend, Pemkab Situbondo Minta Disikapi Sebagai Evaluasi
Jelang Operasi Patuh Kapuas 2026, Polres Melawi Bidik Balap Liar dan Knalpot Brong
Modus Lowongan Kerja di Pabrik Semen, Warga Tuban Rugi Rp54 Juta
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 23:55 WIB

Bidan RSUD Besuki Ditemukan Tewas di Drainase Pantura Situbondo

Sabtu, 6 Juni 2026 - 21:48 WIB

IMM Tuban Periode 2026-2027 Resmi Dilantik, Isu Perempuan Jadi Prioritas

Sabtu, 6 Juni 2026 - 21:36 WIB

Meski Damai, Oknum Polisi Terduga Pemukul Badut di Tuban Tetap Diperiksa Propam

Sabtu, 6 Juni 2026 - 20:07 WIB

Gelombang 1,5 Meter Terjang Pesisir Tuban, Dua Kapal Nelayan Hancur Dihantam Ombak

Sabtu, 6 Juni 2026 - 19:33 WIB

SE Sekda Tak Digubris, Jalan Bancar–Jatirogo Masih Dipenuhi Ceceran Pasir Silika

Berita Terbaru

Petugas mengevakuasi jenazah Murtafia Rafika Devi (34), seorang bidan RSUD Besuki yang ditemukan meninggal dunia di saluran drainase Jalur Pantura Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur, Situbondo, Sabtu (06/06/2026) malam, (Fia Rahma/Liputansatu.id).

Hukum Kriminal

Bidan RSUD Besuki Ditemukan Tewas di Drainase Pantura Situbondo

Sabtu, 6 Jun 2026 - 23:55 WIB

Advertisement
Promo Shopee
Berita Terbaru Hari Ini LiputanSatu.id
Ilustrasi LiputanSatu
Berita Tuban Terkini LiputanSatu.id
Gambar Berita LiputanSatu
Kabar Tuban Hari Ini - Klik Selengkapnya di LiputanSatu.id