Tuban – Polresta Tuban diduga menutup mata terhadap kasus kecelakaan (Laka) dengan kurban siswa Kelas XI Sekolah Rakyat (SR) setempat. Dalam peristiwa hari Rabu (16/09/2026) pukul 16.00 itu, seorang siswa berinisial DR dirawat di RSNU Tuban.
Praktis sejak tragedi hingga Selasa (22/09/2026), jajaran Polresta Tuban belum tampak aktivitas memproses dugaan runtuhnya material bangunan pelindung jendela asrama SR itu.
Kasi Humas Polres Tuban Iptu M Iksan saat dikonfirmasi Liputansatu.id pada Jumat (18/09/2026 malam mengatakan, akan meneruskan informasi peristiwa tersebut ke unit operasional terkait.
“Sudah kami sampaikan, Mas, namun belum ada respons dari unit yang membidangi,” ujar M Iksan saat dikonfrontir ulang via sambungan telepon pada hari Sabtu (19/09/2026) malam.
Sedangkan pada Senin (21/09/2026) sore, pihak Polresta menyatakan, telah mengecek peristiwa tersebut melalui Polsek Kota Tuban. Pihak Polsek menyatakan tidak mengetahui peristiwa di komplek SR Tuban tersebut.
“Kami sudah melakukan cek ke Polsek Kota Tuban, dan hasilnya mereka tidak mengetahui kejadian itu, serta sama sekali tidak menerima laporan resmi. Namun mohon waktunya agar kami teruskan langsung ke Unit PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak) Satreskrim Polresta Tuban,” pungkasnya saat dikonfirmasi kembali.
Upaya penelusuran mendalam oleh Tim Liputansatu.id menemukan adanya kejanggalan dari penyebab kunci milik kurban DR. Apalagi kunci tersebut berada di atas struktur bangunan.
Dalam pernyataan awal, Kepala SR Tuban, Vera Khairun Nissa, mengatakan, kunci milik korban “terlempar” ke atas kanopi sebelum akhirnya korban berinisiatif meraihnya sendiri secara mandiri, tanpa menggunakan tangga bantu.
Informasi tersebut langsung patah oleh keterangan Koordinator Wilayah PT Waskita Karya Tuban, Agus Saputra. Pihak kontraktor pelaksana ini justru membeberkan fakta bahwa kunci tersebut sengaja “dilempar” oleh rekan korban sesama siswa.
Sementara Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P3MD) Kabupaten Tuban, Sugeng Purnomo, menyatakan, kunci milik siswa tersebut “jatuh dan terlempar” di bagian atas jendela.
Ia mencoba meluruskan simpang siur mengenai kondisi jatuhnya korban setelah menerima laporan resmi dari pihak manajemen SR. Mantan Camat Kerek itu menegaskan, korban sebenarnya tidak tertimpa material struktur secara utuh.
“Bukan tertimpa. Informasi yang saya dapatkan dari SR, siswa terjatuh saat hendak mengambil kunci yang jatuh dan terlempar,” kata Sugeng.
Ia tambahkan, setelahnya korban yang berniat mengambilnya itu terjatuh dan terkena rontokan pecahan cor. Serta terserempet bagian kanopi di atas jendela.
“Pihak sekolah juga menyatakan telah berkoordinasi dengan pihak PT Waskita Karya,” terang Sugeng saat dikonfirmasi Liputansatu.id.
Menurutnya, tata kelola dan pertanggungjawaban manajemen SR tidak berdiri tunggal di bawah instansinya semata. Ia melihat ada kompleksitas masalah yang harus diurai secara komprehensif. Baik dari sisi kelaikan konstruksi bangunan proyek, maupun faktor psikososial pendidikan para siswa di dalam lingkungan asrama.
“Kami kemarin sudah meminta kepada pihak SR agar segera melaporkan insiden ini ke kantor pusat,” ujarnya.
Ditegaskan pula, jika dalam penelusuran ditemukan indikasi perundungan maupun bullying antar-siswa, tidak menutup kemungkinan akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak yang berwenang.
Sementara itu, diperoleh informasi pihak keluarga korban saat ini diduga mendapat tekanan dan intimidasi psikologis dari oknum tertentu dari lingkungan sekolah. Dugaan tersebut terjadi pasca viralnya pemberitaan terhadap kasus ini di media massa. (Aj)












