Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa pemerintah akan segera menggelar rapat dengan PT Pertamina (Persero) guna membahas kelanjutan proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban. Proyek kilang minyak ini merupakan hasil kerja sama antara Pertamina dan perusahaan energi asal Rusia, Rosneft, yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi bahan bakar dalam negeri serta mengurangi ketergantungan pada impor.
Dalam keterangannya di Gedung Kementerian ESDM pada Sabtu (8/3/2025), Bahlil mengakui bahwa dirinya belum menerima laporan terbaru mengenai perkembangan proyek tersebut. “Saya belum cek ya kalau Tuban. Nanti saya cek. Saya mau rapat sama Pertamina,” ujarnya.
Meski demikian, pemerintah tetap memantau jalannya proyek ini karena keberadaannya sangat penting dalam upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah kepastian dari pihak Rusia terkait komitmen mereka dalam proyek ini.
Pemerintah Siapkan Alternatif Jika Rusia Tidak Memberikan Kepastian
Saat ditanya mengenai kemungkinan Pertamina mencari mitra dari negara lain apabila Rusia tidak memberikan kepastian, Bahlil tidak menutup kemungkinan tersebut. Menurutnya, pemerintah tidak bisa menunggu terlalu lama dan harus memiliki batas waktu yang jelas dalam pengambilan keputusan.
“Opsi bisa saja. Karena kita nggak bisa menunggu sampai lama kan. Kan kita harus punya batas limit waktu. Dan kita harus cari opsi-opsi,” jelasnya.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa pemerintah siap mencari investor atau mitra lain untuk memastikan proyek Kilang Tuban tetap berjalan sesuai rencana. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mempercepat pembangunan infrastruktur energi guna memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) dan produk petrokimia dalam negeri.
Status Proyek Kilang Tuban Masih dalam Tahap Lelang
Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Taufik Aditiyawarman, mengungkapkan bahwa proyek GRR Tuban saat ini masih dalam proses lelang untuk rekayasa teknis, pengadaan, dan konstruksi (EPC). Lelang ini merupakan salah satu tahapan penting sebelum masuk ke fase pembangunan fisik kilang.
Kilang Tuban dirancang untuk memiliki kapasitas pengolahan 300 ribu barel minyak mentah per hari, yang mayoritas produksinya akan difokuskan pada bahan bakar minyak (BBM). Dari jumlah tersebut, sekitar 280 ribu barel per hari akan dialokasikan untuk produksi BBM, sementara sisanya akan digunakan untuk produk petrokimia dan LPG.
“Mengolah 300 ribu barrel crude oil per hari, akan memproduksikan BBM, hampir 280 ribu barel per hari BBM,” jelas Taufik.
Selain BBM, kilang ini juga akan menghasilkan berbagai produk petrokimia yang memiliki nilai strategis bagi industri nasional, seperti aromatik, olefin, high-density polyethylene (HDPE), low-density polyethylene (LDPE), polypropylene, serta LPG. Produk-produk ini menjadi bahan baku utama dalam berbagai sektor industri, termasuk manufaktur, plastik, dan tekstil.
“Sisanya adalah petrokimia. Petrokimia ada aromatik dan olefin crackers di sana untuk memproduksi bahan baku petrokimia seperti high-density polyethylene, low-density polyethylene, polypropylene. Kemudian juga ada LPG. Nah itu semua kita lakukan untuk pertama pemenuhan kebutuhan BBM,” tambahnya.
Strategi Pemerintah dalam Mendorong Ketahanan Energi
Pembangunan Kilang Tuban merupakan bagian dari strategi besar pemerintah dalam mengurangi ketergantungan pada impor BBM dan meningkatkan ketahanan energi nasional. Saat ini, Indonesia masih bergantung pada impor BBM untuk memenuhi kebutuhan domestik, sehingga proyek ini menjadi krusial dalam mencapai kemandirian energi.
Pemerintah juga terus mendorong investasi di sektor energi, termasuk dalam pembangunan kilang baru serta modernisasi kilang-kilang lama yang dimiliki Pertamina. Dengan adanya Kilang Tuban, diharapkan produksi BBM dalam negeri dapat meningkat secara signifikan, sehingga mampu menekan defisit neraca perdagangan akibat impor energi.
Namun, kelangsungan proyek ini sangat bergantung pada keputusan akhir dari hasil pembahasan antara pemerintah, Pertamina, dan pihak Rusia. Jika Rosneft tidak memberikan kepastian, pemerintah harus segera mengambil langkah strategis dengan mencari mitra baru yang memiliki komitmen kuat terhadap proyek ini.
Kesimpulan
Proyek Kilang Tuban menjadi salah satu inisiatif besar pemerintah dalam meningkatkan kapasitas produksi BBM dan produk petrokimia di Indonesia. Meski masih dalam tahap lelang, keberlanjutan proyek ini bergantung pada kepastian dari mitra Rusia, Rosneft.
Pemerintah telah menegaskan bahwa mereka tidak akan menunggu terlalu lama dan siap mencari alternatif jika diperlukan. Keputusan final mengenai proyek ini akan ditentukan berdasarkan hasil komunikasi antara Pertamina dan Rosneft, yang akan dibahas lebih lanjut dalam rapat mendatang.
Dengan kapasitas produksi 300 ribu barel minyak mentah per hari, Kilang Tuban diharapkan dapat memainkan peran penting dalam mendukung ketahanan energi nasional sekaligus memperkuat industri petrokimia domestik. Jika proyek ini berjalan sesuai rencana, Indonesia akan semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan BBM dan bahan baku industri di masa depan.(May)
Editor : Mukhyidin Khifdhi












