Tuban – Efektivitas proyek pembangunan bronjong senilai Rp9,7 miliar di Kali Lowok, Kecamatan Montong, kini menuai sorotan tajam. Infrastruktur yang digadang-gadang menjadi solusi banjir justru belum mampu menahan luapan air saat hujan deras mengguyur wilayah hulu.
Banjir kembali merendam sejumlah rumah warga di Desa Sumurgung pada Selasa (14/04/2026). Air bah yang datang dari wilayah Desa Maindu dan Bringin dengan kontur perbukitan terjal, meluncur deras ke aliran sungai hingga membuat debit air melonjak drastis.
Harapan Besar, Realita Berbeda
Padahal, proyek bronjong dan cek dam yang dibangun Pemerintah Kabupaten Tuban melalui Dinas PUPR-PRKP pada akhir Desember 2025 itu diharapkan mampu mengakhiri persoalan banjir yang telah berlangsung puluhan tahun.
Namun fakta di lapangan berkata lain. Air tetap meluap, rumah warga kembali terendam, dan harapan akan solusi permanen kembali tertunda.
Ironisnya, klaim keberhasilan yang sempat disampaikan pemerintah desa kini seolah terpatahkan oleh kondisi terbaru.
Kepala Desa Akui Hanya Kurangi Dampak
Kepala Desa Sumurgung, Ahmad Roziqin, yang sebelumnya menyebut proyek tersebut efektif, kini memberikan pernyataan yang lebih moderat.
“Memang proyek ini untuk pengentasan banjir, tapi jangan dimaknai secara global. Artinya, hanya mengurangi risiko dampaknya,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Kamis (15/04/2026).
Pernyataan ini memunculkan pertanyaan baru. Jika proyek bernilai miliaran rupiah hanya berfungsi “mengurangi dampak”, lalu di mana letak solusi permanen yang dijanjikan?
Saat ditanya soal perbandingan kondisi sebelum dan sesudah proyek, Roziqin mengaku tidak dapat memberikan data rinci.
“Yang jelas, setidaknya bisa mengurangi kekhawatiran warga,” imbuhnya.
Pemuda Soroti Minimnya Akuntabilitas
Di sisi lain, kalangan pemuda desa mulai bersuara lantang. Shobihul Ma’arif, perwakilan pemuda Sumurgung, melontarkan kritik keras terhadap pemerintah desa yang dinilai tidak transparan dan minim respons.
“Kami sudah kirim surat permohonan audiensi untuk meminta pertanggungjawaban. Tapi sampai sekarang belum ada respons. Ini menunjukkan pemerintah desa seperti kehilangan arah,” tegasnya.
Menurutnya, penanganan banjir tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan pendekatan menyeluruh dari hulu hingga hilir, termasuk normalisasi sungai dan pelibatan masyarakat dalam pengambilan kebijakan.
“Kami mendorong adanya forum diskusi terbuka antara pemerintah dan warga. Jangan sampai proyek miliaran ini hanya jadi formalitas tanpa dampak nyata,” tambahnya.
Proyek Miliaran, Solusi Setengah Jalan?
Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar terkait perencanaan proyek. Apakah sejak awal proyek ini memang hanya dirancang untuk meredam, bukan menyelesaikan?
Jika demikian, maka narasi yang dibangun kepada publik patut dipertanyakan.
Di tengah kebutuhan akan solusi konkret, proyek bronjong di Kali Lowok kini menghadirkan ironi: anggaran besar telah digelontorkan, namun kepastian bagi warga masih belum didapatkan.
Banjir tetap datang. Kekhawatiran tetap ada. Dan proyek miliaran rupiah itu kini berada di persimpangan antara harapan dan kenyataan. (Az)












