DPRD Tuban Datangi Rumah Nenek di Jlodro
Tuban – Kisah pilu seorang nenek di Desa Jlodro, Kecamatan Kenduruan, Tuban, yang harus merawat anaknya dengan gangguan jiwa serta dua cucu kembar seorang diri, akhirnya menarik perhatian publik. Setelah viral di media sosial, kabar tersebut sampai ke telinga anggota DPRD Kabupaten Tuban. Siang tadi (08/09/2025), rombongan dewan mendatangi langsung rumah sang nenek.
Tri Astuti Lihat Kondisi Langsung
Wakil Ketua DPD Gerindra Jawa Timur, Tri Astuti, turut hadir melihat kondisi sang nenek. Ia menyampaikan bahwa pemerintah desa dan kecamatan sebenarnya telah menyalurkan bantuan sosial, namun masih banyak kebutuhan yang harus diperhatikan.
“Ini kami datang secara pribadi ke sini, ingin melihat kondisi warga ini secara langsung,” ujarnya.
Ia menambahkan, pihaknya akan melakukan pendampingan melalui anggota dewan dari dapil setempat. Selain itu, ia juga berjanji akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar kondisi keluarga ini mendapat perhatian lebih baik ke depan.
Dorongan Renovasi Rumah Layak Huni
Tri Astuti menyempatkan mengecek kondisi rumah sang nenek. Menurutnya, rumah tersebut masih belum layak huni. Ia mendorong agar pemerintah setempat melakukan renovasi agar keluarga ini bisa tinggal di tempat yang lebih layak.
Respons Pemerintah Desa
Secara terpisah, Kepala Desa Jlodro, Suroso, menjelaskan bahwa pihak desa juga terus berupaya memperhatikan kondisi warganya. Sang nenek telah tercatat sebagai penerima bantuan pangan non tunai (BPNT) dan bantuan langsung tunai dana desa (BLT DD).
“Selain itu, perangkat desa atau kecamatan juga sering memberi bantuan uang maupun beras,” ungkap Suroso kepada Liputansatu.id.
Nenek Tetap Pertahankan Cucu Kembar
Seperti diketahui, sang nenek tinggal bersama dua cucu kembar yang kini duduk di bangku TK, serta anak perempuannya yang mengalami gangguan jiwa. Suaminya sudah lama meninggal. Tragisnya, anaknya yang mengalami ODGJ sempat beberapa kali hamil akibat perbuatan orang tak bertanggung jawab.
Dari empat anak yang dilahirkan, satu sudah diadopsi yayasan di Surabaya, satu meninggal di usia 12 hari, dan dua kembar kini dirawat langsung oleh sang nenek.
Meski ada tawaran adopsi, sang nenek dengan tegas menolak. Ia ingin memastikan cucu kembarnya tetap tumbuh bersama dirinya, meski dengan segala keterbatasan. (Az)
Editor : Kief












