Tuban – Keluhan sejumlah orang tua murid di Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban, terkait penyajian menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Yayasan Kemala Bhayangkari Kayen Bancar terus bergulir. Menu yang dinilai kurang layak dan disajikan secara asal-asalan memicu pertanyaan serius mengenai pemenuhan standar gizi resmi serta alokasi anggaran per porsi dalam program tersebut.
Keluhan para wali murid ramai diperbincangkan di lingkungan sekolah hingga media sosial. Mereka menilai komposisi makanan yang diterima anak-anak tidak mencerminkan tujuan utama program MBG, yakni memenuhi kebutuhan nutrisi harian untuk mendukung tumbuh kembang siswa.
“Harusnya bergizi dan cukup, tapi yang diterima anak-anak justru terlihat sangat minim. Ini membuat kami khawatir,” ujar salah satu wali murid.
Standar Gizi MBG Seharusnya Penuhi Kebutuhan Kalori dan Protein Anak
Secara prinsip, program makan bergizi di lingkungan sekolah mengacu pada pedoman pemenuhan gizi seimbang anak usia sekolah. Dalam satu porsi makan siang, kebutuhan minimal umumnya mencakup:
• Energi sekitar 30–35% kebutuhan harian anak
• Protein dari sumber hewani atau nabati berkualitas
• Karbohidrat sebagai sumber energi utama
• Sayur dan buah sebagai sumber vitamin, mineral, dan serat
Komposisi tersebut menjadi indikator dasar apakah suatu menu layak disebut makan bergizi atau sekadar makanan pengganjal lapar.
Para wali murid menilai menu yang diterima anak-anak di Bancar belum mencerminkan komposisi tersebut, baik dari sisi jumlah, variasi, maupun kualitas bahan pangan.
Alokasi Anggaran Per Porsi Jadi Sorotan
Selain kualitas menu, perhatian publik juga tertuju pada besaran anggaran per porsi yang seharusnya cukup untuk menyediakan makanan bergizi.
Secara umum, program makan bergizi sekolah di berbagai daerah berkisar pada:
• Rp10.000 – Rp15.000 per porsi untuk paket sederhana
• Dapat lebih tinggi tergantung wilayah, harga bahan pangan, dan skema distribusi
Dengan kisaran tersebut, seharusnya menu minimal masih dapat memuat:
• Nasi atau sumber karbohidrat setara
• Lauk berprotein
• Sayur
• Buah atau pelengkap bergizi
Jika komposisi makanan jauh di bawah kelayakan, publik wajar mempertanyakan efektivitas penggunaan anggaran serta mekanisme pengawasan pelaksanaan program.
Pihak Pengelola Akui Kelalaian Pemorsian
Kepala SPPG Yayasan Kemala Bhayangkari Kayen Bancar, Bayu, membenarkan adanya keluhan dari orang tua murid. Ia menyebut persoalan terjadi pada bagian pemorsian makanan dan mengaku telah memberikan teguran internal.
“Itu kelalaian di bagian pemorsian dan sudah saya tegur. Ke depan akan kami perbaiki,” ujarnya.
Meski demikian, penjelasan tersebut belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran wali murid, terutama terkait jaminan kualitas menu dan pengawasan berkelanjutan.
Mediasi Dilakukan, Evaluasi Menyeluruh Didesak
Danramil 0811/12 Bancar, Kapten Arm A. Ghofar, menyampaikan bahwa persoalan telah dimediasi dan akan dilakukan pengecekan lanjutan terhadap pelaksanaan MBG.
“Sudah dimediasi. Pelaksanaan program akan kami cek kembali,” katanya singkat.
Para orang tua murid berharap evaluasi tidak berhenti pada mediasi, tetapi mencakup:
• Audit kualitas menu dan standar gizi
• Transparansi anggaran per porsi
• Pengawasan rutin distribusi makanan
Mereka menegaskan bahwa program MBG menyangkut kesehatan anak sehingga tidak boleh dijalankan secara seremonial atau sekadar formalitas.
Kepentingan Gizi Anak Harus Jadi Prioritas
Program makan bergizi di sekolah pada dasarnya merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia. Karena itu, setiap dugaan penyimpangan—baik dalam komposisi menu, pemorsian, maupun pengelolaan anggaran—perlu ditangani secara transparan dan akuntabel.
Wali murid berharap pemerintah daerah bersama pihak terkait segera memastikan bahwa pelaksanaan MBG benar-benar memenuhi tujuan utamanya: memberikan asupan gizi layak bagi anak-anak, bukan sekadar membagikan makanan tanpa standar yang jelas. (Az)
Editor : Kief












