Tuban – Suasana malam di RW 3, Desa Wolutengah, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, tampak berbeda dari biasanya. Dentuman ritmis kentongan, ember, galon, dan alat dapur yang diubah menjadi instrumen musik tradisional mengalun semarak dalam lomba tongklek, Sabtu malam (11/10/2025).
Kegiatan yang digelar secara swadaya oleh masyarakat ini diikuti oleh 24 kelompok termasuk peserta dari Lamongan yang seluruhnya tampil dengan gaya unik dan penuh kreativitas. Mereka memadukan bunyi-bunyian khas tongklek dengan nyanyian dan tarian, menciptakan suasana meriah yang menarik perhatian ratusan warga sekitar.
Tak hanya menjadi hiburan, acara ini juga menawarkan total hadiah jutaan rupiah bagi para peserta terbaik, meski seluruh kegiatan didanai tanpa sponsor besar—murni dari iuran warga RW 3.
Pelestarian Budaya Lokal di Tengah Modernisasi
Kesenian tongklek sendiri merupakan bentuk ekspresi budaya khas Tuban dan daerah sekitarnya yang sudah dikenal sejak lama. Dengan menggunakan peralatan sederhana, warga mampu menampilkan irama yang harmonis dan menggambarkan semangat gotong royong.
Menurut Cetta, salah seorang penonton, kegiatan seperti ini sangat penting untuk menjaga agar budaya tradisional tidak punah ditelan arus modernisasi.
“Acara ini sangat meriah dan penuh makna. Para peserta terlihat antusias, dan saya bangga melihat warga masih peduli menjaga budaya lokal,” ujarnya.
Warga lainnya, Satrio, menilai kegiatan tongklek ini seharusnya menjadi agenda rutin desa setiap tahun.
“Ini bukan sekadar hiburan, tapi juga mempererat persaudaraan antarwarga. Kalau bisa, tahun depan lebih besar lagi pesertanya,” ucapnya.
Kepala Desa Dorong Semangat Kolaborasi dan Kebersamaan
Kepala Desa Wolutengah, Rasdan, menyampaikan bahwa lomba tongklek tersebut merupakan bagian dari rangkaian Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN). Selain untuk memperingati momentum kebangsaan, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkuat kerukunan, kolaborasi, dan rasa memiliki antarwarga.
“Kami berharap dengan acara ini masyarakat senantiasa menjaga keharmonisan, kerukunan, keamanan, dan setelah acara berlangsung kebersihan tetap dijaga,” ucapnya kepada LiputanSatu.id.
Rasdan menambahkan, pihak pemerintah desa selalu membuka ruang bagi masyarakat yang ingin berkreasi dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial. Menurutnya, keberhasilan sebuah desa bukan hanya dilihat dari pembangunan fisik, tetapi juga dari soliditas sosial dan semangat gotong royong warganya.
“Pemerintah Desa selalu mendukung kegiatan positif seperti ini. Apalagi yang sifatnya menumbuhkan kebersamaan dan melestarikan nilai-nilai budaya lokal,” imbuhnya.
Swadaya Warga Jadi Kekuatan Utama
Ketua Panitia Lomba Tongklek, Winarto, mengungkapkan bahwa seluruh pelaksanaan acara ini dibiayai secara swadaya dari warga. Tak ada sponsor besar, semua berasal dari iuran sukarela masyarakat RW 3.
“Semua biaya dari kami secara swadaya, dari warga untuk warga. Tidak ada pungutan ke peserta, semuanya gratis,” jelasnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut telah dipersiapkan selama lebih dari dua minggu oleh panitia dan pemuda desa. Selain lomba, panitia juga menyiapkan panggung kecil dan penerangan sederhana agar warga bisa menikmati pertunjukan dengan nyaman.
“Kami ingin menunjukkan bahwa tanpa dana besar pun, kalau masyarakat kompak dan gotong royong, kegiatan seperti ini bisa sukses besar,” ujarnya bangga.
Harapan agar Tradisi Terus Dihidupkan
Di akhir acara, Kepala Desa bersama panitia dan warga bergotong royong membersihkan area kegiatan. Semangat kebersamaan terasa kuat ketika para pemuda, ibu-ibu, dan panitia saling bahu-membahu menata kembali lapangan.
Wiranto berharap kegiatan tongklek ini bisa menjadi agenda tahunan Desa Wolutengah.
“Minimal acara ini dipertahankan tahun depan. Kalau bisa lebih dimeriahkan lagi dan melibatkan lebih banyak warga,” pungkasnya.
Bagi warga Desa Wolutengah, lomba tongklek bukan sekadar hiburan malam. Ia menjadi simbol bahwa budaya dan gotong royong masih hidup di tengah masyarakat, menjadi perekat sosial di era modernisasi yang kian cepat. (Az)
Editor : Kief












