Tuban – Lautan manusia memadati kawasan Makam Sunan Bonang dan Alun-Alun Tuban dalam rangkaian Haul ke-517 Sunan Bonang. Tidak hanya masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia, ribuan peziarah juga datang dari luar pulau hingga mancanegara untuk mengikuti tradisi religi yang telah berlangsung turun-temurun tersebut.
Haul salah satu tokoh Wali Songo ini tidak hanya menjadi momentum mengenang jasa penyebar agama Islam di Tanah Jawa, tetapi juga menjadi ruang pertemuan budaya, spiritualitas, sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Pengunjung Diperkirakan Capai Jutaan Orang
Wakil Ketua Panitia Haul Sunan Bonang, Siswanto, mengatakan rangkaian kegiatan tahun ini telah memasuki agenda keenam dari total tujuh kegiatan yang disiapkan panitia.
“Alhamdulillah seluruh rangkaian berjalan lancar. Mulai dari pertemuan alim ulama, takjil gaib, khataman Al-Qur’an, sunatan massal, hingga hari ini Tahlil Akbar. Antusiasme masyarakat sangat luar biasa,” ujar Siswanto, Kamis (25/06/2026).
Menurutnya, jumlah pengunjung yang datang secara bergantian sejak awal rangkaian acara diperkirakan mencapai jutaan orang. Arus peziarah terus berdatangan dari berbagai daerah untuk mengikuti kegiatan haul sekaligus berziarah ke makam Sunan Bonang.
“Kalau dihitung sejak awal rangkaian acara, jumlah pengunjung yang datang ke Tuban bisa mencapai jutaan orang. Bahkan ada wisatawan religi dari luar negeri yang turut hadir,” katanya.
Peziarah Mancanegara Turut Hadir
Siswanto menuturkan keramaian mulai terlihat sejak kegiatan pertemuan alim ulama pada 20 Juni lalu. Bahkan sebelum agenda tersebut digelar, sejumlah peziarah dari luar daerah maupun mancanegara sudah lebih dahulu datang ke Kabupaten Tuban.
Ia menilai Haul Sunan Bonang kini telah berkembang menjadi magnet wisata religi yang mampu menarik kunjungan dalam skala besar sekaligus memperkenalkan Kabupaten Tuban di tingkat nasional maupun internasional.
Tradisi Hadrah dan Khatmil Quran Tetap Dilestarikan
Selain kegiatan utama berupa pengajian dan tahlil, panitia juga menggelar berbagai agenda budaya keagamaan. Di antaranya Tadarus Bin Nadlor dan Khatmil Quran Bil Ghoib yang dilaksanakan secara serentak di puluhan masjid dan musala di berbagai wilayah Kabupaten Tuban.
Tradisi hadrah yang telah menjadi bagian dari sejarah haul juga kembali digelar. Ribuan pecinta seni hadrah Ishari dari berbagai daerah memadati lokasi kegiatan sebagai bentuk penghormatan kepada Sunan Bonang yang dikenal menggunakan pendekatan seni dan budaya dalam dakwahnya.
“Sejak dulu seni hadrah menjadi pembuka rangkaian haul. Ini bagian dari tradisi yang diwariskan dan terus dijaga sampai sekarang,” ujar salah seorang panitia.
UMKM dan Pedagang Raup Berkah Haul
Tak hanya menghidupkan tradisi keagamaan, Haul Sunan Bonang juga membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Kawasan pusat kota dipenuhi pedagang dan pelaku UMKM yang memanfaatkan momentum kedatangan jutaan peziarah.
Siswanto mengungkapkan banyak pelaku usaha kecil yang merasakan peningkatan omzet selama pelaksanaan haul.
“Alhamdulillah para pedagang mengaku dagangannya laris. UMKM sangat terbantu dengan ramainya pengunjung yang datang,” ungkapnya.
Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari berbagai pihak, mulai Pemerintah Kabupaten Tuban, TNI, Polri hingga masyarakat umum. Menariknya, seluruh pembiayaan kegiatan bersumber dari Yayasan Mabarrot Sunan Bonang serta partisipasi masyarakat melalui sedekah makanan, snack, dan ribuan paket berkat yang dibagikan kepada jamaah.
Gus Yusuf Isi Mauidhoh Hasanah pada Malam Puncak
Pada malam puncak haul, panitia menghadirkan pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang, Gus Yusuf, untuk menyampaikan mauidhoh hasanah kepada para jamaah yang memadati lokasi acara.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Haul Sunan Bonang menjadi bukti bahwa tradisi warisan para wali masih hidup dan terus dirawat oleh masyarakat. Bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi ruang pelestarian budaya, penguatan nilai-nilai spiritual, serta penggerak ekonomi kerakyatan yang memberikan manfaat luas bagi Kabupaten Tuban. (Az)












