TUBAN – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Tuban memastikan bahwa seorang warga binaan di Lapas Kelas IIB Tuban yang meninggal dunia pada Rabu (05/02/25) tidak mengidap TBC. Kepastian ini diperoleh setelah dilakukan tes dahak TB terhadap korban.
Kronologi Warga Binaan Meninggal di Lapas Tuban
Sebelumnya, Barno (52), narapidana kasus pencurian yang divonis oleh Majelis Hakim PN Tuban, dilarikan ke RSUD Dr. Koesma Tuban sekitar pukul 13.00 WIB karena kondisinya yang memburuk. Tak lama setelahnya, keluarga korban menerima kabar bahwa Barno telah meninggal dunia.
Kepala Lapas Kelas IIB Tuban, Edi Kuhen, mengungkapkan bahwa korban sudah sering sakit sejak sebelum masuk ke lapas. Ia menduga bahwa selain faktor usia, korban juga menderita TBC, yang membuat kesehatannya semakin menurun.
“Korban beberapa kali kami rawat di ruangan khusus,” ujar Kuhen.
Hasil Pemeriksaan Dinkes P2KB: Negatif TBC
Sementara itu, Kepala Dinkes P2KB Kabupaten Tuban, Esti Surahmi, ketika dikonfirmasi pada Rabu (07/02/25), membenarkan bahwa korban memang memiliki riwayat penyakit TBC. Namun, setelah menjalani perawatan, korban dinyatakan sembuh dan hasil tes TB terbaru menunjukkan bahwa ia negatif TBC.
“Memang ada riwayat TBC, tetapi setelah dirawat, korban sembuh dan hasil tes TB menunjukkan negatif,” jelas Esti Surahmi.
Dinkes P2KB juga memastikan bahwa korban telah dipisahkan dari warga binaan lain untuk mencegah kemungkinan penularan. Mengenai bercak darah yang ditemukan pada pakaian korban, Esti menjelaskan bahwa hal itu disebabkan oleh muntahan akibat penyakit paru kronis yang dideritanya.
“Dari hasil konfirmasi dengan pihak lapas, korban memiliki penyakit paru kronis dan sempat mengalami muntah darah,” tambahnya.
Baca juga: Berkah Natal: 6 Narapidana Rutan Situbondo Diusulkan Terima Remisi Khusus 2024
Langkah Pencegahan dan Penanganan Kesehatan di Lapas
Esti juga menuturkan bahwa sebelum adanya Klinik Pratama di Lapas Kelas IIB Tuban, pihaknya bekerja sama dengan Puskesmas Kebonsari, Tuban untuk melakukan pelayanan kesehatan rutin bagi para warga binaan setiap minggu.
“Setelah Klinik Pratama berdiri, pelayanan kesehatan bisa dilakukan kapan saja, dan kami terus memberikan dukungan penuh terhadap fasilitas klinik tersebut,” tutupnya.(Az)












