Tuban – Berawal dari sekadar mengisi waktu luang di sela pekerjaan, Eko Priyono, seorang pegawai di Kelurahan Kembangbilo, Kecamatan Tuban, tak menyangka langkah kecilnya memelihara ayam bisa mendatangkan penghasilan jutaan rupiah setiap minggunya. Ayam yang dipeliharanya bukan ayam sembarangan. Ia membudidayakan ayam hasil persilangan yang dikenal dengan nama Sengkuni, varietas baru yang dikembangkan oleh brider asal Lampung.
“Awalnya coba-coba aja, biar waktu nggak habis cuma buat kerja kantor. Tapi ternyata justru ini yang jadi penghasilan tambahan paling stabil,” kata Eko saat ditemui di kandang kecil di samping rumahnya.
Ayam Sengkuni, Unggul di Banyak Sisi
Ayam Sengkuni adalah hasil persilangan yang cukup unik. Bentuk tubuhnya menyerupai ayam kampung, tapi dengan ukuran yang jauh lebih besar. Telurnya pun unik: ukurannya sebesar telur ayam ras, namun berwarna seperti telur ayam kampung. Tak hanya itu, produktivitas telurnya pun tinggi.
“Kalau dari 10 ekor betina, rata-rata tiap hari ada tujuh yang bertelur. Itu termasuk tinggi untuk skala rumahan,” jelas Eko.
Kecepatan tumbuh ayam ini juga jadi daya tarik. Dalam dua bulan, ukurannya sudah menyamai ayam kampung dewasa. Bahkan, saat berusia satu tahun, ayam Sengkuni bisa mencapai dua kali lipat ukuran ayam biasa.
Kandang Mini, Hasil Maksimal
Menariknya, Eko tak butuh lahan luas. Ia hanya memanfaatkan lahan sempit di belakang rumahnya. Dengan kandang koloni berukuran 1,5 x 1,5 meter, ia bisa memelihara satu ekor pejantan Sengkuni bersama empat ekor betina jenis black permout. Lantai kandang disusun berlapis dari sekam, pasir, dan kotoran hewan matang. Kombinasi ini membuat ayam nyaman dan sehat.
Pakan diberikan dua kali sehari, disesuaikan dengan 30% dari bobot tubuh ayam. Multivitamin, suplemen peningkat produksi telur, dan vaksin diberikan secara rutin agar ayam tetap sehat—terutama di masa pancaroba.
Penjualan Bibit Ayam Sengkuni
Untuk saat ini , Eko lebih memilih fokus pada penjualan bibit ayam. Anakan ayam yang sudah berumur dua hari bisa langsung dijual, dengan rata-rata seratus ekor per minggu dari total sebelas koloni yang dimilki saat ini.
“Sekarang ini saya bisa produksi bibit mingguan. Dengan harga jual sepuluh ribu per ekor, dari enam koloni saja bisa dapat omzet Rp800 ribu per minggu. Kalau maksimal semua jalan, bisa lebih dari itu,” ucapnya dengan senyum bangga.
Untuk pemasarannya sendiri saat ini kebanyakan dari dalam pulau Jawa, tapi tak jarang pesanan datang dari Sulawesi hingga Riau. Semua dipasarkan secara online, dari media sosial hingga jaringan sesama peternak.
Modal Kecil, Potensi Besar
Menurut Eko, peluang usaha ini terbuka lebar bagi siapa pun yang mau belajar dan telaten. Bibit ayam Sengkuni saat ini dijual dengan harga sekitar Rp25 ribu per ekor. Dengan pemeliharaan yang tidak rumit dan masa panen yang cepat, balik modal bisa dicapai dalam waktu relatif singkat.
“Tantangannya paling di kesehatan ayam. Tapi kalau disiplin vaksin dan jaga kebersihan kandang, insyaAllah aman,” ujarnya.
Dari hobi memelihara ayam, kini ia membangun usaha mandiri yang tak hanya menguntungkan, tapi juga memberi inspirasi. Siapa sangka, ayam bernama Sengkuni bisa jadi jalan menuju kemandirian ekonomi?
“Kalau kita sabar dan konsisten, apa pun bisa jadi rezeki. Bahkan dari lahan kecil sekalipun,” pungkasnya.(Az)
Editor : Mukhyidin Khifdhi












