Mataram, Nusa Tenggara Barat – Keterampilan seni semakin mendapat ruang dalam dunia pendidikan, termasuk di pesantren. Hal itu terlihat dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang digelar mahasiswa Universitas Mataram bersama santri dan santriwati Yayasan Pendidikan Islam Al-Intishor pada Sabtu (23/8/2024). Mereka berkolaborasi dalam pelatihan kreatif pembuatan batik tie-dye, sebuah seni pewarnaan kain modern yang penuh warna dan sarat makna.
Kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan teknik seni, tetapi juga menjadi sarana untuk mengasah keterampilan, menumbuhkan kreativitas, hingga membuka peluang usaha kreatif bagi santri.
Mengenal Batik Tie-Dye: Seni Modern dengan Sentuhan Tradisional
Batik tie-dye merupakan teknik pewarnaan kain dengan cara mengikat dan mencelup, sehingga menghasilkan motif unik dan beragam. Berbeda dengan batik tulis atau cap yang membutuhkan peralatan khusus, tie-dye lebih sederhana namun tetap menghasilkan corak yang menarik.
Metode ini kini banyak digemari kalangan muda karena mudah dipelajari, ramah bahan, dan hasilnya bisa diaplikasikan pada berbagai produk fesyen seperti kaos, jilbab, totebag, hingga aksesoris.
“Selain mengenalkan seni batik modern, kegiatan ini juga membuka wawasan santri bahwa keterampilan bisa menjadi bekal kemandirian di masa depan,” ungkap salah satu mahasiswa fasilitator.
Antusiasme Santri dalam Berkarya
Sejak awal pelatihan, santri dan santriwati Yayasan Al-Intishor menunjukkan semangat yang tinggi. Mereka bereksperimen dengan berbagai kombinasi warna, mencoba teknik pengikatan berbeda, hingga menghasilkan corak yang unik.
Setelah proses pencelupan dan pengeringan, karya-karya hasil tangan para santri dipamerkan di halaman yayasan. Suasana penuh keceriaan tampak ketika para peserta melihat hasil karya mereka yang berwarna-warni.
“Dari selembar kain sederhana, lahirlah karya penuh warna yang mengajarkan kita bahwa setiap goresan imajinasi memiliki potensi untuk menjadi masa depan,” ujar Teguh, salah satu fasilitator mahasiswa.
Sinergi Pesantren dan Perguruan Tinggi
Kolaborasi ini menjadi contoh nyata bagaimana perguruan tinggi dan pesantren bisa saling melengkapi. Universitas Mataram menghadirkan pengetahuan praktis dan inovasi, sementara Yayasan Pendidikan Islam Al-Intishor menyediakan ruang bagi santri untuk belajar keterampilan baru.
Kerja sama ini diharapkan dapat berlanjut dengan kegiatan lain, baik di bidang seni, kewirausahaan, maupun literasi digital. Dengan begitu, santri tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga terampil dalam bidang kreatif dan siap bersaing di era modern.
Harapan untuk Generasi Muda
Kegiatan pelatihan batik tie-dye ini menjadi momentum penting untuk memupuk semangat berkarya di kalangan generasi muda, khususnya santri. Selain menambah pengalaman, keterampilan seperti ini bisa menjadi modal dalam mengembangkan usaha kreatif berbasis ekonomi mandiri.
“Kami berharap kegiatan semacam ini bisa terus berlanjut. Tidak hanya mengenalkan seni, tetapi juga menumbuhkan jiwa wirausaha sejak dini,” tutur salah satu pengurus yayasan.
Dengan adanya kegiatan ini, pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga wadah pengembangan kreativitas, inovasi, dan kemandirian. (Az)
Editor : Kief












