Prof. Muhadjir Effendy Soroti Pendidikan Tuban: Rata-rata Warga Belum Tamat SMP

- Reporter

Rabu, 24 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prof. Muhadjir Effendy, akademisi nasional dan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, saat menyampaikan pandangannya terkait kondisi pendidikan daerah, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Prof. Muhadjir Effendy, akademisi nasional dan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, saat menyampaikan pandangannya terkait kondisi pendidikan daerah, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Tuban – Akademisi nasional sekaligus mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI era Presiden Joko Widodo, Prof. Muhadjir Effendy, menyoroti serius kondisi pendidikan di Kabupaten Tuban. Ia menilai rata-rata pendidikan warga Tuban yang masih setara belum lulus SMP sebagai sinyal kuat bahwa pembangunan manusia di daerah belum berjalan sebagaimana mestinya.
Menurut Prof. Muhadjir, kenaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang selama ini dibanggakan tidak boleh menutup mata terhadap fakta di lapangan. Pasalnya, merujuk data BPS: Rata-rata Lama Sekolah (RLS) warga Tuban masih tertahan di angka 7,5 tahun, atau setara anak yang belum menuntaskan pendidikan SMP.
“Kalau rata-rata pendidikannya masih segitu, artinya ada masalah serius. Pendidikan itu urusan pemerintahan konkuren, daerah punya kewenangan besar. Kalau hasilnya mandek, pemerintah daerah harus bertanggung jawab penuh,” tegas Prof. Muhadjir.

Sentilan Keras untuk Dinas Pendidikan

Guru Besar Bidang Pendidikan Universitas Negeri Malang itu bahkan menyentil peran Dinas Pendidikan yang dinilainya belum menjadikan peningkatan pendidikan warga sebagai prioritas utama pembangunan manusia.
“Indikatornya jelas. Mestinya Dinas Pendidikan fokus ke situ. Jangan setengah-setengah. Kalau perlu, urusan pendidikan itu dipikirkan terus, sampai terbawa mimpi,” sindirnya.
Data menunjukkan, dalam kurun tiga tahun terakhir, rata-rata lama sekolah warga Tuban hanya naik sekitar 0,17 tahun. Angka ini dinilai sangat lambat jika dibandingkan dengan tren nasional yang terus mengalami peningkatan.

Anak Putus Sekolah Jadi Akar Masalah

Menurut Prof. Muhadjir, Pemkab Tuban harus berani membongkar akar persoalan mengapa banyak anak berhenti sekolah sebelum menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah. Faktor ekonomi, keterbatasan akses pendidikan, hingga lemahnya kebijakan daerah menjadi penyebab utama yang harus diatasi secara serius.
Ia mendorong penerapan wajib belajar 13 tahun, penguatan beasiswa melalui peraturan daerah, serta optimalisasi pendidikan nonformal seperti program Kejar Paket bagi warga yang terlanjur putus sekolah.
“Jangan hanya mengandalkan sekolah formal. Yang sudah terlanjur putus sekolah juga harus ditarik kembali ke dunia pendidikan,” ujarnya.

Usul Gerakan Anak Asuh

Tak hanya menawarkan solusi kebijakan, Prof. Muhadjir juga menggagas pendekatan sosial yang lebih konkret. Salah satunya melalui gerakan anak asuh, di mana pejabat dan aparatur pemerintah ikut bertanggung jawab langsung terhadap keberlanjutan pendidikan anak dari keluarga kurang mampu.
“Setiap pejabat atau pegawai bisa mengangkat satu anak asuh, membantu biaya pendidikan dan kebutuhan hidupnya. Ini langkah nyata, bukan sekadar wacana,” kata dia.

Akademisi Lokal Sepakat: Pendidikan Tak Bisa Biasa-Biasa Saja

Pandangan Prof. Muhadjir sejalan dengan akademisi Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban, Prof. Agus Wardhono. Ia menilai rendahnya rata-rata pendidikan warga tak bisa dilepaskan dari sistem pembelajaran yang belum sepenuhnya berorientasi pada hasil.
“Ini bukan soal angka semata. Pendidikan harus menghasilkan lulusan yang punya kemampuan, sikap, dan keterampilan yang bisa dipakai dalam kehidupan nyata,” ujarnya.
Menurut Prof. Agus, perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki mutu pendidikan. Namun, tanpa reformasi menyeluruh, kondisi pendidikan Tuban dinilai belum siap menghadapi tantangan masa depan.
“Dengan rata-rata pendidikan yang masih setara SMP, Tuban butuh langkah luar biasa. Tidak cukup dengan kebijakan biasa-biasa saja,” pungkasnya. (Az)

Editor : Kief

Berita Terkait

Dana PIP Dipakai Beli HP, SMKN Jatirogo Libatkan Orang Tua Awasi Penggunaannya
Gedung Permanen Rampung, Sekolah Rakyat Tuban Mulai Tahun Ajaran Baru dengan 256 Siswa
Janji Tinggal Janji, Warga Socorejo Blokade Pelabuhan SIG Tuban
Kemarau Panjang, Warga Gunung Putri Situbondo Jalan Kaki 5 Kilometer Cari Air Bersih
Ratusan Warga Tuban Nikmati Layanan Kesehatan Gratis, SBI Jangkau 16 Desa
Bank Jatim Kembali Tegaskan Komitmen Dukung Pembangunan Tuban, Salurkan CSR di Festival Mangrove Jatim X
PT SIG Mangkir dari Audiensi DPRD Tuban, Keluhan Debu Warga Belum Temui Solusi
Khofifah Tinjau Sekolah Rakyat Tuban, Enggan Komentari Pembangunan Yang Belum Rampung

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 19:35 WIB

Dana PIP Dipakai Beli HP, SMKN Jatirogo Libatkan Orang Tua Awasi Penggunaannya

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:12 WIB

Gedung Permanen Rampung, Sekolah Rakyat Tuban Mulai Tahun Ajaran Baru dengan 256 Siswa

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:01 WIB

Janji Tinggal Janji, Warga Socorejo Blokade Pelabuhan SIG Tuban

Kamis, 30 Juli 2026 - 13:14 WIB

Ratusan Warga Tuban Nikmati Layanan Kesehatan Gratis, SBI Jangkau 16 Desa

Kamis, 30 Juli 2026 - 06:41 WIB

Bank Jatim Kembali Tegaskan Komitmen Dukung Pembangunan Tuban, Salurkan CSR di Festival Mangrove Jatim X

Berita Terbaru