Situbondo – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Situbondo mulai memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah. Salah satu yang paling terdampak adalah Desa Gunung Putri, di mana warga harus berjalan kaki hingga lima kilometer setiap hari demi mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Minimnya pasokan air bersih membuat warga terpaksa mengambil air langsung dari sumber mata air yang berada di kawasan pegunungan. Medan yang terjal dan berbatu menjadi tantangan yang harus mereka hadapi setiap hari.
Setiap Hari Memikul Jurigen Menembus Pegunungan
Salah seorang warga, Jumhari, memulai aktivitasnya sejak pagi dengan menuju sumber mata air di tengah pegunungan.
Air yang diperoleh ditampung ke dalam beberapa jurigen untuk memenuhi kebutuhan minum, memasak, mandi hingga kebutuhan ternaknya.
Setelah penuh, jurigen dipikul di atas bahu sambil berjalan kaki sekitar lima kilometer menuju rumahnya.
Rutinitas tersebut harus dijalani setiap hari karena hingga kini wilayah tempat tinggalnya belum menikmati layanan air bersih maupun bantuan yang memadai.
“Ya setiap hari ke sini ambil air buat minum, buat sapi. Air dari pipa hanya sampai bawah jadi tidak bisa naik ke atas, belum ada bantuan. Harapannya ke depan bisa diberikan bantuan sampai ke atas supaya tidak repot ambil air lagi,” ujar Jumhari.
Bantuan Air Bersih Belum Menjangkau Seluruh Wilayah
Air yang berhasil dibawa pulang kemudian ditampung di dalam ember dan digunakan sehemat mungkin untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Meski pemerintah telah mulai menyalurkan bantuan air bersih menggunakan truk tangki, distribusinya masih belum menjangkau seluruh titik terdampak.
Beberapa kawasan di Desa Gunung Putri, terutama permukiman yang berada di dataran tinggi, masih belum menerima bantuan sehingga warga tetap bergantung pada sumber mata air alami.
BPBD Situbondo: 11 Ribu Jiwa Terdampak Krisis Air Bersih
Kepala Pelaksana BPBD Situbondo, Timbul Surjanto, mengatakan krisis air bersih akibat musim kemarau saat ini diproyeksikan telah berdampak pada sekitar 11 ribu jiwa.
Sebaran wilayah terdampak meliputi enam kecamatan dengan delapan desa yang mengalami kekurangan air bersih.
“Kami proyeksikan saat ini ada 11 ribu jiwa terdampak, tersebar di enam kecamatan dan delapan desa. Pada Agustus nanti kami akan mengoptimalkan dropping air bersih,” kata Timbul Surjanto.
BPBD Situbondo berencana meningkatkan distribusi air bersih selama puncak musim kemarau. Namun, warga di wilayah pegunungan berharap bantuan dapat menjangkau permukiman mereka agar tidak lagi harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan air bersih. (Fia)












