Nelayan Bejualan Pisang Demi Bertahan Hidup di Tengah Cuaca Ekstrem Situbondo

- Reporter

Rabu, 28 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang nelayan di Situbondo beralih berjualan pisang pada malam hari setelah cuaca ekstrem dan gelombang tinggi membuat aktivitas melaut terhenti. Kondisi ini memaksa nelayan mencari penghasilan alternatif demi memenuhi kebutuhan keluarga. (Fia Rahma/Liputansatu.id).

Seorang nelayan di Situbondo beralih berjualan pisang pada malam hari setelah cuaca ekstrem dan gelombang tinggi membuat aktivitas melaut terhenti. Kondisi ini memaksa nelayan mencari penghasilan alternatif demi memenuhi kebutuhan keluarga. (Fia Rahma/Liputansatu.id).

Situbondo – Cuaca ekstrem berupa angin kencang dan gelombang tinggi yang melanda perairan Selat Madura dalam beberapa pekan terakhir memaksa nelayan di pesisir Kabupaten Situbondo menghentikan aktivitas melaut. Demi menyambung hidup, banyak nelayan terpaksa banting setir mencari pekerjaan alternatif.
Laut yang biasanya menjadi tumpuan utama penghidupan kini berubah menjadi ancaman. Risiko kecelakaan akibat gelombang tinggi membuat nelayan memilih bertahan di darat meski berarti kehilangan sumber pendapatan harian.

Dari Laut ke Jalanan: Nelayan Berjuang di Tengah Keterbatasan

Tak sedikit nelayan yang kini terlihat berjualan di pinggir jalan, bekerja serabutan, hingga memanfaatkan jejaring keluarga untuk bertahan. Kondisi ini menjadi gambaran nyata rapuhnya ekonomi nelayan kecil saat cuaca tak bersahabat.
Salah satunya Pak Gondrong, nelayan asal Desa Kalbut, Situbondo. Ketika laut tak lagi memberi ruang, ia beralih menjadi pedagang pisang. Pisang tersebut didatangkan dari Pulau Sapudi, Madura, untuk kemudian dijual kembali di wilayah Situbondo.
“Saya sudah umur. Kalau kerja bangunan tidak sanggup. Sementara ini saya beli pisang dari Madura karena ada saudara, bisa utang dulu. Yang penting ada pemasukan buat keluarga,” ujarnya sambil menata pisang di atas sepeda motor.

Cuaca Buruk Berkepanjangan Tekan Ekonomi Nelayan

Para nelayan mengakui cuaca buruk merupakan risiko yang biasa mereka hadapi. Namun kali ini, durasi cuaca ekstrem yang berkepanjangan menjadi beban berat, terutama bagi nelayan tradisional yang menggantungkan hidup pada hasil tangkapan harian.
“Kalau cuaca buruk sebentar masih bisa ditahan. Tapi ini sudah lama, mau tidak mau kami harus cari cara lain supaya dapur tetap ngebul,” kata Pak Gondrong.

Aparat Imbau Nelayan Utamakan Keselamatan

Kepala Satuan Polisi Air dan Udara (Kasatpolairud) Polres Situbondo, AKP Gede Sukarmadiyasa, menegaskan pihaknya terus mengimbau nelayan agar tidak memaksakan diri melaut saat cuaca ekstrem.
“Keselamatan jiwa adalah yang utama. Kami minta nelayan mematuhi peringatan cuaca dari BMKG,” tegas AKP Gede.
Ia menambahkan, pembinaan terus dilakukan agar nelayan siap saat cuaca membaik. Nelayan diimbau menggunakan life jacket dan membawa alat komunikasi ketika kembali melaut.

Bagi nelayan Situbondo, banting setir bukan pilihan ideal, melainkan langkah darurat. Harapan mereka sederhana: cuaca segera membaik agar bisa kembali melaut dengan aman dan memperoleh penghasilan yang layak.
“Kami hanya ingin kembali ke laut seperti biasa, mencari rezeki dengan tenang,” pungkas Pak Gondrong. (Az)

Editor : Kief

Berita Terkait

BUMD RSM Tuban Siapkan Kelola Bus Simas Ganteng dan Toilet Premium, Masih Terkendala Perizinan
Penemuan Mayat Misterius di Perairan Bancar Tuban, Polisi Selidiki Identitas Korban
Polres Situbondo Turunkan Penyelam Periksa Pipa 400 Meter, Dugaan Pembuangan Limbah ke Laut Diselidiki
Diduga Bocor, Warung Miras di Tuban Kembali Tutup Sebelum Razia
Aksi Nekat Curi Hasil Panen Petani Tuban Berakhir di Pos Kamling Dusun Jembel
Bukan Kalpataru, Ini Harta Karun Tertua di Tuban yang Sudah Ada Sejak 500 SM
Reskrim dan Lantas Jadi Sorotan dalam Mutasi Besar Polres Tuban
Pengurus Baru IDI Melawi Resmi Dilantik, Siap Jawab Tantangan Kesehatan di Era Modern

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 21:26 WIB

BUMD RSM Tuban Siapkan Kelola Bus Simas Ganteng dan Toilet Premium, Masih Terkendala Perizinan

Senin, 22 Juni 2026 - 20:14 WIB

Penemuan Mayat Misterius di Perairan Bancar Tuban, Polisi Selidiki Identitas Korban

Senin, 22 Juni 2026 - 07:25 WIB

Polres Situbondo Turunkan Penyelam Periksa Pipa 400 Meter, Dugaan Pembuangan Limbah ke Laut Diselidiki

Minggu, 21 Juni 2026 - 06:47 WIB

Diduga Bocor, Warung Miras di Tuban Kembali Tutup Sebelum Razia

Sabtu, 20 Juni 2026 - 17:06 WIB

Bukan Kalpataru, Ini Harta Karun Tertua di Tuban yang Sudah Ada Sejak 500 SM

Berita Terbaru

Mobil pikap Isuzu Carry terbakar hebat di Jalan Raya Bulu–Jatirogo, Desa Latsari, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Peristiwa

Isuzu Carry Ludes Dilalap Api di Jalan Bulu–Jatirogo, Tuban

Senin, 22 Jun 2026 - 19:58 WIB

Razia miras di Tuban kembali diwarnai fenomena warung yang tutup sebelum petugas datang. Satpol PP menemukan puluhan botol arak dan minuman oplosan yang diduga siap edar, (Aji Swasto/Liputansatu.id).

Pemerintah

Diduga Bocor, Warung Miras di Tuban Kembali Tutup Sebelum Razia

Minggu, 21 Jun 2026 - 06:47 WIB