Situbondo – Kampung Merak di Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, memiliki keunikan yang jarang ditemukan di daerah lain. Kampung ini dijuluki sebagai “kampung sapi” karena jumlah populasi sapinya yang sangat besar, mencapai ribuan ekor. Berbeda dengan sistem peternakan di banyak tempat, di Kampung Merak, sapi-sapi dibiarkan berkeliaran bebas di alam terbuka tanpa kandang tertutup.
Setiap hari, sekitar 3.700 ekor sapi di kampung ini dilepasliarkan sejak pukul 06.30 WIB hingga sore hari di kawasan hutan Taman Nasional Baluran. Dengan luas sekitar 25.000 hektar, kawasan ini memberikan ruang yang cukup bagi sapi-sapi untuk mencari makan secara alami. Namun, meski dibiarkan berkeliaran bebas, sapi-sapi tersebut tetap kembali ke kandang masing-masing tanpa perlu diarahkan.
Peternakan Tradisional yang Unik
Salah satu hal menarik dari sistem peternakan di Kampung Merak adalah cara warga mengenali sapi mereka. Jika di banyak tempat ternak diberi tanda khusus seperti cap, kalung, atau nomor identifikasi, di Kampung Merak, para peternak mengandalkan daya ingat mereka sendiri.
“Kami sudah terbiasa mengenali sapi-sapi kami dari ciri-ciri fisiknya. Setiap sapi punya tanda alami yang berbeda, entah dari warna bulunya, bentuk tanduknya, atau perilakunya,” ujar Sukarman, salah satu peternak di Kampung Merak.
Tak hanya itu, sapi-sapi di kampung ini tidak akan masuk ke kandang lain selain kandangnya sendiri. Meski sehari penuh berkeliaran bersama kawanan lainnya, menjelang sore mereka secara naluriah akan pulang ke tempat asalnya.
Hidup Berdampingan dengan Alam
Keberadaan Kampung Merak yang berada di dalam zona pemanfaatan Taman Nasional Baluran membuat warga harus menjaga keseimbangan dengan alam. Sapi-sapi yang dilepas di kawasan hutan tetap diawasi secara bergantian oleh warga untuk memastikan tidak merusak ekosistem taman nasional yang kaya akan keanekaragaman hayati.
Taman Nasional Baluran sendiri dikenal dengan lanskap savananya yang mirip dengan Afrika. Dengan keberadaan ribuan sapi yang berkeliaran di antara padang rumput luas, pemandangan di Kampung Merak seolah menghadirkan suasana peternakan di benua hitam. Tak heran jika banyak wisatawan yang tertarik datang untuk melihat langsung kehidupan di kampung ini.
Potensi Wisata dan Ekonomi Kampung Merak
Keunikan Kampung Merak bukan hanya dari sistem peternakan tradisionalnya, tetapi juga dari potensi ekonomi dan pariwisatanya. Dengan jumlah ternak yang besar, sapi menjadi sumber penghasilan utama warga. Selain dijual ke berbagai daerah, kotoran sapi juga dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang bernilai ekonomi tinggi.
Di sisi lain, daya tarik wisata kampung ini semakin meningkat seiring dengan popularitas Taman Nasional Baluran. Banyak wisatawan yang datang tidak hanya untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga ingin melihat langsung bagaimana masyarakat lokal hidup berdampingan dengan alam dalam mengelola peternakan mereka.
Pemerintah daerah pun mulai melirik potensi ini dengan merancang program wisata edukasi berbasis peternakan. Jika dikelola dengan baik, Kampung Merak bisa menjadi destinasi wisata unik yang menawarkan pengalaman berbeda bagi pengunjung.
Dengan segala keunikannya, Kampung Merak di Situbondo menjadi contoh bagaimana masyarakat dapat mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan. Di tengah perkembangan zaman, kearifan lokal dalam beternak di kampung ini tetap bertahan, memberikan pelajaran berharga tentang harmoni antara manusia dan lingkungan.(Fia)
Editor : Mukhyidin Khifdhi












