Tuban – Karnaval budaya di Desa Wolutengah, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Minggu (14/09/2025), mendadak pecah gelak tawa. Bukan karena kostum yang aneh, melainkan aksi teatrikal salah satu grup yang memperagakan kejar-kejaran antara pemain judi dan aparat. Dalam atraksi itu, “pelaku” sempat dimasukkan ke mobil tahanan sebelum akhirnya “ditebus” keluarganya untuk dibebaskan.
Adegan yang dikemas seperti parodi itu sontak menjadi tontonan paling mencuri perhatian. Penonton berdesakan untuk menyaksikan, bahkan beberapa mengabadikannya lewat kamera ponsel.
Penonton Terhibur Sekaligus Tersindir
Inggit, salah seorang penonton, mengaku terhibur sekaligus kagum. Menurutnya, atraksi tersebut bukan sekadar lucu, tetapi menyimpan pesan mendalam.
“Itu hal yang sangat menarik, bisa jadi bentuk kritik bagi masyarakat,” ujarnya sambil tertawa.
Hal senada diungkapkan Haqi, penonton lain. Ia menilai, keberanian warga membalut kritik sosial dalam pertunjukan budaya merupakan wujud kreativitas yang patut diapresiasi.
“Mereka sangat kreatif,” ucapnya singkat.
Tak sedikit pula warga yang menilai, parodi semacam ini menjadi cara halus menyampaikan kritik tanpa menyinggung secara langsung. Dengan membungkusnya dalam seni dan hiburan, pesan yang disampaikan justru lebih mudah diterima.
Tema Budaya Tempo Dulu dan Masa Kini
Kepala Desa Wolutengah, Rasdan, menjelaskan karnaval tahun ini diikuti 16 regu peserta dan 5 regu kehormatan. Mengusung tema besar budaya tempo dulu dan masa kini, seluruh peserta ditantang menampilkan kreativitas yang menggabungkan unsur tradisi dengan realitas kehidupan masyarakat saat ini.
Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya ajang hiburan, tetapi juga sarana mengingat perjuangan para pendahulu sekaligus mempererat persatuan masyarakat.
“Diharapkan masyarakat bisa meneladani dan tidak melupakan budayanya, meskipun tetap mengikuti perkembangan zaman,” tegasnya.
Selain parodi perjudian, ada pula penampilan kelompok lain yang menampilkan tradisi tani, penggambaran perjuangan rakyat, hingga atraksi musik dan tari kreasi. Hal ini membuat suasana karnaval semakin meriah dengan ragam warna budaya.
Parodi Jadi Media Kritik Sosial
Atraksi bernuansa kritik sosial itu pun menambah warna dalam karnaval. Di balik gelak tawa penonton, terselip pesan moral mengenai fenomena judi yang masih terjadi di masyarakat.
Bagi sebagian warga, apa yang ditampilkan bukan hanya hiburan, melainkan bentuk sindiran yang mengingatkan agar masyarakat menjauhi praktik tersebut. “Parodi” menjadi bahasa universal yang mampu menjembatani antara seni, budaya, dan kritik sosial.
Karnaval sebagai Ruang Ekspresi Warga
Karnaval Desa Wolutengah tahun ini menjadi bukti bahwa ruang budaya desa masih relevan sebagai wadah ekspresi masyarakat. Warga tidak hanya melestarikan budaya tempo dulu, tetapi juga berani menafsirkan persoalan sosial dalam bentuk pertunjukan.
Dengan demikian, kegiatan tahunan ini bukan hanya menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya lokal, tetapi juga memperlihatkan kecerdasan masyarakat dalam menyampaikan aspirasi melalui cara yang kreatif, santun, sekaligus menghibur. (Az)
Editor : Kief












