Tuban — Jumlah korban jiwa dalam insiden keracunan di Lapas Kelas IIB Tuban bertambah. Setelah Sri Yuliya (24), kini Rafika (26), warga Bojonegoro yang juga merupakan warga binaan, meninggal dunia pada Selasa malam (13/05/2025). Penyebabnya diduga karena menenggak minuman dalam kemasan yang dicampur dengan pewangi pakaian.
Korban Bertambah, Lapas Awalnya Mengaku Hanya Satu yang Tewas
Sebelumnya, pihak Lapas Tuban hanya melaporkan satu napi perempuan yang meninggal. Namun, saat dikonfirmasi ulang oleh Liputansatu.id, terungkap bahwa ada dua warga binaan yang tewas dalam waktu berdekatan.
“Rafika meninggal pukul 23.42 WIB di RSUD dr. R. Koesma Tuban,” ujar Kasubsi Perawatan Lapas Tuban, Renaldy Caesar, pada Rabu (14/5/2025).
Pernyataan ini terkesan menunjukkan bahwa informasi awal yang sempat ditutupi atau belum sepenuhnya disampaikan kepada publik.
Satu Korban Masih Dirawat Intensif di RSUD Tuban
Selain dua napi yang meninggal, satu napi lainnya, Natali (29) asal Lamongan, masih dirawat secara intensif di rumah sakit yang sama. Ia telah menjalani tindakan medis berupa cuci lambung dan cuci darah untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuhnya.
Diduga Ramu Minuman Sendiri demi Efek Mabuk
Menurut Caesar, ketiga napi perempuan tersebut diduga meracik sendiri minuman berbahaya untuk mendapatkan efek mirip minuman keras. Hal ini terjadi karena peredaran minuman keras maupun narkoba di dalam lapas sangat ketat dan diawasi.
“Karena peredaran narkoba dan barang terlarang kami awasi dan tindak tegas, mereka mencari cara sendiri yang justru membahayakan nyawa mereka,” jelasnya.
Minuman yang dikonsumsi diduga dicampur dengan zat pewangi pakaian, yang sangat berbahaya bila tertelan.
Pihak RSUD Tegaskan Penanganan Maksimal
Direktur RSUD dr. R. Koesma Tuban, dr. Mohammad Masyhudi, memastikan bahwa tim medis telah memberikan penanganan maksimal kepada semua korban yang dirujuk dari Lapas.
“Kami akan berupaya semaksimal mungkin untuk menyelamatkan pasien,” tegasnya.
Pengawasan di Lapas Dipertanyakan Publik
Kasus ini memicu keprihatinan dan kritik dari masyarakat. Banyak pihak menyoroti lemahnya pengawasan terhadap akses warga binaan terhadap bahan-bahan kimia berbahaya.
Pihak Lapas Tuban mengaku tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan internal dan berjanji akan memperketat kontrol demi mencegah insiden serupa terulang.(Az)
Editor : Mukhyidin Khifdhi












