Surabaya– Program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah bukan sekadar inisiatif pendidikan, tetapi juga langkah strategis membangun karakter dan rasa percaya diri bagi anak-anak dari keluarga miskin.
Dalam Rapat Koordinasi Penguatan Ekonomi Desa Jawa Timur 2025 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Minggu (09/03/2025) malam, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 2009-2014 sekaligus Tim Formatur Sekolah Rakyat, M. Nuh, menegaskan bahwa nama “Sekolah Rakyat” dipilih bukan untuk merendahkan, melainkan untuk menanamkan tekad maju pada anak-anak kurang mampu.
“Mereka harus berani berkata: ‘Saya memang miskin, tetapi saya ingin maju.’ Ini adalah pendidikan yang membentuk mental kuat dan optimisme,” ujar M. Nuh.
Sekolah Rakyat akan menggunakan sistem asrama (boarding school) yang dinilai lebih efektif dalam membentuk karakter dan membangun kepercayaan diri dibandingkan sekolah biasa. Menurut M. Nuh, anak-anak dari keluarga miskin sering mengalami inferiority complex atau rasa rendah diri, yang dapat menghambat perkembangan mereka.
“Kita butuh pendekatan khusus agar mereka memiliki kepercayaan diri tinggi. Model sekolah biasa mungkin kurang efektif dalam membangun karakter seperti ini,” tambahnya.
Dalam jangka panjang, Sekolah Rakyat akan menjadi fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045. Dengan durasi pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi selama 16 tahun, lulusan Sekolah Rakyat diharapkan menjadi generasi yang siap bersaing secara global.
“Momentum ini sangat tepat. Jika kita tidak mulai sekarang, kita akan semakin tertinggal,” tegas M. Nuh.
Dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat, daerah, serta berbagai pemangku kepentingan, Sekolah Rakyat diharapkan menjadi solusi nyata bagi pendidikan anak-anak miskin dan mempercepat pencapaian visi Indonesia Emas 2045.(Ron)
Editor : Mukhyidin Khifdhi












