Tuban – Kelangkaan solar subsidi kembali dikeluhkan para sopir angkutan barang di Kabupaten Tuban dan Bojonegoro. Antrean kendaraan mengular di sejumlah SPBU sejak Sabtu (30/05/2026) hingga Senin (01/06/2026), menyebabkan aktivitas distribusi logistik dan hasil pertanian terganggu.
Hingga berita ini ditulis, pihak PT Pertamina Patra Niaga belum memberikan penjelasan resmi terkait penyebab antrean panjang yang terjadi di berbagai SPBU tersebut.
Antrean Solar Mengular Sejak Akhir Pekan
Berdasarkan pantauan di lapangan, antrean kendaraan berbahan bakar solar terlihat di sejumlah SPBU di Tuban maupun Bojonegoro. Mayoritas kendaraan yang mengantre merupakan truk pengangkut barang, pickup, hingga kendaraan logistik lainnya.
Kondisi ini sebenarnya telah terjadi sejak Sabtu lalu. Namun saat itu antrean sempat terurai setelah pasokan BBM dari mobil tangki tiba di SPBU.
Sayangnya, kondisi serupa kembali terjadi pada Senin siang sehingga membuat antrean kendaraan kembali memanjang.
Sopir Tunggu Lima Jam Lebih untuk Isi Solar
Sopyan, salah seorang sopir yang mengantre di SPBU Bektiharjo, mengaku harus menunggu sejak pagi hanya untuk mendapatkan solar subsidi.
Menurutnya, kendaraan yang ia kemudikan baru bisa masuk ke area SPBU setelah menunggu lebih dari lima jam.
“Ini rakyat kecil terus yang disusahkan. Mau angkut jagung kayak gini, ngisi solar pasti tersendat,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut sangat merugikan para sopir dan pelaku usaha kecil yang bergantung pada solar subsidi untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Antrean di Bogorejo Capai Dekat Koramil Merakurak
Pemandangan serupa juga terjadi di SPBU Bogorejo. Antrean kendaraan terlihat memanjang hingga mendekati kawasan Koramil Merakurak.
Darmin, salah seorang sopir yang ikut mengantre, mengatakan kelangkaan solar subsidi sudah dirasakan sejak beberapa hari terakhir.
Menurutnya, solar non-subsidi masih tersedia, namun harganya terlalu tinggi bagi para pekerja sektor transportasi dan logistik.
“Solar bersubsidi langka, kalau yang tidak bersubsidi banyak. Tapi buat kita para pekerja kasar begini beli yang tidak bersubsidi kalah di ongkos, tidak kuat harganya,” keluhnya.
Distribusi Barang Terhambat, Sopir Merugi
Kelangkaan solar tidak hanya menyebabkan antrean panjang, tetapi juga berdampak langsung terhadap produktivitas para sopir.
Darmin mengaku waktu kerja mereka terbuang hanya untuk mengantre BBM sehingga jumlah perjalanan yang biasanya dapat dilakukan dalam sehari menjadi berkurang.
“Rugi waktu, rugi biaya. Antrean lama begini harusnya bisa jalan dua rit malah hanya bisa jalan satu. Tentu sangat merugikan,” katanya.
Para sopir berharap pasokan solar subsidi segera kembali normal agar aktivitas distribusi barang dan hasil pertanian tidak semakin terganggu.
Pertamina Belum Beri Penjelasan
Sementara itu, hingga Senin sore, pihak PT Pertamina Patra Niaga belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab antrean panjang maupun dugaan kelangkaan solar subsidi di wilayah Tuban dan Bojonegoro.
Area Manager Communication, Relations, & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rehadi, juga belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi mengenai kondisi tersebut.
Masyarakat kini menunggu penjelasan resmi dari Pertamina terkait ketersediaan stok solar subsidi serta langkah yang akan dilakukan untuk mengatasi antrean panjang yang terjadi di sejumlah SPBU. (Az)












