Tuban – Warga Dusun Goreng, Desa Bulurejo, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, mengeluhkan banyaknya lalat yang diduga berasal dari kandang ayam di desa setempat. Kondisi tersebut disebut telah berlangsung sekitar tiga bulan terakhir dan semakin meresahkan karena mengganggu aktivitas sehari-hari hingga berdampak pada perekonomian warga.
Pedagang Buah Mengaku Rugi Akibat Serbuan Lalat
Salah seorang warga, Lisa, yang berprofesi sebagai pedagang buah, mengaku menjadi pihak yang paling terdampak. Lapak buah miliknya hampir setiap hari dipenuhi lalat sehingga membuat pembeli merasa tidak nyaman dan memilih tidak jadi berbelanja.
“Sejak ada kandang ayam sekitar tiga bulan lalu, lalat semakin banyak. Buah yang saya jual selalu dikerubungi lalat. Pembeli jadi tidak nyaman dan banyak yang memilih pergi,” ujarnya, Minggu (28/06/2026).
Lisa mengatakan dirinya harus mengeluarkan biaya tambahan setiap hari untuk membeli lem penangkap lalat. Menurutnya, pengeluaran tersebut semakin membebani usaha kecil yang dijalankannya.
“Sehari saya bisa menghabiskan sekitar 20 lembar lem lalat. Hasil jualan habis hanya buat beli lem lalat. Kalau terus seperti ini, kami yang kecil semakin kesulitan,” katanya.
Selain merugikan secara ekonomi, kondisi tersebut juga dikhawatirkan dapat memengaruhi kualitas dagangan karena lalat terus mengerubungi buah yang dijual.
Warga Khawatir Ganggu Kebersihan dan Kesehatan Lingkungan
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya. Mereka menilai banyaknya lalat tidak hanya mengganggu aktivitas usaha, tetapi juga mengancam kebersihan lingkungan karena serangga tersebut masuk ke rumah-rumah warga.
Lalat disebut menempel pada makanan, peralatan dapur, hingga ruang keluarga sehingga membuat warga merasa tidak nyaman. Mereka khawatir kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit apabila tidak segera ditangani.
Warga berharap pemerintah desa bersama instansi terkait segera melakukan pengecekan dan mencari solusi atas persoalan tersebut.
“Kami tidak anti usaha dan tidak menolak adanya peternakan. Tapi jangan hanya memikirkan kepentingan pengusaha. Dampak yang dirasakan warga juga harus diperhatikan,” ungkap seorang warga.
Menurut warga, setiap kegiatan usaha, termasuk peternakan ayam, semestinya tetap memperhatikan pengelolaan limbah dan sanitasi agar tidak menimbulkan gangguan bagi lingkungan sekitar.
Pemerintah Jadwalkan Pengecekan Lapangan
Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Pemerintah Desa Bulurejo terkait keluhan masyarakat tersebut belum membuahkan hasil. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan maupun keterangan resmi yang disampaikan.
Camat Rengel, Eko Wardono, mengatakan persoalan tersebut telah menjadi perhatian pemerintah dan saat ini sedang dijadwalkan pengecekan lapangan bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) serta unsur Forkopimka.
“Sudah mas, sedang diagendakan pengecekan lapangan dengan Dinas LHP, Dinas KP2P, Dinas PUPR, Dinas PMPTSP, Satpol PP Tuban dan Forkopimka,” ujar Eko.
Pengecekan tersebut diharapkan dapat memastikan sumber munculnya lalat sekaligus mengevaluasi apakah operasional peternakan telah memenuhi ketentuan pengelolaan lingkungan yang berlaku.
Masyarakat kini menunggu langkah nyata dari pemerintah desa maupun pemerintah daerah. Warga berharap hasil pengecekan lapangan dapat menghasilkan solusi yang adil bagi semua pihak, sehingga aktivitas peternakan tetap dapat berjalan tanpa mengorbankan kenyamanan, kebersihan lingkungan, kesehatan masyarakat, dan keberlangsungan usaha warga sekitar. (Az)