Tuban – Kasus Hanta virus yang mulai mendapat perhatian nasional belum ditemukan di Kabupaten Tuban. Meski begitu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Tuban meminta masyarakat tidak menganggap remeh ancaman penyakit yang ditularkan melalui tikus tersebut.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat sedikitnya 23 kasus konfirmasi Hantavirus ditemukan di Indonesia sejak 2024 hingga Mei 2026. Seluruh kasus yang terdeteksi diketahui merupakan jenis Seoul Virus. Dari jumlah tersebut, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia dengan tingkat fatalitas mencapai 13 persen.
Kasus Hantavirus di Indonesia tersebar di sembilan provinsi, di antaranya DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, hingga Kalimantan Barat. Kemenkes juga mencatat kasus terbanyak ditemukan di DKI Jakarta dan DIY.
Menanggapi kondisi tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban, Roikhan memastikan hingga kini belum ada laporan warga Tuban yang terpapar Hantavirus. Namun pihaknya tetap meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama dengan menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitar permukiman.
“Di Kabupaten Tuban sampai saat ini belum ada laporan kasus Hantavirus. Namun masyarakat tetap harus waspada dengan menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus agar tidak menjadi sumber penularan penyakit,” kata Roikhan kepada Liputansatu.id, Minggu (11/05/2026).
Penularan Bisa Terjadi Saat Bersihkan Gudang dan Loteng
Roikhan menjelaskan, penularan Hantavirus berbeda dengan penyakit lain yang dibawa nyamuk. Virus tersebut menyebar melalui partikel urin, feses, maupun air liur tikus yang mengering lalu terhirup manusia.
Menurutnya, risiko penularan cukup tinggi saat seseorang membersihkan area tertutup yang lama tidak digunakan, seperti gudang, loteng, hingga bangunan kosong yang menjadi sarang tikus.
“Penularannya bisa terjadi saat seseorang membersihkan area yang terdapat kotoran tikus tanpa prosedur yang aman. Karena itu masyarakat harus berhati-hati saat membersihkan gudang, loteng, maupun bangunan lama,” imbuhnya.
Kemenkes RI juga menyebut sejumlah aktivitas memiliki risiko lebih tinggi terhadap paparan Hantavirus, seperti petugas kebersihan, pekerja konstruksi, pengendali hama, petani, hingga aktivitas luar ruangan seperti berkemah dan mendaki gunung. Risiko tersebut meningkat karena adanya kontak dengan debu atau area yang terkontaminasi ekskresi tikus.
Gejala Awal Mirip Flu, Bisa Berujung Gangguan Paru-Paru
Roikhan menambahkan, gejala awal Hanta virus Pulmonary Syndrome (HPS) biasanya ditandai demam, tubuh lemas, serta nyeri otot di bagian paha, punggung, bahu, dan panggul. Dalam kondisi lebih lanjut, penderita dapat mengalami batuk hingga sesak napas akibat gangguan pada paru-paru.
Selain HPS, beberapa kasus Seoul Virus di Indonesia juga dilaporkan memunculkan gejala Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), seperti sakit kepala, nyeri badan, tubuh lemas, hingga gangguan ginjal ringan sampai berat.
Meski mulai menjadi perhatian publik, Kemenkes memastikan kasus Hantavirus yang ditemukan di Indonesia sejauh ini belum menunjukkan penularan antarmanusia seperti Andes Virus yang sempat ramai diberitakan pada kasus kapal pesiar MV Hondius.
Dinkes Imbau Warga Jangan Sembarangan Bersihkan Kotoran Tikus
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Tuban mengimbau masyarakat untuk menutup akses masuk tikus ke dalam rumah, menjaga kebersihan makanan dan sampah, serta menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang diduga terkontaminasi kotoran tikus.
Selain itu, warga diminta tidak langsung menyapu kotoran tikus dalam kondisi kering. Pembersihan disarankan diawali dengan menyemprotkan cairan disinfektan atau pemutih agar partikel virus tidak beterbangan di udara.
Dinkes berharap masyarakat tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama dengan menjaga sanitasi lingkungan rumah agar tidak menjadi habitat tikus yang berpotensi membawa penyakit. (Az)












