Tuban – Serangan hama tikus kembali mengancam lahan pertanian di Kabupaten Tuban. Di Desa Wolutengah dan Gaji, Kecamatan Kerek, sedikitnya 500 petani kini menghadapi ancaman gagal panen setelah tanaman jagung mereka diserang tikus.
Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Anggota Komisi III DPRD Tuban, Lukmanul Hakim. Menurutnya, serangan hama tikus tidak bisa dipandang sebagai persoalan biasa karena dampaknya langsung menyentuh produksi pertanian dan pendapatan petani.
Bukan Sekadar Hama, Produksi Petani Terancam
Lukmanul mengatakan serangan tikus pada tanaman jagung, terutama ketika masih berusia muda, berpotensi mengganggu hasil produksi.
“Dampaknya langsung dirasakan petani dan bisa mengganggu hasil produksi pertanian,” ujarnya kepada Liputansatu.id, Jumat (21/08/2026).
Karena itu, menurutnya, pemerintah perlu segera hadir melakukan penanganan secara terukur. Dinas terkait dinilai perlu memetakan wilayah yang terdampak agar pengendalian tidak dilakukan secara terpisah-pisah.
Ia menilai penanganan hama tikus membutuhkan langkah yang terkoordinasi, mulai dari pemetaan wilayah, pengendalian hingga pendampingan kepada petani.
“Penanganan hama tikus secara sporadis selain kurang maksimal, dengan masa perkembangbiakan tikus yang sangat cepat akan membuat penanganan sebelumnya menjadi tidak efektif. Dan ini hanya akan membuang-buang anggaran saja,” katanya.
Lukman berharap pemerintah segera mengambil langkah pengendalian sebelum serangan semakin meluas dan kerusakan tanaman semakin parah.
500 Petani di Wolutengah dan Gaji Terdampak
Kepala Desa Wolutengah, Rasdan, menyampaikan serangan tikus terjadi hampir merata di lahan pertanian sisi selatan desa.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh petani Wolutengah. Lahan pertanian milik warga Desa Gaji juga ikut terdampak.
“Kisaran 500 petani dari Desa Wolutengah dan Gaji yang lahannya diserang tikus,” ujar Rasdan.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa serangan hama kali ini bukan persoalan pada beberapa petak sawah saja. Jika tidak segera dikendalikan, ancaman kerugian dapat meluas seiring tanaman memasuki fase pertumbuhan.
Sudah Digerdal Sejak Juni, Tikus Kembali Menyerang
Persoalan hama tikus sebenarnya bukan baru terjadi kali ini.
Keluhan serupa telah muncul sejak Juni 2026. Saat itu, Pemerintah Kabupaten Tuban melalui Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP2P) telah melakukan gerakan pengendalian atau gerdal tikus.
Namun, serangan kembali terjadi di Wolutengah dan Gaji.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pengendalian yang telah dilakukan sebelumnya. Sebab, ketika serangan kembali muncul, petani kembali harus menghadapi ancaman kerusakan tanaman.
Penyuluh Pertanian Lapangan Unit Pelayanan Teknis Daerah (PPL-UPTD) Kecamatan Kerek, Sunarto, mengatakan saat ini pengendalian masih dilakukan secara swadaya oleh para petani.
Setelah rodentisida tersedia, pengendalian akan dilakukan secara bersama-sama.
“Ini sekarang petani masih melakukan pengendalian tikus secara swadaya,” ujarnya.
Petani Tak Bisa Terus Mengandalkan Swadaya
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa petani masih menjadi pihak yang berada di garis depan menghadapi serangan hama, sementara ancaman gagal panen terus membesar.
Bagi petani, persoalannya bukan sekadar bagaimana membasmi tikus hari ini. Pengendalian yang tidak dilakukan secara serentak dan menyeluruh berisiko membuat serangan kembali terjadi.
Karena itu, langkah pemerintah kini ditunggu. Bukan hanya berupa tindakan sesaat ketika serangan sudah meluas, tetapi pengendalian yang terencana, terkoordinasi dan mampu memutus siklus perkembangbiakan hama. (Az)












