Tuban – Ramainya pemberitaan influenza A di media, Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Tuban sebut kasus tersebut masih nihil. Kendati demikian, masyarakat diminta untuk tetap waspada dan mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul naiknya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan influenza-like illness (ILI) dalam beberapa bulan terakhir.
Plt. Kepala Dinkes P2KB Tuban Roikan mengatakan, hingga kini belum ada laporan kasus spesifik Influenza A di Kabupaten Tuban. Namun, ia menegaskan, kepastian diagnosis influenza tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan gejala, melainkan memerlukan pemeriksaan laboratorium, seperti tes molekuler RT-PCR atau metode diagnostik lain yang telah tervalidasi.
“Untuk memastikan diagnosis influenza diperlukan pemeriksaan laboratorium menggunakan metode dan alat deteksi, seperti pemeriksaan molekuler atau RT-PCR,” ujar Roikan.
Berdasarkan laporan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons Wabah, kasus ISPA dan ILI tercatat meningkat dalam tiga bulan terakhir. Meski demikian, tren kasus secara keseluruhan masih relatif stabil dan berada dalam pola musiman. Kondisi ini tetap perlu dipantau agar potensi penularan dapat segera diantisipasi.
ISPA dan ILI memiliki gejala yang mirip dengan influenza dan dapat disebabkan oleh virus, bakteri, maupun mikroorganisme lain. Gejala ISPA antara lain batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan demam. Sementara itu, ILI ditandai demam minimal 38 derajat Celsius disertai batuk, dengan gejala yang muncul dalam waktu tidak lebih dari 10 hari.
Anak-anak, terutama balita dan mereka yang berusia di bawah dua tahun, termasuk kelompok yang paling rentan mengalami influenza. Meski demikian, Influenza A tetap dapat menyerang semua kelompok usia.
“Risiko pada anak lebih menonjol karena sistem imunnya masih berkembang, saluran napas lebih kecil, paparan di lingkungan anak cukup tinggi, serta kekebalan terhadap strain influenza belum banyak terbentuk,” jelas Roikan.
Influenza A dan ISPA umumnya menular melalui droplet atau partikel pernapasan yang keluar saat penderita batuk, bersin, berbicara, atau bernapas. Jika terlambat ditangani, influenza dapat memicu berbagai komplikasi, mulai dari pneumonia, dehidrasi, infeksi telinga, perburukan asma atau penyakit kronis, hingga ensefalopati. Penyakit ini juga berisiko memperburuk kondisi pasien dengan asma, penyakit jantung, diabetes, atau penyakit paru kronis.
Untuk memutus rantai penularan, Dinkes mengajak masyarakat memperkuat perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Langkah sederhana dapat dimulai dengan rajin mencuci tangan menggunakan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin, menjaga kebersihan lingkungan, memastikan sirkulasi udara tetap baik, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta berolahraga secara rutin.
Vaksinasi, penggunaan masker saat sakit atau berada di lingkungan berisiko, serta pembatasan kontak dengan kelompok rentan juga dianjurkan. Masyarakat yang mengalami gejala pernapasan sebaiknya menghindari kerumunan dan ruang tertutup untuk mencegah penularan kepada orang lain. Pemeriksaan ke fasilitas kesehatan perlu segera dilakukan apabila muncul tanda bahaya, seperti sesak napas, demam tinggi berkepanjangan, kejang, penurunan kesadaran, atau kondisi yang terus memburuk. (Az/Kiev)
Editor : Mukhyidin Khifdi












