Promo
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadan 1447 H 2026 M Pemerintah Kabupaten Tuban

Fly Ash PLTU Tanjung Awar-Awar Tekan Sopir Pedel Tuban, Harga Murah Picu Persaingan Timpang

- Reporter

Sabtu, 17 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Masuknya limbah batu bara dari PLTU Tanjung Awar-awar ke pasar material urukan turunkan permintaan pedel, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Masuknya limbah batu bara dari PLTU Tanjung Awar-awar ke pasar material urukan turunkan permintaan pedel, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Tuban – Nasib pilu kini menggelayuti puluhan sopir truk pengangkut pedel atau material urukan batu kapur di Kabupaten Tuban. Hampir dua bulan terakhir, dapur para sopir nyaris tak mengepul akibat sepinya pesanan, Jumat (16/01/2026).

Material Limbah PLTU Jadi Pesaing Pedel Batu Kapur

Kondisi ini dipicu maraknya penggunaan limbah bekas pembakaran batu bara berupa fly ash–bottom ash (FABA) dari PLTU Tanjung Awar-awar, Kecamatan Jenu, yang kini dimanfaatkan sebagai material urukan pengganti pedel batu kapur. Harga yang jauh lebih murah membuat material tradisional perlahan ditinggalkan konsumen.
Limbah batu bara tersebut membanjiri pasar dan menciptakan persaingan harga yang dinilai tidak seimbang. Para sopir pedel batu kapur pun semakin terhimpit.

Pendapatan Sopir Anjlok Drastis

Junaidi (45), anggota Paguyuban Sopir Kidul asal Tuban, mengaku penghasilannya turun tajam sejak limbah PLTU diperjualbelikan secara luas oleh warga di wilayah ring satu.
“Dulu sehari bisa jalan dua sampai tiga dump truk. Sekarang satu kali jalan saja susah, itu pun tidak setiap hari ada pesanan,” keluh Junaidi.

Nasib serupa dialami Suprapto (47), sopir asal Kecamatan Merakurak. Ia menilai perbedaan harga yang terjadi saat ini sudah masuk kategori persaingan tidak sehat.
“Selisih harganya terlalu jauh. Konsumen pasti pilih yang murah,” ujarnya.
Berdasarkan data di lapangan, harga material limbah batu bara berada di kisaran Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per dump truk, sementara pedel batu kapur dijual Rp400 ribu hingga Rp450 ribu per dump truk.

Material Gratis Bikin Sopir Luar Jenu Kalah Saing

Menurut Suprapto, murahnya harga limbah batu bara tak lepas dari kebijakan perusahaan yang memperbolehkan warga sekitar PLTU memperoleh material tersebut secara gratis.
“Mereka cuma bayar alat berat dan truk sekitar Rp60 ribu sampai Rp70 ribu. Kami sopir luar Jenu harus beli pedel dulu baru dijual. Jelas kalah jauh,” tegasnya.
Ia menilai kondisi ini membuat ruang gerak sopir pedel batu kapur di luar wilayah Jenu semakin sempit dan terancam kehilangan mata pencaharian.

PLTU Akui Kebijakan Pengambilan Limbah

Menanggapi keluhan tersebut, Assistant Manager SDM, Umum, dan CSR PLTU Tanjung Awar-awar, Bilal Joko Suratno, membenarkan adanya kebijakan pengambilan limbah material batu bara oleh desa sekitar.
Namun, ia menegaskan kebijakan itu merupakan bagian dari kerja sama perusahaan dengan desa-desa yang telah menjalin nota kesepahaman (MoU).
“Desa yang sudah MoU bisa mengambil limbah material batu bara secara gratis, hanya membayar ongkos gendong truk dan alat berat. Biaya itu masuk ke sopir truk,” jelas Bilal.
Terkait keluhan harga jual yang dinilai merusak pasar, pihak PLTU enggan memberikan komentar lebih jauh dan menyarankan konfirmasi langsung kepada sopir pengangkut limbah di lapangan.

Sopir Harap Intervensi Pemerintah Daerah

Sementara itu, puluhan sopir yang tergabung dalam Paguyuban Sopir Kidul hanya bisa berharap adanya kebijakan dari pemerintah daerah atau pihak terkait untuk menata kembali mekanisme distribusi dan harga material urukan.
Mereka khawatir, jika kondisi ini terus dibiarkan, pedel batu kapur akan sepenuhnya tersingkir dan para sopir kehilangan sumber penghidupan.
“Kami cuma minta keadilan harga. Kalau terus begini, kami mau makan apa? Konsumen lari semua,” pungkas Suprapto. (Az)

Editor : Kief

Berita Terkait

19 Dapur MBG Disuspend, Pemkab Situbondo Minta Disikapi Sebagai Evaluasi
Jelang Operasi Patuh Kapuas 2026, Polres Melawi Bidik Balap Liar dan Knalpot Brong
Modus Lowongan Kerja di Pabrik Semen, Warga Tuban Rugi Rp54 Juta
Gerebek Lokasi Es Moni, Satpol PP Tuban Curiga Ada Kebocoran Informasi
Lapangan Kerja Terbatas, 73 Warga Tuban Pilih Merantau ke Hong Kong dan Taiwan
Geger! Bayi Laki-laki Ditemukan Tak Bernyawa Dalam Tas Kondangan di Tuban
DPRD Tuban Minta Evaluasi Debu Klinker SBI yang Dikeluhkan Warga
Bangunan SDN Kuthorejo 3 Tuban Roboh, Dinas Pendidikan Pastikan Tidak Ada Korban

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 16:35 WIB

19 Dapur MBG Disuspend, Pemkab Situbondo Minta Disikapi Sebagai Evaluasi

Jumat, 5 Juni 2026 - 13:43 WIB

Jelang Operasi Patuh Kapuas 2026, Polres Melawi Bidik Balap Liar dan Knalpot Brong

Jumat, 5 Juni 2026 - 00:36 WIB

Modus Lowongan Kerja di Pabrik Semen, Warga Tuban Rugi Rp54 Juta

Kamis, 4 Juni 2026 - 19:46 WIB

Gerebek Lokasi Es Moni, Satpol PP Tuban Curiga Ada Kebocoran Informasi

Kamis, 4 Juni 2026 - 14:02 WIB

Geger! Bayi Laki-laki Ditemukan Tak Bernyawa Dalam Tas Kondangan di Tuban

Berita Terbaru

Tersangka kasus dugaan penipuan dengan modus menjanjikan pekerjaan di PT Swabina Gatra Rembang diamankan di Polsek Jatirogo, Tuban. Polisi turut menyita sejumlah barang bukti berupa training card, sertifikat kompetensi, bukti transfer, serta perlengkapan kerja yang diduga digunakan untuk meyakinkan korban, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Hukum Kriminal

Modus Lowongan Kerja di Pabrik Semen, Warga Tuban Rugi Rp54 Juta

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:36 WIB

Advertisement
Promo Shopee
Berita Terbaru Hari Ini LiputanSatu.id
Ilustrasi LiputanSatu
Berita Tuban Terkini LiputanSatu.id
Gambar Berita LiputanSatu
Kabar Tuban Hari Ini - Klik Selengkapnya di LiputanSatu.id