LUMAJANG, JAWA TIMUR – Kabupaten Lumajang memasuki musim penghujan dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi, termasuk tanah longsor, banjir genangan, dan banjir lahar dari Gunung Semeru. Ancaman ini menjadi fokus utama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, mengingat lokasi geografis yang rentan terhadap dampak curah hujan tinggi dan aktivitas vulkanik.
BPBD Lumajang mencatat empat kecamatan utama yang berisiko tinggi, yaitu Senduro, Candipuro, Pronojiwo, dan Pasirian. Wilayah ini berada di jalur aliran lahar Semeru, di mana material vulkanik dapat terbawa hujan deras ke sungai-sungai sekitar. Status Gunung Semeru yang saat ini berada pada Siaga Level 3 menambah urgensi dalam kesiapan mitigasi bencana.
Langkah Antisipasi Bencana Hidrometeorologi oleh BPBD Lumajang
BPBD Lumajang telah meningkatkan sistem mitigasi, termasuk pengaktifan posko siaga di wilayah-wilayah strategis. Relawan dan tim tanggap darurat ditempatkan untuk melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi cuaca dan aliran sungai.
“Kami terus berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau curah hujan dan kondisi cuaca terkini. Selain itu, masyarakat kami latih agar lebih siap menghadapi bencana yang mungkin terjadi,” ujar Kepala BPBD Lumajang.
Selain pengawasan, BPBD juga telah memperkuat jalur evakuasi, membangun tanggul sementara, dan menyediakan alat berat untuk mengantisipasi penyumbatan aliran sungai akibat material vulkanik.
Peringatan BMKG tentang Potensi Bencana
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan curah hujan tinggi di Jawa Timur, termasuk Lumajang, akan terus berlangsung hingga awal tahun mendatang. Hal ini meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi, terutama di daerah-daerah rawan seperti perbukitan dan bantaran sungai.
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai fenomena cuaca ekstrem yang dapat terjadi sewaktu-waktu, seperti hujan lebat disertai angin kencang. BPBD mengimbau warga untuk tetap memantau informasi terkini dan melaporkan gejala-gejala bencana sejak dini.
Potensi Bencana Hidrometeorologi di Kabupaten Lumajang
- Tanah Longsor: Rawan terjadi di daerah perbukitan dengan struktur tanah tidak stabil.
- Banjir Genangan: Berpotensi melanda kawasan permukiman dengan sistem drainase yang buruk.
- Banjir Lahar: Ancaman serius di jalur aliran sungai yang terhubung langsung dengan Gunung Semeru.
Selain itu, beberapa lokasi di Lumajang juga menghadapi ancaman abrasi yang dapat memperparah kerusakan selama musim hujan berlangsung.
Edukasi dan Imbauan untuk Masyarakat
BPBD Lumajang mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan melalui pelatihan mitigasi bencana. Warga dianjurkan menyiapkan tas siaga yang berisi kebutuhan darurat seperti makanan, dokumen penting, dan obat-obatan. Masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai diminta untuk menghindari aktivitas berisiko saat hujan deras berlangsung.
“Kesiapsiagaan masyarakat adalah kunci dalam mengurangi dampak bencana. Kami terus memberikan edukasi dan pendampingan kepada warga di daerah rawan,” tambah Kepala BPBD.
Melalui langkah-langkah antisipasi yang komprehensif, Kabupaten Lumajang berusaha menghadapi tantangan musim penghujan dengan kesiapan penuh. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait menjadi pondasi utama untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.
Dengan koordinasi yang baik dan partisipasi aktif masyarakat, diharapkan dampak bencana dapat diminimalkan. Kesiapan menghadapi banjir lahar Gunung Semeru dan bencana lainnya di Lumajang menjadi contoh penting dalam penanggulangan bencana di wilayah rawan.
Editor : Agus Susanto












