Tim SAR Berpacu dengan Waktu
Lumajang – Aktivitas pendakian Gunung Semeru berubah menjadi situasi darurat ketika erupsi terjadi pada Rabu (19/11/2025) malam. Sebanyak 187 pendaki dilaporkan masih berada di area perkemahan Ranu Kumbolo, membuat tim SAR gabungan harus bergerak cepat melakukan koordinasi dan penyelamatan.
Informasi dari Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menyebutkan, ratusan pendaki itu terdiri dari:
• 129 pendaki
• 1 petugas
• 2 SAVER
• 24 PPGST
• 25 porter
• 6 anggota Kementerian Pariwisata
Mereka tengah berada di area perkemahan ketika Semeru melontarkan abu vulkanik pekat setinggi 2.000 meter ke arah utara dan barat laut. Suhu dingin, jarak pandang terbatas, dan minimnya akses komunikasi membuat para pendaki tidak bisa segera turun.
Sejumlah laporan internal TNBTS menyebutkan sebagian pendaki memilih bertahan di tenda demi menghindari paparan abu. Sementara porter dan SAVER menjaga perimeter jalur dari potensi guguran material.
Tim SAR Bergerak Malam Hari: Koordinasi di Ranupani
Sekitar pukul 23.00 WIB, tim rescue dari Pos SAR Jember tiba di Pos Pendakian Ranupani. Fokus awal adalah memastikan keselamatan seluruh pendaki dan menentukan jalur aman yang memungkinkan evakuasi turun.
Koordinasi intensif dilakukan dengan TNBTS untuk:
• Mengetahui posisi pasti setiap kelompok pendaki
• Mengecek kondisi logistik pendaki (air, makanan, perlengkapan)
• Menilai risiko debu vulkanik dan potensi guguran
• Menentukan titik jemput dan rute evakuasi
Salah satu tantangan terbesar adalah akses menuju Oro-oro Ombo dan Ranu Kumbolo yang berada pada ketinggian dan rawan paparan abu.
Kondisi Pendaki: Logistik Cukup, Namun Cuaca Buruk Jadi Kendala
Dari laporan TNBTS di lokasi, logistik pendaki relatif aman, namun cuaca dingin ekstrem dan paparan abu mengancam kondisi kesehatan mereka. Beberapa pendaki dilaporkan mengalami iritasi mata dan sesak napas ringan akibat abu vulkanik.
Porter dan pemandu lokal menjadi kekuatan utama menjaga moral dan keselamatan pendaki, memastikan mereka tetap berada di jalur aman.
Di sisi lain jalur pendakian, tim SAR gabungan merespons laporan warga yang mengalami luka bakar di Pronojiwo dan Candipuro. Evakuasi dilakukan estafet dini hari dengan situasi medan penuh material vulkanik.
Erupsi terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi hampir 17 menit, menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup signifikan.
SAR Siapkan Dua Skenario Evakuasi Pendaki
Mengacu pada kondisi lapangan dan laporan PVMBG, tim SAR menyiapkan dua skenario evakuasi:
• Evakuasi Mandiri Terbimbing
Pendaki diarahkan turun secara berkelompok menuju Ranupani dengan pengawasan porter dan tim TNBTS apabila kondisi aman.
• Penjemputan Terbatas oleh Tim SAR
Dilakukan jika aktivitas vulkanik meningkat atau jarak pandang terlalu rendah. Namun opsi ini berisiko tinggi karena jalur sempit, curam, dan terpapar abu.
Hingga Kamis dini hari, skenario masih menunggu perkembangan aktivitas Semeru.
Ancaman Vulkanik Masih Tinggi
PVMBG memberikan peringatan keras kepada masyarakat dan pendaki untuk tidak berada dalam radius 8 km dari kawah serta menghindari Besuk Kobokan hingga 20 km ke arah tenggara. Potensi awan panas dan guguran lava masih sangat mungkin terjadi.
Sejumlah relawan dan tim medis disiagakan di Ranupani dan titik-titik strategis lain. Semua berharap penurunan aktivitas vulkanik terjadi sehingga proses evakuasi pendaki bisa berlangsung aman.
Sementara itu, keluarga pendaki di berbagai daerah mulai mencari kabar mengenai kondisi kerabat mereka. TNBTS memastikan seluruh pendaki dalam kondisi terpantau dan tidak ada laporan korban di area perkemahan.
Operasi SAR masih berlangsung dan akan terus diperbarui sesuai perkembangan aktivitas Gunung Semeru. (Ron)
Editor : Kief












