Tuban – Gelombang pasang setinggi 1 hingga 1,5 meter menghantam kawasan pesisir Kelurahan Karangsari, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Sabtu (06/06/2026) siang. Terjangan ombak mengakibatkan dua kapal nelayan mengalami kerusakan cukup parah dan memaksa banyak nelayan membatalkan aktivitas melaut.
Peristiwa tersebut terjadi di tengah meningkatnya tinggi gelombang laut yang telah dirasakan nelayan dalam beberapa hari terakhir. Selain merusak kapal, kondisi cuaca laut yang kurang bersahabat juga membuat aktivitas penangkapan ikan terganggu.
Dua Kapal Nelayan Rusak Diterjang Gelombang Pasang
Salah seorang nelayan, Widodo, mengatakan terdapat dua kapal nelayan yang mengalami kerusakan setelah dihantam gelombang pasang.
“Ini kapal milik Pak Subeki hancur tersapu gelombang, punya Pak Edi Sukira juga,” ujarnya.
Menurutnya, gelombang yang datang secara terus-menerus membuat kapal yang berada di tepian pantai tidak mampu bertahan sehingga mengalami kerusakan pada sejumlah bagian.
Pasca kejadian, warga bersama para nelayan langsung bergotong royong melakukan evakuasi terhadap kapal yang terdampak.
Mereka berupaya menarik kapal ke tepian pantai agar tidak semakin terseret ombak dan terhindar dari risiko tenggelam. Selain itu, langkah tersebut dilakukan agar kerusakan yang terjadi tidak semakin parah dan kapal dapat segera diperbaiki.
Suasana evakuasi berlangsung di tengah kondisi ombak yang masih cukup tinggi dan terus menghantam garis pantai.
Ombak Tinggi Paksa Banyak Nelayan Membatalkan Pelayaran
Nelayan lainnya, Kasmiadi, mengatakan gelombang tinggi yang terjadi dalam tiga hari terakhir telah membuat banyak nelayan memilih tidak melaut.
Bahkan, sejumlah nelayan yang sempat bersiap berangkat sejak dini hari terpaksa kembali ke daratan karena kondisi laut dinilai tidak aman.
“Subuh tadi banyak yang sudah mau berangkat, tapi akhirnya kembali lagi karena ombak tinggi,” ujarnya.
Kasmiadi mengaku selama ini biasanya mencari ikan di perairan sekitar 5 hingga 10 mil dari garis pantai. Namun, kondisi gelombang yang tinggi membuat para nelayan lebih memilih mengutamakan keselamatan.
Menurutnya, melaut saat cuaca buruk bukan hanya meningkatkan risiko kecelakaan, tetapi juga belum tentu memberikan hasil tangkapan yang sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan.
Kasmiadi menjelaskan kondisi seperti ini lazim terjadi saat memasuki musim timuran yang identik dengan cuaca kering dan gelombang laut yang lebih tinggi.
“Sekarang ini musim timuran, biasanya memang terjadi setiap kemarau. Kalau waktu penghujan nelayan menyebutnya baratan,” katanya.
Meski bukan fenomena baru, musim timuran tetap menjadi tantangan tersendiri bagi nelayan karena dapat membatasi aktivitas melaut selama beberapa hari.
BMKG Prediksi Gelombang Sedang Bertahan Hingga Dua Hari ke Depan
Kepala BMKG Kelas III Tuban, Mochammad Nur, mengatakan peningkatan tinggi gelombang masih berpotensi terjadi dalam dua hari ke depan.
“Ada sekira peningkatan tinggi gelombang dalam kategori sedang setinggi 1,25 sampai 2,5 meter,” ujar Nur.
Menurutnya, kondisi tersebut masih perlu diwaspadai terutama oleh nelayan tradisional dan pengguna jasa transportasi laut yang beraktivitas di perairan sekitar Tuban.
Nur menjelaskan tinggi rendahnya gelombang laut dipengaruhi oleh sejumlah faktor alam. Di antaranya kecepatan dan durasi angin yang bertiup di atas permukaan laut, kondisi topografi dasar laut, serta pengaruh gravitasi bumi dan bulan yang menyebabkan pasang surut air laut.
Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan perubahan kondisi perairan dalam waktu relatif singkat, terutama saat memasuki musim kemarau.
Selain gelombang tinggi, masyarakat juga mulai merasakan fenomena suhu udara yang lebih dingin pada malam hingga dini hari.
Suhu Dingin Diperkirakan Berlanjut Hingga Puncak Musim Kemarau
Menurut BMKG, suhu udara minimum di wilayah pesisir Tuban umumnya berkisar antara 25 hingga 27 derajat Celsius. Namun dalam beberapa waktu terakhir suhu udara malam hari turun hingga kisaran 21 sampai 25 derajat Celsius.
“Kalau melihat dari prakiraan musim yang ada, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada bulan Juli dan Agustus. Suhu dingin ini berpotensi terus berlangsung hingga puncak musim kemarau tersebut,” jelas Nur.
BMKG Minta Nelayan Pantau Cuaca Sebelum Berlayar
Menyikapi potensi gelombang tinggi yang masih terjadi, BMKG mengimbau para nelayan untuk aktif memantau informasi cuaca dan kondisi perairan melalui kanal resmi yang tersedia.
Selain itu, nelayan juga diminta memastikan kondisi kapal dan perlengkapan keselamatan dalam keadaan layak sebelum berangkat melaut.
“Sebelum berangkat berlayar pastikan kembali kelayakan kapal, fungsi alat keselamatan, serta kesiapan fisik awak kapal,” imbau Nur.
Dengan masih adanya potensi gelombang sedang hingga dua hari ke depan, para nelayan di pesisir Tuban diharapkan meningkatkan kewaspadaan guna menghindari risiko kecelakaan laut maupun kerugian yang lebih besar. (Az)