Promo
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadan 1447 H 2026 M Pemerintah Kabupaten Tuban

Janji 6 Tahun Tak Kunjung Terwujud, Tukang Becak dan Pedagang Kebonsari Geruduk DPRD Tuban

- Reporter

Selasa, 2 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ratusan tukang becak dan pedagang Terminal Wisata Kebonsari menggelar aksi unjuk rasa di depan DPRD Tuban, Selasa (02/06/2026). Massa menuntut penghapusan operasional shuttle serta menagih janji pemerintah yang dinilai belum terealisasi selama bertahun-tahun, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Ratusan tukang becak dan pedagang Terminal Wisata Kebonsari menggelar aksi unjuk rasa di depan DPRD Tuban, Selasa (02/06/2026). Massa menuntut penghapusan operasional shuttle serta menagih janji pemerintah yang dinilai belum terealisasi selama bertahun-tahun, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Tuban – Ratusan tukang becak dan pedagang Terminal Wisata Kebonsari menggeruduk Gedung DPRD Tuban, Selasa (02/06/2026). Mereka datang untuk menagih janji yang selama bertahun-tahun dinilai tak kunjung direalisasikan oleh Pemerintah Kabupaten Tuban terkait penataan transportasi wisata dan keberadaan bus shuttle.
Aksi tersebut diwarnai long march menggunakan becak dari Terminal Wisata Kebonsari menuju Bundaran Patung Tuban. Massa juga membentangkan spanduk protes, berorasi, hingga membawa replika keranda mayat sebagai simbol matinya harapan mereka terhadap janji pemerintah.

Long March dan Keranda Mayat Warnai Aksi

Sesampainya di Bundaran Patung, massa menggelar aksi unjuk rasa dengan menyampaikan berbagai tuntutan. Kehadiran keranda mayat menjadi perhatian karena dianggap sebagai simbol kekecewaan terhadap lambannya penyelesaian persoalan yang mereka hadapi.
Aksi kemudian berlanjut ke Gedung DPRD Tuban untuk mengikuti audiensi bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Audiensi tersebut dimediasi Komisi I DPRD Tuban dan dihadiri perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP), Satpol PP dan Damkar, Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar), serta Satlantas Polres Tuban.

“Kami Sudah Menunggu Enam Tahun”

Suasana audiensi berlangsung cukup alot. Para tukang becak dan pedagang meminta penyelesaian konkret, bukan sekadar janji seperti yang mereka rasakan selama ini.
“Ini sudah terjadi enam tahun. Kami hanya diberi janji-janji saja. Lalu kami dapat makannya dari mana?” ujar salah satu perwakilan peserta aksi dalam forum audiensi.
Perwakilan paguyuban tukang becak dan pedagang, Teguh Suyono, mengatakan kedatangan mereka ke DPRD bertujuan menagih komitmen yang pernah disampaikan DLHP Tuban.
“Pada intinya kami menagih janji dari DLHP, tapi kita dikhianati. Makanya hari ini kami memohon keadilan lewat aksi demo ini,” tegas Teguh.

Empat Tuntutan Utama Massa Aksi

Dalam audiensi tersebut, massa membawa sedikitnya empat tuntutan utama.
Mereka meminta penghapusan total operasional bus shuttle, penertiban becak motor (bentor), pengembalian fungsi becak kayuh sebagai transportasi wisata utama, serta penataan sistem transportasi wisata yang dinilai selama ini merugikan warga lokal.
Menurut Teguh, keberadaan shuttle yang beroperasi di kawasan wisata telah membuat pendapatan para tukang becak dan pedagang menurun drastis.
“Penurunan omzet kami hampir 90 persen, dan kondisi ini sudah menyiksa kami hampir enam tahun lamanya,” ungkapnya.

Shuttle Disebut Rugikan Warga dan PAD

Perwakilan massa lainnya, Sukamto, menilai keberadaan shuttle tidak hanya berdampak pada pendapatan tukang becak dan pedagang, tetapi juga berpotensi mengurangi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Ia menyebut sejumlah angkutan yang beroperasi tidak memberikan kontribusi resmi kepada daerah.
“Adanya keranda mayat yang kami bawa ini adalah simbolis bahwa hati nurani Dinas Perhubungan sudah mati,” katanya.
Pernyataan tersebut disambut sorakan peserta aksi yang menuntut pemerintah segera mengambil langkah tegas.

Aksi Berujung Kesepakatan Bersama

Setelah melalui pembahasan yang panjang, audiensi akhirnya menghasilkan nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pihak terkait.
Perwakilan demonstran menegaskan bahwa operasional shuttle harus segera ditertibkan sesuai kesepakatan yang telah dibuat.
Mereka juga mengancam akan kembali menggelar aksi dengan jumlah massa yang lebih besar apabila kesepakatan tersebut tidak dijalankan.

DLHP Janji Tindak Lanjuti Kesepakatan

Menanggapi tuntutan tersebut, Kepala DLHP Kabupaten Tuban, Anthon Tri Laksono, memastikan pihaknya akan menindaklanjuti seluruh poin yang telah disepakati bersama.
Menurutnya, selama ini proses penataan terus dilakukan meskipun menghadapi berbagai kendala koordinasi antarinstansi.
“Tentu akan kita tindak lanjuti, dan kami sebenarnya sudah berkolaborasi. Sampai saat ini semua tetap berproses. Memang kesulitannya ada pada koordinasi dengan beberapa pihak terkait, tapi sambil berjalan ini tetap kita tata,” ujarnya.
Anthon juga mengakui keberadaan angkutan yang tidak sesuai aturan berpotensi menimbulkan kebocoran PAD.
“Shuttle liar itu memang tidak ada retribusinya, makanya ini akan kita balikkan lagi ke aturan. Semua angkutan harus berjalan sesuai dengan jalurnya masing-masing,” tegasnya.

DPRD: Masalah Harus Diselesaikan Secara Menyeluruh

Sementara itu, Anggota Komisi I DPRD Tuban, Siswanto, menilai penyelesaian persoalan transportasi wisata tidak bisa dilakukan secara parsial.
Menurutnya, seluruh pihak terkait harus duduk bersama agar kebijakan yang diambil tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari.
“Sayangnya sampai saat ini tidak ada eksekusi. Kami hari ini hanya mengawal dan menyiapkan materi. Untuk pelaksanaan di lapangan memang menjadi kewenangan OPD terkait,” ujarnya.
Usai mengantongi dokumen kesepakatan bersama, massa akhirnya membubarkan diri dengan tertib meski sempat menyebabkan perlambatan arus lalu lintas di jalur protokol Kota Tuban. (Az)

Berita Terkait

DLH Tuban Turun Tangan Terkait Keluhan Debu PT SBI, Tegaskan Cuaca Bukan Alasan
Pertamina Akhirnya Buka Suara Soal Antrean Solar di Tuban, Klaim Stok Aman
Denpomal Banyuwangi Olah TKP Kasus Dugaan Penganiayaan Remaja di Situbondo
Solar Subsidi Sulit Dicari, Sopir Truk di Tuban Terpaksa Antre di SPBU Sejak Pagi
Ironi Hari Kesaktian Pancasila, Botol Miras Berserakan di Monumen Adpada Tuban
Dua Napi Kasus Pembunuhan Terima Remisi di Lapas Tuban, Negara Hemat Hampir Rp6 Juta
Ngaku Oknum TNI, Pria di Situbondo Diduga Aniaya Remaja dengan Selang di Dalam Rumah
Bikin Geger Warga Tuban, Sosok ‘Kuntilanak’ Ini Akhirnya Diamankan Polisi

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 18:28 WIB

DLH Tuban Turun Tangan Terkait Keluhan Debu PT SBI, Tegaskan Cuaca Bukan Alasan

Selasa, 2 Juni 2026 - 15:05 WIB

Janji 6 Tahun Tak Kunjung Terwujud, Tukang Becak dan Pedagang Kebonsari Geruduk DPRD Tuban

Senin, 1 Juni 2026 - 21:16 WIB

Pertamina Akhirnya Buka Suara Soal Antrean Solar di Tuban, Klaim Stok Aman

Senin, 1 Juni 2026 - 21:01 WIB

Denpomal Banyuwangi Olah TKP Kasus Dugaan Penganiayaan Remaja di Situbondo

Senin, 1 Juni 2026 - 17:46 WIB

Solar Subsidi Sulit Dicari, Sopir Truk di Tuban Terpaksa Antre di SPBU Sejak Pagi

Berita Terbaru

Advertisement
Promo Shopee
Berita Terbaru Hari Ini LiputanSatu.id
Ilustrasi LiputanSatu
Berita Tuban Terkini LiputanSatu.id
Gambar Berita LiputanSatu
Kabar Tuban Hari Ini - Klik Selengkapnya di LiputanSatu.id