Tuban – Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak di Kabupaten Tuban masih belum sepenuhnya terkendali. Menindaklanjuti hal ini, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tuban bersama Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP2P) menggelar rapat kerja guna mengevaluasi langkah-langkah penanggulangan yang telah dilakukan.
Dalam pertemuan yang berlangsung pada Selasa (5/2/2025) di Gedung Komisi III DPRD Tuban, DKP2P melaporkan progres vaksinasi PMK di wilayah tersebut. Kepala DKP2P Tuban, Eko Julianto, mengungkapkan bahwa dari total 7.000 dosis vaksin yang diterima, sekitar 99 persen telah disalurkan. Saat ini, hanya tersisa 75 dosis yang belum diberikan, khususnya di Kecamatan Palang.
“Dari total tujuh ribu dosis, hanya tinggal 75 dosis yang belum tersalurkan di Kecamatan Palang,” jelas Eko.
Lebih lanjut, Eko menegaskan bahwa pihaknya akan segera menuntaskan distribusi vaksin yang tersisa dan melakukan evaluasi terhadap efektivitas vaksinasi yang telah berjalan.
Data Kasus PMK di Tuban
Berdasarkan laporan DKP2P, hingga saat ini tercatat 266 kasus PMK di Tuban. Dari jumlah tersebut:
199 ekor ternak dinyatakan sembuh
45 ekor masih dalam perawatan
4 ekor harus dipotong paksa
18 ekor mati
Kecamatan Kerek menjadi wilayah dengan kasus PMK tertinggi, dengan total 70 laporan.
Baca juga: Pemkab Tuban Terbitkan Surat Edaran Terkait Kewaspadaan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)
DPRD Apresiasi Upaya Penanggulangan PMK
Ketua Komisi III DPRD Tuban, Tulus Setyo Utomo, mengapresiasi langkah pemerintah dalam percepatan vaksinasi PMK. Ia juga mengonfirmasi bahwa dalam waktu dekat, Tuban akan menerima tambahan 15.000 dosis vaksin PMK dari pemerintah provinsi, yang dijadwalkan tiba pada Jumat mendatang.
“Besok, ada tambahan 15.000 dosis dari Pemprov,” ujar Tulus.
Sumber Penyebaran PMK & Kebijakan Pasar Hewan
Menanggapi penyebab penyebaran PMK, Tulus menduga bahwa penyakit ini masuk ke Tuban melalui hewan ternak yang didatangkan dari luar daerah, terutama yang dijual di pasar hewan.
“Kami dihadapkan pada dilema, menutup pasar hewan bisa berdampak pada perekonomian pedagang, tapi jika tetap dibuka, penyebaran PMK masih tinggi,” tambahnya.
Saat ini, pembukaan kembali pasar hewan masih dalam tahap evaluasi. Semula, pasar direncanakan beroperasi kembali pada 17 Februari, namun kemungkinan akan ditunda hingga 22 Februari.
Tulus juga menegaskan bahwa hingga saat ini, belum ada laporan kasus PMK pada hewan selain sapi. Ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, menjaga kebersihan kandang, dan memastikan pakan ternak dalam kondisi baik guna mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut.(Az)












