Promo
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadan 1447 H 2026 M Pemerintah Kabupaten Tuban

LPG 3 Kg Diklaim Aman, Warga Tuban Justru Mengeluh Langka dan Tembus Rp40 Ribu

- Reporter

Rabu, 25 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi perbandingan antara klaim distribusi LPG oleh PT Pertamina Patra Niaga dengan kondisi nyata di lapangan yang menunjukkan kelangkaan dan harga tinggi di Tuban,  (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Ilustrasi perbandingan antara klaim distribusi LPG oleh PT Pertamina Patra Niaga dengan kondisi nyata di lapangan yang menunjukkan kelangkaan dan harga tinggi di Tuban, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Tuban – Klaim distribusi LPG 3 kg oleh PT Pertamina Patra Niaga justru berbanding terbalik dengan kondisi di lapangan. Di sejumlah wilayah Kabupaten Tuban, warga masih mengeluhkan kelangkaan gas melon, bahkan harganya melambung hingga Rp40 ribu per tabung.
Gunawan, salah seorang warga, mengaku kesulitan mendapatkan LPG bersubsidi di kampungnya. Kalaupun tersedia, harga yang ditawarkan jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Di toko kelontong yang ada stok LPG dijual sampai Rp40 ribu per tabung. Padahal katanya distribusikan sudah ditambah,” ujarnya.

Warga Terpaksa Cari ke Luar Daerah

Kelangkaan ini bukan terjadi sesaat. Rizky, warga lainnya, menyebut kondisi tersebut sudah berlangsung sejak sebelum Lebaran.
Ia bahkan harus mencari LPG hingga ke luar daerah, tepatnya ke wilayah Bojonegoro.
“Kalau kabarnya sudah didistribusikan tapi kok masih langka, itu yang salah beritanya atau memang disembunyikan tabungnya,” ucapnya.

Pemerintah Klaim Stok Aman, Tapi Pengawasan Dipertanyakan

Sebelumnya, pihak PT Pertamina Patra Niaga menyatakan stok LPG bersubsidi di tingkat agen maupun pangkalan dalam kondisi aman dan harga masih sesuai HET.
Kepala Diskopumdag Tuban, Gunadi, juga menegaskan bahwa distribusi LPG difokuskan ke pangkalan resmi, bahkan diarahkan agar 80 persen penjualan langsung ke masyarakat.
“Yang resmi itu pangkalan, dan diarahkan menjual langsung ke masyarakat,” jelasnya.
Namun, pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan besar: jika stok benar-benar aman, mengapa warga masih kesulitan mendapatkan LPG?

Harga Melejit, Celah di Tingkat Pengecer

Gunadi menegaskan bahwa harga LPG di pangkalan wajib sesuai HET, yakni Rp18 ribu per tabung, sesuai aturan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Pangkalan juga diwajibkan memampang harga resmi di lokasi penjualan. Jika melanggar, sanksi tegas bisa diberikan.
Namun, ketika ditanya soal harga yang melambung di tingkat pengecer, pengawasan tampak melemah. Tidak ada penegasan jelas terkait tindakan terhadap pengecer yang menjual jauh di atas HET.
Kondisi ini memunculkan dugaan adanya celah distribusi yang dimanfaatkan oleh pihak tertentu.

Pertamina Bungkam, Publik Menunggu Jawaban

Di tengah polemik ini, pihak PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus belum memberikan tanggapan resmi.
Area Manager Comrel & CSR, Ahad Rahedi, belum merespons saat dikonfirmasi.
Sikap diam ini justru memperkuat pertanyaan publik: apakah persoalan ini murni distribusi, lemahnya pengawasan, atau ada praktik yang sengaja dibiarkan?

Kasus LPG di Tuban kembali menunjukkan jurang antara laporan resmi dan kenyataan di lapangan. Di satu sisi, distribusi disebut aman. Di sisi lain, masyarakat justru harus membeli dengan harga tinggi atau mencari hingga ke luar daerah.
Jika kondisi ini terus terjadi, maka persoalan LPG bukan lagi sekadar distribusi, melainkan soal keadilan akses energi bagi masyarakat kecil. (Az)

Berita Terkait

IMM Tuban Periode 2026-2027 Resmi Dilantik, Isu Perempuan Jadi Prioritas
SE Sekda Tak Digubris, Jalan Bancar–Jatirogo Masih Dipenuhi Ceceran Pasir Silika
Viral Dugaan Penganiayaan Badut Oleh Anggota Propam Tuban, Polisi Sebut Kasus Sudah Dimediasi
19 Dapur MBG Disuspend, Pemkab Situbondo Minta Disikapi Sebagai Evaluasi
Lapangan Kerja Terbatas, 73 Warga Tuban Pilih Merantau ke Hong Kong dan Taiwan
DPRD Tuban Minta Evaluasi Debu Klinker SBI yang Dikeluhkan Warga
Janji 6 Tahun Tak Kunjung Terwujud, Tukang Becak dan Pedagang Kebonsari Geruduk DPRD Tuban
Ngaku Oknum TNI, Pria di Situbondo Diduga Aniaya Remaja dengan Selang di Dalam Rumah

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 21:48 WIB

IMM Tuban Periode 2026-2027 Resmi Dilantik, Isu Perempuan Jadi Prioritas

Sabtu, 6 Juni 2026 - 19:33 WIB

SE Sekda Tak Digubris, Jalan Bancar–Jatirogo Masih Dipenuhi Ceceran Pasir Silika

Jumat, 5 Juni 2026 - 16:35 WIB

19 Dapur MBG Disuspend, Pemkab Situbondo Minta Disikapi Sebagai Evaluasi

Kamis, 4 Juni 2026 - 18:23 WIB

Lapangan Kerja Terbatas, 73 Warga Tuban Pilih Merantau ke Hong Kong dan Taiwan

Kamis, 4 Juni 2026 - 09:05 WIB

DPRD Tuban Minta Evaluasi Debu Klinker SBI yang Dikeluhkan Warga

Berita Terbaru

Petugas mengevakuasi jenazah Murtafia Rafika Devi (34), seorang bidan RSUD Besuki yang ditemukan meninggal dunia di saluran drainase Jalur Pantura Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur, Situbondo, Sabtu (06/06/2026) malam, (Fia Rahma/Liputansatu.id).

Hukum Kriminal

Bidan RSUD Besuki Ditemukan Tewas di Drainase Pantura Situbondo

Sabtu, 6 Jun 2026 - 23:55 WIB

Advertisement
Promo Shopee
Berita Terbaru Hari Ini LiputanSatu.id
Ilustrasi LiputanSatu
Berita Tuban Terkini LiputanSatu.id
Gambar Berita LiputanSatu
Kabar Tuban Hari Ini - Klik Selengkapnya di LiputanSatu.id