Terpuruk Saat Pandemi COVID-19, Mas Mul Tuban Sulap Limbah Siwalan Jadi Karya Mendunia

- Reporter

Jumat, 6 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Putra Hadi Mulyo atau Mas Mul, pengrajin asal Desa Tegalagung, Semanding, Tuban, memperlihatkan karya seni miniatur pohon siwalan berbahan limbah alam yang telah dipasarkan hingga tingkat nasional dan mulai menembus pasar internasional, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Putra Hadi Mulyo atau Mas Mul, pengrajin asal Desa Tegalagung, Semanding, Tuban, memperlihatkan karya seni miniatur pohon siwalan berbahan limbah alam yang telah dipasarkan hingga tingkat nasional dan mulai menembus pasar internasional, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Tuban – Pandemi COVID-19 yang melumpuhkan dunia hiburan sejak 2019 menjadi titik terendah bagi Putra Hadi Mulyo. Aktivitas bermusik yang selama ini menopang kehidupan pria asal Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban itu mendadak berhenti total.
Kondisi tersebut sempat membuatnya diliputi kebingungan. Namun dari situ pula lahir titik balik perjalanan hidupnya. Putra yang akrab disapa Mas Mul memilih bangkit dan mencari jalan baru demi mencukupi kebutuhan keluarga.

Bangkit Lewat Seni dari Limbah Alam

Berbekal kreativitas serta kepekaan seni, Mas Mul mulai menekuni seni kriya berbahan limbah alam. Ia memanfaatkan bagian pohon bogor atau siwalan yang sebelumnya dianggap tak bernilai menjadi karya seni bernuansa estetika tinggi.
Tak hanya bernilai ekonomi, karya-karyanya juga membawa identitas budaya Bumi Ronggolawe hingga dikenal di tingkat nasional bahkan mancanegara.
Sebagai lulusan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya, dunia seni sejatinya bukan hal baru baginya. Sebelum pandemi, ia dikenal sebagai pemain keyboard dengan jadwal manggung padat di berbagai acara hajatan.
“Waktu itu benar-benar bingung. Saya harus berpikir keras bagaimana tetap menghasilkan uang di tengah pandemi. Dari situlah muncul ide memanfaatkan limbah alam menjadi kerajinan,” ungkapnya.

Dijuluki “Tangan Dewa”

Karya pertama berupa lumpang kayu ukir yang diunggah ke media sosial justru menjadi titik balik. Respons publik sangat besar. Detail ukiran halus membuat warganet menjulukinya sebagai “Tangan Dewa.”
Karya tersebut bahkan terjual hingga puluhan juta rupiah saat dipamerkan di Jakarta.
Keberhasilan itu mendorongnya mendirikan bengkel seni Oyot Craft, ruang kreatif tempat berbagai gagasan diwujudkan. Limbah alam yang semula tak bernilai kini berubah menjadi karya seni dengan harga jual puluhan ribu hingga puluhan juta rupiah.

Miniatur Siwalan, Simbol Tuban

Saat ini Mas Mul fokus mengembangkan miniatur pohon siwalan sebagai simbol khas Kabupaten Tuban yang merepresentasikan 20 kecamatan. Ide-ide kreatif, katanya, kerap muncul di saat sunyi, terutama malam hari.
“Ide biasanya datang ketika senimannya benar-benar menunggu dan mengharapkannya,” ujarnya.
Dalam proses berkarya, tantangan terbesar adalah pengolahan bahan alami, khususnya bagian daun. Ia harus melakukan riset dan berbagai percobaan agar material tetap kuat dan tahan lama.
“Daun paling rumit. Setelah banyak eksperimen, saya menemukan teknik memakai daun segar yang dikeringkan dengan cara khusus supaya awet,” jelasnya.

Dari Limbah Jadi Sumber Ekonomi

Prinsip berkarya Mas Mul sederhana namun sarat makna: mengoptimalkan limbah alam menjadi bernilai tambah.
“Saya ingin menunjukkan bisnis tidak selalu butuh modal besar. Limbah yang dianggap tak berguna justru bisa menjadi sumber ekonomi,” tegasnya.
Kini, produk Oyot Craft telah dipasarkan ke berbagai kota besar seperti Malang, Bandung, dan Jakarta. Sejumlah penghargaan pun diraih, termasuk Juara 1 Lomba Cipta Karya Souvenir Khas Tuban.
Ia bahkan mulai menapaki pasar internasional.
“Beberapa waktu lalu saya mengirim contoh miniatur siwalan ke Amerika. Semoga bisa berlanjut ke tahap ekspor,” ujar mantan guru seni rupa SMK Taruna Jaya Prawira Tuban tersebut.
Melalui ketekunan dan kreativitas, Mas Mul membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang meraih kesuksesan, selama ada kemauan untuk bangkit dan terus berusaha. (Az)

Editor : Kief

Berita Terkait

Pengusaha Brunei Kunjungi Situbondo, Jajaki Kerja Sama Bisnis Pertanian, Pariwisata, hingga UMKM
Mensos Kunjungi Tuban, Sekolah Rakyat Diproyeksikan Tampung 1.000 Siswa dari Keluarga Miskin
Kilang Tuban Bersiap Dapat Mitra Baru, Proyek US$20,7 Miliar Didorong Segera Capai FID
Kedai Miras Dekat Sekolah Tuban Disorot, Pemuda Muhammadiyah Desak Penertiban
Kontrak PPPK Diputus, PNS Indisipliner Aman? DPRD “Muntab” Sikap BKPSDM Tuban
Debu Proyek Sekolah Rakyat Kepung SD Mondokan, Kontraktor Disorot–OPD Tuban Pilih Bungkam
Ratusan Pebecak Kepung Kantor Pemkab Tuban, Protes Shuttle Ilegal yang “Menyedot” Rezeki Terminal Kebonsari
Ultimatum Warga Bancar ke PT RSS Jadi Alarm Keras bagi Industri Cucian Pasir Pantura Tuban

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 15:32 WIB

Pengusaha Brunei Kunjungi Situbondo, Jajaki Kerja Sama Bisnis Pertanian, Pariwisata, hingga UMKM

Sabtu, 7 Februari 2026 - 08:50 WIB

Mensos Kunjungi Tuban, Sekolah Rakyat Diproyeksikan Tampung 1.000 Siswa dari Keluarga Miskin

Jumat, 6 Februari 2026 - 21:17 WIB

Kilang Tuban Bersiap Dapat Mitra Baru, Proyek US$20,7 Miliar Didorong Segera Capai FID

Jumat, 6 Februari 2026 - 20:04 WIB

Terpuruk Saat Pandemi COVID-19, Mas Mul Tuban Sulap Limbah Siwalan Jadi Karya Mendunia

Jumat, 6 Februari 2026 - 08:58 WIB

Kedai Miras Dekat Sekolah Tuban Disorot, Pemuda Muhammadiyah Desak Penertiban

Berita Terbaru

Advertisement
Promo Shopee