Tuban – Aksi mogok kerja Awak Mobil Tangki (AMT) di Terminal BBM Tuban memasuki babak panas. Hingga larut malam, Jumat (10/04/2026), ratusan pekerja masih bertahan. Tekanan meningkat, ancaman mencuat, dan perlawanan pun tak terbendung.
Setelah seharian tidak muncul, perwakilan PT Cahaya Andhika Tamara (CAT) akhirnya menemui massa aksi. Namun, pertemuan yang diharapkan menjadi solusi justru berubah menjadi adu argumentasi sengit.
Diskusi Memanas, Ancaman PHK Massal Mengemuka
Dalam forum terbuka tersebut, pihak perusahaan menegaskan tidak dapat mengembalikan pekerja yang telah di-PHK. Pernyataan ini langsung memicu reaksi keras dari para AMT.
Situasi semakin memanas ketika muncul peringatan bahwa aksi mogok yang terus berlanjut berpotensi berujung pada PHK massal.
Namun alih-alih mundur, para pekerja justru melawan.
“Kami tidak bisa ditakut-takuti. Kalau memang tidak bisa, silakan pergi dari sini. Ini dulu tempat kami mencari hidup. Kalau mau PHK massal, pergi sekalian dari sini,” tegas salah satu pekerja di tengah kerumunan.
Pernyataan tersebut menjadi simbol bahwa konflik ini bukan lagi sekadar soal pekerjaan, melainkan menyentuh soal ruang hidup dan keberlangsungan ekonomi para pekerja.
Kepala Desa Turun Tangan, Konflik Belum Usai
Upaya meredam ketegangan dilakukan dengan kehadiran Kepala Desa Remen, Rusdiono, dan Kepala Desa Tasikharjo, Damuri. Keduanya mencoba menjembatani tuntutan pekerja dengan pihak perusahaan.
Namun hingga pertemuan berakhir, belum ada titik temu yang benar-benar disepakati.
Para pekerja memang mulai membubarkan diri secara bertahap. Tapi itu bukan tanda berakhirnya konflik.
Mogok Berlanjut, Eskalasi Terbuka
Alih-alih mereda, aksi justru berpotensi membesar. Para AMT menegaskan akan kembali melanjutkan mogok kerja pada hari berikutnya jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.
Ini menjadi sinyal bahwa konflik di TBBM Tuban belum mencapai puncaknya.
Di tengah ancaman PHK massal dan distribusi BBM yang sudah lumpuh, satu hal kini menjadi jelas:
ketegangan antara pekerja dan perusahaan telah memasuki fase terbuka—dan dampaknya bisa jauh lebih luas dari yang terlihat hari ini. (Az)












