Bukan Hanya APBD Rp8,1 Miliar, Bisakah Industri Dilibatkan Menguatkan Jalan Jenu–Merakurak?

- Reporter

Sabtu, 13 Juni 2026

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Kondisi Jalan Jenu–Merakurak yang selama ini menjadi jalur utama aktivitas industri dan logistik di Kabupaten Tuban. Ruas jalan tersebut kini masuk dalam paket rekonstruksi senilai sekitar Rp8,1 miliar dari APBD 2026, (Aji Swasto/Liputansatu.id).

Tuban – Bertahun-tahun menjadi langganan keluhan masyarakat, ruas Jalan Jenu–Merakurak akhirnya mendapat sentuhan anggaran pemerintah. Melalui paket rekonstruksi jalan senilai sekitar Rp8,1 miliar, Pemerintah Kabupaten Tuban berupaya memperbaiki salah satu koridor penting yang selama ini kerap menghadapi persoalan kerusakan jalan.
Langkah tersebut tentu patut diapresiasi. Namun di balik proyek miliaran rupiah itu, muncul sebuah pertanyaan yang layak menjadi bahan diskusi bersama: apakah pembangunan jalan di kawasan industri cukup mengandalkan APBD, atau sudah saatnya dunia usaha ikut mengambil peran lebih besar dalam mendukung infrastruktur yang mereka manfaatkan setiap hari?

Jalur Industri dengan Beban Kendaraan Berat Tinggi

Pertanyaan tersebut muncul bukan tanpa alasan. Sebab, ruas Jenu–Merakurak bukanlah jalan biasa. Jalur ini menjadi salah satu urat nadi aktivitas industri di wilayah utara Tuban yang setiap hari dilalui kendaraan bertonase besar, mulai armada logistik, angkutan material, hingga kendaraan operasional berbagai sektor usaha yang berkembang di kawasan tersebut.
Tingginya intensitas lalu lintas kendaraan berat selama bertahun-tahun disebut menjadi salah satu faktor yang mempercepat penurunan kualitas jalan. Retakan, lubang, hingga permukaan jalan yang bergelombang bukan lagi persoalan baru bagi masyarakat maupun pengguna jalan yang rutin melintas di jalur tersebut.
Akibatnya, keluhan terus berulang hampir setiap tahun. Tidak sedikit warga yang menilai kerusakan di ruas Jenu–Merakurak seolah menjadi persoalan klasik yang belum benar-benar menemukan solusi jangka panjang.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari laman Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), proyek rekonstruksi Jalan Jenu–Merakurak memiliki pagu anggaran sekitar Rp8,1 miliar yang bersumber dari APBD Kabupaten Tuban Tahun Anggaran 2026. Pekerjaan direncanakan berlangsung selama 160 hari kalender sejak diterbitkannya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK).
Dalam dokumen pekerjaan, rekonstruksi akan menggunakan konstruksi rigid pavement atau perkerasan beton pada sejumlah titik yang mengalami penurunan kualitas. Pekerjaan terbagi dalam dua segmen utama, yakni STA 1+863 hingga STA 2+090 sepanjang 227 meter dan STA 3+675 hingga STA 4+765 sepanjang 1.090 meter dengan lebar masing-masing tujuh meter.
Selain pembangunan badan jalan, proyek tersebut juga mencakup pembangunan opritan beton, pelebaran jalan pada sisi kanan dan kiri, serta pemasangan saluran drainase U-Ditch lengkap dengan penutupnya.

Warga Minta Perbaikan Tak Hanya Berhenti pada Jalan yang Mulus

Secara teknis, pekerjaan tersebut dirancang untuk meningkatkan daya tahan konstruksi sekaligus memperbaiki sistem drainase. Namun bagi masyarakat, ukuran keberhasilan proyek tidak hanya berhenti pada selesainya pekerjaan atau mulusnya permukaan jalan saat proyek baru rampung. Yang lebih penting adalah seberapa lama jalan tersebut mampu bertahan menghadapi tingginya aktivitas kendaraan yang setiap hari melintas.
Yanto, warga yang hampir setiap hari menggunakan ruas Jenu–Merakurak, berharap proyek tersebut tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata.
“Kalau jalannya nanti sudah bagus tentu masyarakat senang. Tapi yang juga perlu diperhatikan lampu jalan. Masih banyak titik yang gelap sehingga pengguna jalan harus ekstra hati-hati saat malam,” ujarnya.
Menurutnya, keselamatan pengguna jalan tidak hanya ditentukan oleh kualitas konstruksi, tetapi juga didukung fasilitas pendukung yang memadai.
Pandangan serupa disampaikan Darul. Ia mengapresiasi upaya pemerintah memperbaiki jalan yang selama ini menjadi kebutuhan masyarakat. Namun ia berharap pembangunan dilakukan secara menyeluruh agar manfaatnya benar-benar dirasakan pengguna jalan.
“Perbaikan jalan ini memang sangat dibutuhkan dan kami mengapresiasi langkah pemerintah. Tetapi akan lebih baik lagi apabila disertai penambahan lampu penerangan jalan sehingga keamanan dan keselamatan pengguna jalan lebih terjamin,” katanya.
Harapan tersebut mencerminkan kebutuhan riil masyarakat. Sebab seiring berkembangnya kawasan industri Jenu dan Merakurak, aktivitas transportasi tidak hanya berlangsung pada siang hari. Mobilitas kendaraan berat juga tetap tinggi pada malam hari, sementara sejumlah titik di sepanjang ruas jalan masih minim penerangan.

Perlukah Dunia Industri Ikut Berkontribusi pada Infrastruktur?

Di sisi lain, besarnya anggaran yang dialokasikan juga membuka ruang diskusi mengenai model pembangunan infrastruktur di kawasan industri. Selama ini pemerintah menjadi pihak utama yang menanggung pembiayaan pembangunan dan perbaikan jalan melalui APBD. Padahal, keberadaan jalan yang baik juga menjadi kebutuhan penting bagi dunia usaha untuk mendukung kelancaran distribusi dan aktivitas operasional.
Karena itu, muncul pandangan bahwa pembangunan infrastruktur di koridor industri tidak harus sepenuhnya bertumpu pada anggaran pemerintah. Dunia usaha yang setiap hari memanfaatkan akses tersebut dapat menjadi bagian dari solusi, baik melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), dukungan infrastruktur, maupun bentuk kolaborasi lain yang memungkinkan kualitas jalan ditingkatkan sesuai kebutuhan kawasan.

Momentum Membangun Infrastruktur yang Lebih Berkelanjutan

Dengan pola kolaborasi tersebut, anggaran pemerintah dapat menjadi fondasi utama pembangunan, sementara dukungan sektor industri berpotensi memperkuat kualitas dan daya tahan konstruksi sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih lama oleh masyarakat maupun pelaku usaha.
Hingga berita ini ditulis, Dinas PUPR PRKP Kabupaten Tuban belum memberikan tanggapan terkait harapan masyarakat maupun mekanisme pengawasan yang akan diterapkan selama pelaksanaan pekerjaan berlangsung.
Pada akhirnya, rekonstruksi Jalan Jenu–Merakurak bukan sekadar soal pembangunan beton dan perbaikan ruas jalan. Di balik proyek senilai Rp8,1 miliar tersebut, tersimpan harapan agar persoalan yang selama bertahun-tahun berulang dapat benar-benar teratasi. Lebih jauh lagi, proyek ini dapat menjadi momentum untuk membuka diskusi mengenai pembangunan infrastruktur yang lebih kolaboratif, di mana pemerintah dan dunia usaha bersama-sama berkontribusi menghadirkan jalan yang kuat, aman, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi Tuban dalam jangka panjang. (Aj)

Berita Terkait

Tiga Bulan Ditutup, Perbaikan Ring Road Tuban Belum Juga Dimulai
Hampir Dua Tahun Bergulir, Kasus Penyerobotan Lahan di Tuban Masih Tahap Pemeriksaan Saksi
Ketua PWI Kalbar Tekankan Wartawan Harus Profesional di Era Digital
Keluhan Pelanggan Menumpuk, Pertamina Bungkam Soal Pelayanan SPBU Tambakboyo
Ana Khozanah Resmi Pimpin PKB Tuban, Bidik Kemenangan Pilkada 2029
Solikin Hilang di Laut Utara Lamongan,  Tim SAR Gabungan Masih Melakukan Pencarian
Ketua PPP Tuban: Kepengurusan Baru Bukti Soliditas Kader Hadapi Dinamika Politik
Harga Pertamax Naik, ASN Tuban Keluhkan Biaya Operasional Kendaraan Dinas

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 14:54 WIB

Bukan Hanya APBD Rp8,1 Miliar, Bisakah Industri Dilibatkan Menguatkan Jalan Jenu–Merakurak?

Jumat, 12 Juni 2026 - 19:48 WIB

Tiga Bulan Ditutup, Perbaikan Ring Road Tuban Belum Juga Dimulai

Jumat, 12 Juni 2026 - 11:24 WIB

Hampir Dua Tahun Bergulir, Kasus Penyerobotan Lahan di Tuban Masih Tahap Pemeriksaan Saksi

Kamis, 11 Juni 2026 - 21:47 WIB

Ketua PWI Kalbar Tekankan Wartawan Harus Profesional di Era Digital

Kamis, 11 Juni 2026 - 19:29 WIB

Keluhan Pelanggan Menumpuk, Pertamina Bungkam Soal Pelayanan SPBU Tambakboyo

Berita Terbaru

Advertisement
Exit mobile version