Tuban – Kemarau panjang mulai menunjukkan dampaknya di Kabupaten Tuban. Tak hanya membuat lahan dan sumber air mengering, persediaan air bersih masyarakat di sejumlah wilayah juga mulai menipis.
Memasuki September 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tuban bahkan memperluas distribusi air bersih. Tercatat 18 desa di sembilan kecamatan masuk dalam penanganan karena mengalami kondisi rawan air bersih. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan pekan sebelumnya yang tercatat sebanyak 15 desa.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tuban, Sudarmaji, mengatakan distribusi air bersih difokuskan pada dusun maupun wilayah tertentu yang benar-benar mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air. “Sekarang kita dropping air untuk 15 desa. Tapi bukan berarti seluruh wilayah desa, hanya sebagian wilayah desa yang memang rawan air bersih,” kata Sudarmaji, Selasa (08/09/2026).
Sembilan kecamatan yang masuk dalam penanganan BPBD meliputi Grabagan, Parengan, Senori, Jatirogo, Bancar, Semanding, Montong, Bangilan, dan Soko. Untuk menjaga pemerataan bantuan, distribusi tidak dilakukan setiap hari ke desa yang sama. BPBD menerapkan sistem jeda sehingga wilayah lain yang mengalami persoalan serupa tetap mendapat pasokan.
“Tidak setiap hari. Kita jeda sehari karena harus berbagi dengan desa yang lain,” jelasnya.
Dalam sehari, BPBD Tuban mampu mengerahkan sekitar 4-5 tangki air bersih. Setiap tangki rata-rata melakukan dua kali rit pengiriman. Dengan kapasitas tangki berkisar 5.000 hingga 7.000 liter dan rata-rata membawa sekitar 6.000 liter dalam sekali rit, total air yang dapat disalurkan BPBD mencapai sekitar 60.000 liter per hari atau 10 rit.
Bantuan juga diperkuat melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo kantor Bojonegoro. Dukungan distribusi tersebut rata-rata mencapai 2-4 rit per hari untuk membantu memenuhi kebutuhan warga terdampak.
Sudarmaji menjelaskan, distribusi air bersih dilakukan berdasarkan pengajuan dari pemerintah desa. Permintaan tersebut harus terlebih dahulu diketahui oleh camat sebelum BPBD melakukan pemeriksaan kondisi di lapangan.
“Berdasarkan permintaan dari kepala desa yang diketahui camat. Setelah ada surat, kita asesmen, setelah itu baru kita dropping,” ujarnya.
Kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan. Berdasarkan informasi prakiraan BMKG Tuban yang diterima BPBD, musim kemarau diprediksi masih berlangsung hingga pertengahan bahkan akhir November 2026.
Sudarmaji menyebut kondisi kemarau tahun ini cenderung lebih panjang dan kering dibandingkan tahun sebelumnya. Situasi tersebut membuat kebutuhan air bersih berpotensi terus meningkat. Karena itu, masyarakat diminta menghemat penggunaan air sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.
“Karena kemarau 2026 ini lebih panjang dan kering dibanding tahun lalu, saya minta masyarakat lebih hemat memanfaatkan air bersih dan waspada terhadap kebakaran, baik kebakaran permukiman maupun kebakaran hutan dan lahan,” pungkasnya. (Az/Kiev)
Editor : Mukhyidin Khifdi












