Limbah Cucian Pasir Picu Pendangkalan Sungai di Jenu, Petani dan Nelayan Tuban Mengeluh

- Reporter

Rabu, 29 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang warga saat melihat kondisi sungai di Jenu berwarna kecoklatan diduga dipicu limbah cucian pasir, (Assayid/Liputansatu.id).

Seorang warga saat melihat kondisi sungai di Jenu berwarna kecoklatan diduga dipicu limbah cucian pasir, (Assayid/Liputansatu.id).

Tuban — Aktivitas pencucian pasir kuarsa di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, diduga memicu pencemaran dan pendangkalan sungai yang berdampak langsung pada kehidupan petani dan nelayan. Di tengah dampak yang terus dirasakan, warga menilai respons pemerintah masih minim.

Di Desa Sekardadi, aliran sungai yang seharusnya menjadi jalur irigasi kini berubah menjadi genangan lumpur. Sedimentasi yang diduga berasal dari limbah cucian pasir membuat aliran air tersendat, terutama di wilayah hilir.

Pantauan di lapangan menunjukkan air sungai berwarna cokelat kemerahan dan tidak mengalir normal. Bahkan, kondisi serupa terlihat hingga ke muara, di mana air laut tampak keruh.

Dampak pada Pertanian dan Perikanan di Tuban

Sejumlah petani mengaku sawah mereka kerap terendam saat hujan deras. Banjir tidak lagi semata disebabkan curah hujan, melainkan juga karena aliran sungai yang tidak mampu menampung debit air.

“Sejak ada aktivitas cucian kuarsa, sungai jadi dangkal. Air sering meluap ke sawah,” ujar seorang petani kepada Liputansatu.id, Rabu (29/4/2026).

Ia menyebut kondisi ini telah berlangsung sekitar enam tahun. Akibatnya, produktivitas lahan menurun dan memaksa petani mencari sumber penghasilan lain.

Selain pertanian, sektor perikanan turut terdampak. Nelayan di Desa Beji mengeluhkan sulitnya menyandarkan perahu akibat pendangkalan sungai.

“Dulu sungai masih jernih dan dalam, sekarang keruh dan dangkal,” kata seorang nelayan.

Upaya Teknis Tak Menyentuh Akar Masalah

Sejumlah upaya seperti pembangunan dam dan pengerukan sungai disebut pernah dilakukan. Namun, langkah tersebut dinilai tidak efektif karena aktivitas pembuangan limbah masih terus berlangsung.

Akibatnya, sedimentasi kembali terjadi dalam waktu singkat. Lumpur bahkan kini menumpuk hingga setinggi mata kaki di beberapa titik bantaran sungai.

Situasi ini menunjukkan bahwa penanganan yang dilakukan selama ini lebih bersifat reaktif, tanpa menyentuh sumber utama persoalan.

Dugaan Pembiaran dari Pemerintah

Warga juga menyoroti sikap pemerintah desa maupun Pemerintah Kabupaten Tuban yang dinilai tidak mengambil langkah tegas terhadap aktivitas pencemaran tersebut.

“Seakan-akan tutup mata. Padahal ini menyangkut penghidupan banyak orang,” ujar petani.

Kritik ini mencerminkan kekecewaan terhadap minimnya pengawasan terhadap aktivitas usaha yang berpotensi merusak lingkungan.

Respons Pemerintah Masih Awal

Pelaksana Tugas Camat Jenu, Siswanto, menyatakan pihaknya akan melakukan pengecekan ke lapangan.

“Belum ada laporan masuk, tapi kami akan cek,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penanganan masih berada pada tahap awal, meski dampak telah dirasakan warga selama bertahun-tahun.

Ujian Penegakan Lingkungan

Kasus ini menyoroti persoalan klasik dalam pengelolaan lingkungan: lemahnya pengawasan, lambatnya respons, serta ketidaktegasan terhadap pelanggaran.

Di satu sisi, aktivitas industri memberikan nilai ekonomi. Namun di sisi lain, dampak ekologisnya justru menggerus sumber penghidupan masyarakat.

Tanpa intervensi yang tegas dan sistematis, mulai dari pengawasan, penegakan hukum, hingga pemulihan ekosistem lantaran pendangkalan sungai berpotensi semakin parah.

Kini, warga menunggu langkah konkret pemerintah daerah: apakah akan menghentikan praktik pembuangan limbah yang diduga mencemari, atau membiarkan kerusakan lingkungan terus berlangsung dengan konsekuensi jangka panjang. (Az/Kiev).

Editor : Mukhyidin Khifdhi

Berita Terkait

Dana PIP Dipakai Beli HP, SMKN Jatirogo Libatkan Orang Tua Awasi Penggunaannya
SIG Tuban Bantah Abaikan Pencemaran, Sebut Debu Akibat Gangguan Teknis Peralatan Produksi
Gedung Permanen Rampung, Sekolah Rakyat Tuban Mulai Tahun Ajaran Baru dengan 256 Siswa
Janji Tinggal Janji, Warga Socorejo Blokade Pelabuhan SIG Tuban
Krisis Air Bersih di Situbondo, Warga Rela Antre Jerigen demi Dapat Bantuan BPBD
Kemarau Panjang, Warga Gunung Putri Situbondo Jalan Kaki 5 Kilometer Cari Air Bersih
Ratusan Warga Tuban Nikmati Layanan Kesehatan Gratis, SBI Jangkau 16 Desa
Bank Jatim Kembali Tegaskan Komitmen Dukung Pembangunan Tuban, Salurkan CSR di Festival Mangrove Jatim X

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 19:35 WIB

Dana PIP Dipakai Beli HP, SMKN Jatirogo Libatkan Orang Tua Awasi Penggunaannya

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:24 WIB

SIG Tuban Bantah Abaikan Pencemaran, Sebut Debu Akibat Gangguan Teknis Peralatan Produksi

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:12 WIB

Gedung Permanen Rampung, Sekolah Rakyat Tuban Mulai Tahun Ajaran Baru dengan 256 Siswa

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:01 WIB

Janji Tinggal Janji, Warga Socorejo Blokade Pelabuhan SIG Tuban

Kamis, 30 Juli 2026 - 16:41 WIB

Krisis Air Bersih di Situbondo, Warga Rela Antre Jerigen demi Dapat Bantuan BPBD

Berita Terbaru