MBG di Tuban Dikritik, Buah Busuk dan Produk Kemasan Jadi Sorotan

- Reporter

Kamis, 26 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota Komisi IV DPRD dari PartaiGerindra, Muhammad Zaki Sulton, menanggapi kritik terhadap pelaksanaan program MBG di Kabupaten Tuban, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Anggota Komisi IV DPRD dari PartaiGerindra, Muhammad Zaki Sulton, menanggapi kritik terhadap pelaksanaan program MBG di Kabupaten Tuban, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Tuban – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tuban selama Ramadan 1447 Hijriah menuai kritik dari sejumlah wali murid. Program inisiatif Presiden Prabowo Subianto itu dinilai belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi, terutama dari sisi kualitas bahan makanan yang diterima anak-anak dan ibu menyusui.
Sorotan mencuat setelah foto dan video paket MBG beredar luas di media sosial. Dalam sejumlah unggahan, paket makanan tampak didominasi produk kemasan. Buah yang dibagikan pun terlihat kurang segar. Beberapa orang tua bahkan mengaku mendapati buah dalam kondisi membusuk dan terdapat ulat.
Di tengah semangat besar memperbaiki gizi generasi, ironi justru muncul pada detail paling dasar: mutu bahan pangan.

Buah Busuk dalam Paket Rapelan

Salah seorang warga Tasikmadu yang enggan disebut namanya mengaku menerima paket rapelan untuk tiga hari bagi ibu menyusui dan balita. Paket tersebut berisi enam kotak susu, dua bakpau, dua abon kemasan, serta buah jeruk dan apel.
Namun saat dibuka di rumah, dua buah di antaranya sudah dalam kondisi membusuk.
“Pas saya buka, ada dua buah yang busuk. Kok bisa dibagikan seperti itu?” ujarnya kecewa.
Keluhan ini tidak berdiri sendiri. Di ruang digital, sejumlah komentar mempertanyakan bagaimana proses sortir bahan dilakukan sebelum distribusi. Jika tujuan program adalah memperbaiki asupan gizi, kualitas bahan seharusnya menjadi prioritas utama, bukan sekadar pelengkap daftar belanja.

Antara Perhitungan Gizi dan Realitas Lapangan

Menanggapi kritik tersebut, Anggota Komisi IV DPRD Tuban, Muhammad Zaki Sulton, menyatakan seluruh masukan masyarakat akan menjadi bahan evaluasi. Ia menegaskan program nasional ini harus didukung bersama, namun pelaksanaannya di daerah perlu terus dibenahi.
“Program ini tentu harus kita sukseskan bersama. Tetapi setiap kritik dan masukan masyarakat akan kami jadikan evaluasi agar ke depan lebih baik,” katanya.
Politikus Partai Gerindra itu memastikan bahwa dari sisi perhitungan gizi, menu MBG telah melalui pengawasan tenaga profesional. Di setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), telah ditugaskan ahli gizi untuk menghitung kandungan nutrisi sebelum makanan didistribusikan.
“Untuk soal gizi, sudah ada ahlinya di setiap SPPG. Jadi secara perhitungan tidak ada masalah,” tegasnya.
Secara hitungan di atas kertas, mungkin tak ada yang keliru. Namun publik tidak memakan angka, melainkan makanan yang tiba di tangan mereka. Di titik inilah evaluasi tak cukup berhenti pada tabel nutrisi.

Rincian Anggaran dan Persepsi Publik

Zaki juga meluruskan persepsi terkait anggaran Rp15.000 per porsi yang kerap diasumsikan sepenuhnya untuk bahan makanan.
Ia menjelaskan, untuk balita/PAUD/TK/RA dan siswa SD/MI kelas 1–3, anggaran bahan makanan sebesar Rp8.000 per porsi. Sedangkan siswa kelas 4 ke atas hingga ibu menyusui mendapatkan alokasi bahan makanan Rp10.000 per porsi.
Sementara itu, Rp3.000 digunakan untuk kebutuhan operasional dapur—listrik, air, gas, internet, serta insentif relawan SPPG. Adapun Rp2.000 lainnya diperuntukkan bagi sewa lahan dan bangunan, termasuk dapur, gudang, kamar mess, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), sistem filter air, hingga penyewaan peralatan masak.
Transparansi ini penting. Namun transparansi anggaran seharusnya berjalan seiring dengan transparansi mutu. Jika buah busuk masih lolos distribusi, maka persoalannya bukan sekadar pembagian pos biaya, melainkan pengawasan kualitas di lapangan.

Evaluasi Substantif, Bukan Administratif

Polemik ini menjadi catatan penting dalam pelaksanaan program strategis tersebut. Kritik yang muncul bukan semata-mata bentuk penolakan, melainkan refleksi atas harapan besar masyarakat terhadap program yang membawa nama “bergizi”.
Harapan meningkatkan asupan gizi anak dan ibu menyusui harus diimbangi dengan pengawasan kualitas bahan pangan dan distribusi yang ketat. Evaluasi yang dilakukan pun diharapkan tidak berhenti pada rapat dan laporan, melainkan menyentuh hal paling sederhana namun krusial: memastikan makanan yang dibagikan layak konsumsi dan bermutu.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan program bukan diukur dari besarnya anggaran atau kelengkapan regulasi, tetapi dari kualitas yang benar-benar dirasakan masyarakat. (Az)

Editor : Kief

Berita Terkait

Dana PIP Dipakai Beli HP, SMKN Jatirogo Libatkan Orang Tua Awasi Penggunaannya
SIG Tuban Bantah Abaikan Pencemaran, Sebut Debu Akibat Gangguan Teknis Peralatan Produksi
Gedung Permanen Rampung, Sekolah Rakyat Tuban Mulai Tahun Ajaran Baru dengan 256 Siswa
Janji Tinggal Janji, Warga Socorejo Blokade Pelabuhan SIG Tuban
Krisis Air Bersih di Situbondo, Warga Rela Antre Jerigen demi Dapat Bantuan BPBD
Kemarau Panjang, Warga Gunung Putri Situbondo Jalan Kaki 5 Kilometer Cari Air Bersih
Ratusan Warga Tuban Nikmati Layanan Kesehatan Gratis, SBI Jangkau 16 Desa
Bank Jatim Kembali Tegaskan Komitmen Dukung Pembangunan Tuban, Salurkan CSR di Festival Mangrove Jatim X

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 19:35 WIB

Dana PIP Dipakai Beli HP, SMKN Jatirogo Libatkan Orang Tua Awasi Penggunaannya

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:24 WIB

SIG Tuban Bantah Abaikan Pencemaran, Sebut Debu Akibat Gangguan Teknis Peralatan Produksi

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:12 WIB

Gedung Permanen Rampung, Sekolah Rakyat Tuban Mulai Tahun Ajaran Baru dengan 256 Siswa

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:01 WIB

Janji Tinggal Janji, Warga Socorejo Blokade Pelabuhan SIG Tuban

Kamis, 30 Juli 2026 - 16:41 WIB

Krisis Air Bersih di Situbondo, Warga Rela Antre Jerigen demi Dapat Bantuan BPBD

Berita Terbaru