Tuban – Peringatan Tahun Baru Imlek di TITD Kwan Sing Bio, Minggu pagi (22/02/2026), sempat diwarnai ketegangan setelah pengelola melarang kegiatan digelar. Meski demikian, acara tetap berlangsung dan justru dibanjiri pengunjung yang datang silih berganti.
Situasi sempat memanas antara kubu Go Tjong Ping yang mengklaim sebagai pimpinan klenteng saat ini dengan pihak pengelola sebelumnya dari Surabaya. Ketegangan terjadi ketika kegiatan perayaan Imlek yang diinisiasi oleh Go Tjong Ping tidak mendapat izin dari pengelola.
Namun, karena masyarakat dan pengunjung terus berdatangan, kegiatan akhirnya tetap dilaksanakan dan dipusatkan di halaman dalam klenteng.
Klaim Kepengurusan Baru Berlaku Sejak Awal 2025
Go Tjong Ping menyampaikan bahwa saat ini kepemimpinan klenteng telah berada di bawah pihaknya. Ia menyebut masa swakelola oleh Sudomo Margonoto bersama Ali Markus dan Paulus Willy Efendi telah berakhir pada 31 Desember 2024.
“Terimakasih bapak Sudomo, Ali Markus, PW Efendi telah membantu mengelola selama empat tahun ini,” ujarnya kepada awak media.
Ia menegaskan, ke depan pengelolaan akan dilakukan oleh pihak lokal Tuban dengan agenda rutin untuk menghidupkan kembali aktivitas sosial dan budaya di klenteng.
Akan Digelar Pesta Rakyat Rutin
Menurutnya, kegiatan seperti perayaan Imlek kali ini akan dijadikan agenda berkala, setidaknya satu bulan sekali, guna menghidupkan kembali klenteng yang disebutnya sempat vakum aktivitas selama kurang lebih 14 tahun.
“Dengan adanya kegiatan di klenteng, perputaran ekonomi di Tuban besar, sampai miliaran rupiah. Penginapan hidup, UMKM hidup. Sayang sekali 14 tahun tidak ada kegiatan karena tidak ada pengurus,” jelasnya.
Hadirkan Barongsai hingga Reog Ponorogo
Acara dikemas dalam bentuk pesta rakyat dengan menghadirkan berbagai pertunjukan seni budaya, seperti barongsai dan reog, serta pembagian undian kepada pengunjung setiap satu jam hingga pukul 16.00 WIB.
Go Tjong Ping menyebut pemilihan kesenian reog bukan tanpa alasan. Selain sebagai hiburan, ia meyakini reog memiliki makna simbolis penolak bala dan pembawa berkah.
“Reog ini bisa menambak (menghalangi) hujan,” ucapnya.
Belum Ada Tanggapan Resmi dari Pihak Pengelola Lama
Sementara itu, pihak Sudomo Margonoto belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim kepengurusan maupun pelaksanaan kegiatan tersebut. Saat dikonfirmasi, yang bersangkutan belum memberikan jawaban.
Peristiwa ini menunjukkan masih adanya dinamika terkait pengelolaan salah satu ikon religi dan wisata budaya di Tuban, meski di sisi lain masyarakat terlihat antusias menyambut kembali kegiatan yang telah lama tidak digelar. (Az)












