Dirgahayu Republik Indonesia ke-81

Warga Ring Tuntut Kompensasi Pasca Kebakaran di Area TPPI Tuban

- Reporter

Senin, 27 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Warga Dua Desa gelar aksi tuntut kompensasi pasca kebakaran Kilang TPPI Tuban, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Warga Dua Desa gelar aksi tuntut kompensasi pasca kebakaran Kilang TPPI Tuban, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Tuban – Ratusan warga dari Desa Remen dan Tasikharjo, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, kembali menggelar aksi demonstrasi di pintu masuk PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), Senin (27/10/2025).
Mereka menuntut perusahaan memberikan kompensasi bagi ribuan warga terdampak pasca-insiden kebakaran pompa yang sempat memicu kepanikan massal beberapa waktu lalu.

Tuntutan Kompensasi dan Tenaga Kerja Lokal

Koordinator aksi, Sutrisno, menyebut tuntutan utama warga adalah pemberian kompensasi berupa paket sembako senilai Rp300 ribu per kepala keluarga (KK).
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, warga menilai insiden tersebut meninggalkan dampak psikologis dan kesehatan bagi masyarakat sekitar.
“Anak-anak, termasuk keponakan saya, trauma melihat asap hitam dari flare. Mereka ketakutan. Ini contoh kecil dari dampaknya,” ujar Sutrisno.
Ia menambahkan, beberapa warga mengalami gangguan kesehatan seperti diare dua hari setelah kejadian. Dari data yang dihimpun, jumlah penerima kompensasi yang diusulkan mencapai sekitar 2.000 KK, terdiri dari 1.200 KK di Desa Remen dan 780 KK di Desa Tasikharjo.
Selain kompensasi, massa juga menuntut agar TPPI memprioritaskan tenaga kerja lokal dalam setiap proses rekrutmen. Warga menilai selama ini kesempatan kerja lebih banyak diatur oleh Kilang Pertamina Internasional (KPI), sehingga masyarakat sekitar sulit mendapatkan peluang.
“Kami hanya minta ada skala prioritas, misalnya dua persen untuk warga lokal,” tegas Sutrisno.

Kritik terhadap Komunikasi Perusahaan

Massa aksi juga menyoroti lemahnya komunikasi antara TPPI dengan masyarakat sekitar. Mereka menuntut agar fungsi humas perusahaan kembali diaktifkan sebagai jembatan penyampai aspirasi warga.
“Kami ingin humas aktif lagi dan ada kuota humas. Komunikasi selama ini sangat kurang,” tambah Sutrisno.
Dalam aksinya, warga menolak ajakan audiensi tertutup dari pihak manajemen TPPI. Mereka khawatir pertemuan di ruang tertutup akan menimbulkan kecurigaan dan kesalahpahaman.
“Kami ingin audiensi terbuka di balai desa agar masyarakat tahu hasilnya. Jangan sampai ada fitnah,” katanya.

Kekhawatiran atas Keamanan Fasilitas

Warga juga menyampaikan kekhawatiran terhadap kondisi fasilitas pabrik yang dinilai sudah menua dan berpotensi menimbulkan risiko baru.
“Pabrik ini berdiri sejak 1997 dan beroperasi sejak 2004. Banyak jalur pipa yang harus diperbaiki. Kami takut kebakaran seperti kemarin terulang,” ujar Sutrisno.

Respons Pihak TPPI

Menanggapi aksi tersebut, Area Manager CSR & Comrell TPPI, Tinoto Hadi Sucipto, menyebut perusahaan telah beberapa kali melakukan pertemuan dengan masyarakat yang difasilitasi Forkopimca dan BPBD Tuban. Namun, dua tuntutan utama terkait kompensasi dan tenaga kerja lokal masih dalam pembahasan.
“Sejak pertemuan pertama hingga ketiga, warga tetap menyampaikan dua tuntutan utama itu,” jelas Tinoto.
TPPI, lanjutnya, terbuka terhadap penyelesaian permasalahan, namun menilai perlu adanya mediator independen agar hasil pembahasan lebih objektif dan dapat diterima semua pihak.
“Kami berharap ada pihak ketiga yang bisa menilai secara objektif tuntutan warga,” ujarnya.
Terkait nominal kompensasi Rp300 ribu per KK, Tinoto menegaskan bahwa angka tersebut belum pernah disampaikan secara resmi kepada perusahaan. Soal kemampuan perusahaan memenuhi nilai tersebut, menurutnya masih memerlukan kajian dan justifikasi teknis.

Langkah Evaluasi Keamanan

Sebagai langkah antisipasi, TPPI telah melakukan evaluasi dan perbaikan sistem keamanan operasional.
“Kami sudah melakukan evaluasi menyeluruh. Sistem keselamatan terus ditingkatkan agar kejadian seperti kemarin tidak terulang,” tegas Tinoto.

Hingga berita ini diturunkan, massa masih bertahan di lokasi aksi. Mereka berencana melanjutkan demonstrasi hingga empat hari ke depan dan mengancam mendirikan tenda di dua pintu utama jika belum tercapai kesepakatan. (Az)

Editor : Kief

Berita Terkait

Laut Tuban Mencekam, MV Khatulistiwa 8 Tabrak Tongkang, 1 Awak Hilang
40 Warga Tuban Kembali Menata Masa Depan Lewat PKBM Adhyaksa
58 Gerai KDMP di Tuban Belum Dibangun, Masalah Lahan Jadi Kendala
Kasus Tukar Guling TKD Purworejo Masuk Meja Perundingan Pemkab Tuban
Regulasi Baru, BPD Didorong Perkuat Pengawasan Desa
PCNU Sekadau Kembalikan Uang ke KPK, Bongkar Dugaan Transaksi Muktamar dari Jakarta hingga Jombang
AKTOR SEJATI : Ketika Tuduhan Suap Berhadapan dengan Klaim Bersih, Publik Berhak Bertanya
El Nino Mengancam Tuban, BMKG Ingatkan Warga: Jangan Bakar Lahan!

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 10:32 WIB

Laut Tuban Mencekam, MV Khatulistiwa 8 Tabrak Tongkang, 1 Awak Hilang

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:08 WIB

40 Warga Tuban Kembali Menata Masa Depan Lewat PKBM Adhyaksa

Rabu, 7 Oktober 2026 - 17:11 WIB

58 Gerai KDMP di Tuban Belum Dibangun, Masalah Lahan Jadi Kendala

Rabu, 7 Oktober 2026 - 16:58 WIB

Kasus Tukar Guling TKD Purworejo Masuk Meja Perundingan Pemkab Tuban

Rabu, 7 Oktober 2026 - 14:24 WIB

Regulasi Baru, BPD Didorong Perkuat Pengawasan Desa

Berita Terbaru

Suasana ruang sidang paripurna DPRD Tuban (gambar : Assa Annazili)

Pemerintah

Regulasi Baru, BPD Didorong Perkuat Pengawasan Desa

Rabu, 7 Okt 2026 - 14:24 WIB

Banner Liputansatu
Banner Liputansatu
Banner Liputansatu