TUBAN — Kelangkaan pupuk bersubsidi kembali mencuat di Kabupaten Tuban. Sejumlah petani di Kecamatan Kerek mengaku kesulitan memperoleh pupuk pada Musim Tanam (MT) I dan MT II, periode krusial yang menentukan fase pertumbuhan tanaman sekaligus proyeksi hasil panen.
Keterlambatan maupun keterbatasan pasokan pupuk pada masa tanam awal berdampak langsung terhadap kualitas perawatan tanaman. Pemupukan yang tidak tepat waktu berpotensi menurunkan produktivitas, bahkan memicu gagal panen pada komoditas utama seperti padi, jagung, dan kacang.
Persoalan tersebut mendapat perhatian Komisi III DPRD Kabupaten Tuban. Anggota Komisi III, Lukman Hakim, menilai problem pupuk subsidi tidak dapat dipahami sebatas ada atau tidaknya stok di gudang.
“Perlu evaluasi menyeluruh. Ini bukan hanya soal ketersediaan, tetapi juga distribusi, validitas data penerima, serta ketepatan alokasi berdasarkan luas lahan,” ujarnya.
Menurut dia, ketidaktepatan distribusi akan menciptakan ketimpangan di tingkat petani. Jika berlarut-larut, kondisi ini bukan hanya merugikan petani secara ekonomi, tetapi juga berpotensi mengganggu target produksi pertanian daerah, bahkan agenda swasembada pangan yang tengah didorong pemerintah pusat.
Komisi III mendesak dinas teknis melakukan evaluasi sistem penyaluran pupuk bersubsidi dari hulu ke hilir, mulai gudang distributor hingga kios resmi. Pupuk, kata Lukman, harus tersedia tepat waktu, khususnya menjelang dan saat MT I serta MT II berlangsung.
Selain itu, pembaruan data petani melalui sistem elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK) maupun Simlutan dinilai mendesak agar kuota pupuk benar-benar sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan. Akurasi data menjadi kunci agar subsidi tidak salah sasaran atau menimbulkan kekosongan di wilayah tertentu.
Pengawasan di tingkat kios juga perlu diperketat untuk mencegah praktik penjualan di luar ketentuan, termasuk potensi distribusi tidak sesuai jadwal.
Di tingkat petani, keresahan kian terasa. Junaedi, petani asal Desa Temayang, Kecamatan Kerek, mengungkapkan bahwa selama musim tanam, sejumlah kios hanya melakukan penebusan pupuk satu kali dalam sebulan. Ironisnya, penebusan justru lebih sering terjadi setelah masa tanam usai.
“Kalau pupuk datang setelah masa tanam selesai, tentu tidak banyak membantu. Perawatan tidak maksimal dan hasil panen menurun. Jagung, padi, bahkan kacang yang kami tanam hampir gagal,” ujarnya.
Keluhan serupa datang dari petani di Desa Karanglo, Gaji, dan Padasan. Petani di Desa Gaji menyebut stok pupuk subsidi yang tersedia belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh anggota kelompok tani.
Para petani berharap ada prioritas distribusi pada masa tanam awal agar kebutuhan pupuk terpenuhi tepat waktu. Bagi mereka, kepastian pupuk bukan sekadar persoalan teknis distribusi, melainkan penentu keberhasilan panen dan keberlangsungan ekonomi keluarga.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Tuban, Eko Julianto, belum memberikan tanggapan atas keluhan tersebut. (Az/Kiev).
Editor : Mukhyidin Khifdhi












