Tuban – Kecelakaan maut yang merenggut nyawa pengemudi ojek online (ojol), Muhammad Iqbal, di depan proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR) Tuban terus menuai sorotan. Di tengah duka yang menyelimuti keluarga korban, pihak kontraktor proyek kini mendapat kritik lantaran dinilai belum menunjukkan tanggung jawab terbuka atas insiden tersebut.
Korban, warga Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Tuban, mengalami kecelakaan pada Selasa dini hari (12/05/2026) saat mengendarai sepeda motor Honda Scoopy bernopol S-2408-EX dari arah barat menuju Kota Tuban.
Saat melintas di depan proyek pembangunan SR, korban diduga kehilangan kendali setelah melintasi gundukan aspal bekas galian saluran air menuju proyek tersebut. Korban kemudian terjatuh dan meninggal dunia di lokasi kejadian.
Aspal Mengelupas Diduga Akibat Aktivitas Truk Proyek
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kerusakan jalan disebut muncul setelah proses pemasangan saluran PDAM menuju proyek SR selesai dilakukan. Aspal yang baru ditutup diduga belum stabil saat dilintasi kendaraan berat proyek pada malam hari.
Warga menyebut, sebelum kecelakaan terjadi kondisi jalan di titik tersebut sudah mengalami gelombang dan mengelupas. Namun pengamanan di lokasi dinilai belum maksimal.
Alih-alih dilakukan penanganan serius, lokasi hanya dipasangi traffic cone dengan jarak yang disebut terlalu dekat dari titik kerusakan jalan.
Kondisi tersebut diperparah minimnya penerangan pada malam hari sehingga pengguna jalan diduga kesulitan mengantisipasi adanya gundukan aspal di jalur aktif perkotaan tersebut.
Polisi Sebut Faktor Kelalaian Pengendara Masih Didalami
Kanit Gakkum Satlantas Polres Tuban, Eko Sulistyo, sebelumnya menyampaikan dugaan awal kecelakaan dipicu faktor kurang konsentrasi pengendara.
Namun dalam konfirmasi lanjutan kepada Liputansatu.id pada Rabu (13/05/2026), pihaknya menyebut penyelidikan masih terus berjalan dan belum menyimpulkan secara menyeluruh penyebab pasti kecelakaan.
“Ini baru permulaan laporan, belum ada penyelidikanya, laporan nanti didalami tentang kecelakaannya,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memunculkan perhatian publik karena sebelumnya narasi awal kecelakaan sempat mengarah pada faktor kelalaian pengendara.
DPRD Tuban Akui Jalan Rusak Akibat Aktivitas Proyek
Anggota Komisi I DPRD Tuban, Siswanto, mengungkapkan dirinya mengetahui adanya kerusakan jalan di lokasi tersebut akibat proses pemasangan pipa menuju proyek SR.
“Mulai gali, pasang pipa, baru diuruk, dipadatkan, diaspal. Kemarin sore, sudah rampung dari PDAM itu,” ujarnya.
Namun beberapa jam setelah pengaspalan selesai, jalan kembali rusak diduga akibat dilalui kendaraan berat proyek.
“Setelah magrib itu kan ada kendaraan truk besar yang menuju Sekolah Rakyat. Karena mungkin aspal baru, urukan baru, posisi belok, akhirnya jalan aspal itu mengelupas,” katanya.
Menurutnya, pengamanan di lokasi sebenarnya sudah ada, namun belum maksimal karena lampu peringatan tidak terlihat jelas pada malam hari.
“Gundukan itu sudah dipasangi safety sebenarnya. Cuman memang karena malam hari gak ada lampunya sehingga mungkin gak kelihatan oleh pengguna jalan,” jelasnya.
Aspek K3 Proyek Jadi Sorotan
Peristiwa ini turut memunculkan sorotan terhadap penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) proyek konstruksi di kawasan perkotaan.
Dalam pedoman keselamatan konstruksi jalan dan jembatan, area pekerjaan jalan pada jalur aktif umumnya wajib dilengkapi penerangan memadai, rambu yang mudah terlihat, serta pengamanan tambahan terutama saat malam hari.
Apalagi lokasi proyek berada di jalur utama perkotaan yang tetap ramai dilintasi kendaraan hingga dini hari.
Dinsos Tuban Siapkan Santunan untuk Keluarga Korban
Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Dinsos P3A PMD Tuban, Eko Wardono, menyampaikan pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap kejadian tersebut dan berkoordinasi terkait bantuan bagi keluarga korban.
“Ini sedang kami koordinasikan dengan Lurah Sidomulyo,” ujarnya.
Ia menegaskan proyek tersebut berada di bawah kewenangan Kementerian PUPR, namun peristiwa ini tetap akan menjadi bahan evaluasi yang dilaporkan ke pihak terkait.
“Pengerja sendiri kan perusahaan besar, tentu punya SOP untuk masalah seperti ini. Tapi yang jelas menjadi perhatian dari kami untuk kami laporkan,” tegasnya.
Sementara hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak kontraktor PT Waskita Karya maupun PDAM terkait dugaan minimnya pengamanan proyek dan kondisi jalan sebelum kecelakaan terjadi. (Az)












