Tuban – Ratusan pengendara ojek online (ojol) di Kabupaten Tuban menggelar aksi solidaritas di lokasi kecelakaan maut yang merenggut nyawa rekan mereka, Muhammad Iqbal, di Jalan Letda Sucipto, depan proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR), Rabu malam (13/05/2026).
Aksi berlangsung damai dengan diwarnai doa bersama, tabur bunga, penyalaan lilin, serta orasi bergantian dari sejumlah komunitas ojol. Mereka menuntut pihak-pihak yang berkaitan dengan proyek di lokasi kejadian bertanggung jawab atas insiden yang menewaskan rekannya tersebut.
Suasana haru menyelimuti lokasi saat para pengendara ojol berkumpul di titik tempat korban diduga mengalami kecelakaan akibat gundukan aspal bekas aktivitas proyek.
Ojol Soroti Pengamanan Proyek
Dalam orasinya, salah satu peserta aksi, Ali Syafaat, menilai kecelakaan yang menimpa rekannya tidak bisa dilepaskan dari aktivitas proyek pembangunan di sekitar lokasi.
“Seharusnya dalam pengerjaan proyek itu harus zero accident, pihak proyek juga harus memasang rambu dan lampu peringatan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan sesama pengendara ojol agar lebih berhati-hati saat bekerja di malam hari, terutama ketika melintasi jalur proyek dan area minim penerangan.
“Kalau capek lebih baik istirahat dulu,” tambahnya.
Komunitas Ojol Akan Kawal Kasus
Koordinator aksi yang juga Ketua Komunitas Langgeng, Nanang Sasmito, menegaskan aksi tersebut merupakan bentuk solidaritas sekaligus dorongan agar proses penanganan kasus dilakukan secara adil dan transparan.
“Kami keberatan dari apa yang disampaikan jika rekan kami kecelakaan tunggal ya, padahal itu ada gundukan dan tidak ada penanda apapun,” ujarnya kepada awak media usai aksi.
Menurutnya, komunitas ojol akan terus mengawal kasus tersebut hingga keluarga korban mendapatkan perhatian dan kejelasan terkait peristiwa yang terjadi.
Keluarga Korban Soroti Tali Asih
Sementara itu, pihak keluarga korban juga mengaku masih keberatan dengan penanganan yang dilakukan pihak terkait proyek.
Sujiono, keluarga korban, menyampaikan bahwa pihak keluarga memang telah menerima tali asih. Namun nilai yang diberikan dinilai belum sebanding dengan kehilangan yang dialami keluarga.
“Memang diberi tadi dari SR (Sekolah Rakyat),” ujarnya.
Saat ditanya nominal bantuan tersebut, ia menyebut keluarga menerima uang sebesar Rp20 juta.
Meski demikian, keluarga menilai persoalan ini bukan hanya soal nominal bantuan, melainkan juga bentuk tanggung jawab moral atas kejadian yang menewaskan korban.
Komunitas Minta Keluarga Korban Diperhatikan
Ketua Komunitas PDOI Tuban, Hendra Waskita, yang turut hadir dalam aksi tersebut mengaku ikut mendampingi proses penyerahan tali asih kepada keluarga korban.
Ia berharap perhatian terhadap keluarga korban tidak berhenti setelah pemberian bantuan dilakukan.
“Harap diperhatikan lagi, tidak hanya datang memberi lalu tidak diperhatikan lagi. Namun juga kelegaan dari keluarga korban,” ujarnya.
Hendra menegaskan komunitas ojol merasa sangat kehilangan sosok rekan kerja mereka. Ia juga menyinggung bahwa peristiwa serupa sebelumnya pernah terjadi dan menimpa pengendara ojol di daerah lain.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kontraktor proyek terkait tuntutan para pengemudi ojol maupun sorotan terhadap sistem pengamanan proyek di lokasi kecelakaan. (Az)












