Situbondo – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau langsung lokasi terdampak banjir di Desa Kalianget dan Desa Lubawang, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo, Jumat (23/01/2026). Kunjungan tersebut merupakan bentuk perhatian dan respons cepat Pemerintah Provinsi Jawa Timur terhadap bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Situbondo dalam beberapa hari terakhir.
Dalam peninjauan tersebut, Gubernur Khofifah didampingi Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo dan Wakil Bupati Ulfiyah. Rombongan mengecek langsung kondisi Sungai Lubawang yang menjadi salah satu titik rawan banjir akibat sedimentasi dan luapan air saat hujan deras.
Cek Sungai Lubawang dan Serahkan Bantuan ke Warga
Selain meninjau aliran Sungai Lubawang, Gubernur Khofifah juga berdialog langsung dengan warga terdampak banjir serta menyerahkan bantuan. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus melakukan berbagai langkah mitigasi guna mengurangi risiko banjir, salah satunya melalui pengerukan sungai di daerah rawan.
Menurut Khofifah, pengerukan sungai telah dilakukan secara signifikan di Kecamatan Mlandingan dan Kendit dengan hasil yang mulai terlihat.
“Sejauh ini kondisi di Mlandingan dan Kendit sudah jauh membaik,” ujarnya.
Curah Hujan Januari Meningkat Tajam
Gubernur Khofifah mengungkapkan bahwa curah hujan pada Januari 2026 mengalami peningkatan cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya.
“Curah hujan Januari ini hampir tiga kali lipat dibandingkan Desember. Sementara untuk Februari diperkirakan masih sekitar 22 persen,” jelasnya.
Kondisi tersebut, lanjut Khofifah, menjadi salah satu faktor utama meningkatnya potensi banjir di sejumlah wilayah Jawa Timur, termasuk Kabupaten Situbondo.
Modifikasi Cuaca Terkendala Anggaran
Untuk menekan dampak cuaca ekstrem, Pemprov Jatim telah melaksanakan operasi modifikasi cuaca sejak 5 Desember 2025. Namun, pelaksanaannya masih terbatas akibat keterbatasan anggaran daerah.
“Idealnya Jawa Timur bisa melakukan modifikasi cuaca di empat hingga lima titik. Namun karena keterbatasan APBD, saat ini baru bisa dilakukan di dua sampai tiga titik,” terang Khofifah.
Ia menjelaskan, modifikasi cuaca dilakukan melalui dua metode, yakni penaburan garam pada awan di wilayah laut dan penaburan kapur pada awan yang telah bergerak ke daratan.
“Tujuannya agar hujan turun lebih merata dan tidak terkonsentrasi di satu wilayah,” tambahnya.
Normalisasi Sungai dan Penguatan Tebing Jadi Prioritas
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Khofifah menginstruksikan Dinas Cipta Karya untuk menambah bronjong berlapis di sepanjang bantaran Sungai Lubawang guna memperkuat tebing sungai.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa penguatan tebing harus dibarengi dengan normalisasi sungai melalui pengerukan.
“Tetap perlu dilakukan pengerukan,” tegasnya.
Pemprov Jatim juga berencana menurunkan alat berat berupa ekskavator untuk mendukung normalisasi sungai. Namun, teknis akses alat berat masih akan dikoordinasikan dengan Pemerintah Kabupaten Situbondo mengingat keterbatasan jalur melalui permukiman warga.
Antisipasi Musim Tanam dan Kebutuhan Air Pertanian
Khofifah menambahkan, hasil tinjauan lapangan menunjukkan adanya sedimentasi cukup tebal di beberapa titik sungai. Mengingat wilayah tersebut akan segera memasuki musim tanam, Pemprov Jatim juga menyiapkan langkah antisipasi di sektor pertanian.
“Dinas Sumber Daya Air akan menyiapkan sarana pengairan berupa pipa-pipa agar kebutuhan air pertanian tetap terpenuhi. Menjelang musim tanam, pengairan sawah warga harus tetap aman,” pungkasnya. (Fia)
Editor : Kief















