Situbondo – Cuaca ekstrem berupa angin kencang dan gelombang tinggi yang melanda perairan Selat Madura dalam beberapa pekan terakhir memaksa nelayan di pesisir Kabupaten Situbondo menghentikan aktivitas melaut. Demi menyambung hidup, banyak nelayan terpaksa banting setir mencari pekerjaan alternatif.
Laut yang biasanya menjadi tumpuan utama penghidupan kini berubah menjadi ancaman. Risiko kecelakaan akibat gelombang tinggi membuat nelayan memilih bertahan di darat meski berarti kehilangan sumber pendapatan harian.
Dari Laut ke Jalanan: Nelayan Berjuang di Tengah Keterbatasan
Tak sedikit nelayan yang kini terlihat berjualan di pinggir jalan, bekerja serabutan, hingga memanfaatkan jejaring keluarga untuk bertahan. Kondisi ini menjadi gambaran nyata rapuhnya ekonomi nelayan kecil saat cuaca tak bersahabat.
Salah satunya Pak Gondrong, nelayan asal Desa Kalbut, Situbondo. Ketika laut tak lagi memberi ruang, ia beralih menjadi pedagang pisang. Pisang tersebut didatangkan dari Pulau Sapudi, Madura, untuk kemudian dijual kembali di wilayah Situbondo.
“Saya sudah umur. Kalau kerja bangunan tidak sanggup. Sementara ini saya beli pisang dari Madura karena ada saudara, bisa utang dulu. Yang penting ada pemasukan buat keluarga,” ujarnya sambil menata pisang di atas sepeda motor.
Cuaca Buruk Berkepanjangan Tekan Ekonomi Nelayan
Para nelayan mengakui cuaca buruk merupakan risiko yang biasa mereka hadapi. Namun kali ini, durasi cuaca ekstrem yang berkepanjangan menjadi beban berat, terutama bagi nelayan tradisional yang menggantungkan hidup pada hasil tangkapan harian.
“Kalau cuaca buruk sebentar masih bisa ditahan. Tapi ini sudah lama, mau tidak mau kami harus cari cara lain supaya dapur tetap ngebul,” kata Pak Gondrong.
Aparat Imbau Nelayan Utamakan Keselamatan
Kepala Satuan Polisi Air dan Udara (Kasatpolairud) Polres Situbondo, AKP Gede Sukarmadiyasa, menegaskan pihaknya terus mengimbau nelayan agar tidak memaksakan diri melaut saat cuaca ekstrem.
“Keselamatan jiwa adalah yang utama. Kami minta nelayan mematuhi peringatan cuaca dari BMKG,” tegas AKP Gede.
Ia menambahkan, pembinaan terus dilakukan agar nelayan siap saat cuaca membaik. Nelayan diimbau menggunakan life jacket dan membawa alat komunikasi ketika kembali melaut.
Bagi nelayan Situbondo, banting setir bukan pilihan ideal, melainkan langkah darurat. Harapan mereka sederhana: cuaca segera membaik agar bisa kembali melaut dengan aman dan memperoleh penghasilan yang layak.
“Kami hanya ingin kembali ke laut seperti biasa, mencari rezeki dengan tenang,” pungkas Pak Gondrong. (Az)
Editor : Kief















