Tuban – Debu tebal yang beterbangan setiap kali truk bermuatan melintas menjadi pemandangan sekaligus persoalan sehari-hari bagi warga Dusun Penebusan, Desa Kepohagung, Kecamatan Plumpang. Jalan desa yang dulunya beraspal kini berubah menjadi jalan makadam akibat sering dilalui kendaraan berat yang diduga berkaitan dengan aktivitas penambangan.
Debu Masuk Hingga ke Dalam Rumah
Warga mengaku kondisi tersebut telah berlangsung cukup lama. Saat musim kemarau, debu beterbangan hingga mengotori halaman dan masuk ke dalam rumah. Sebaliknya, ketika hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang menyulitkan aktivitas masyarakat.
“Setiap ada truk lewat di sini debu sampai ke rumah saya,” ujar salah seorang warga.
Menurutnya, sebelum ramai dilintasi kendaraan berat, jalan tersebut masih beraspal dan nyaman digunakan masyarakat.
“Di sini dulu jalan beraspal, tapi semenjak dilalui truk-truk tambang ini jalannya menjadi jalanan makadam,” imbuhnya.
Jalan Desa Berubah Fungsi
Berdasarkan informasi yang dihimpun, ruas jalan tersebut tercatat sebagai jalan desa. Namun, intensitas kendaraan bertonase besar yang melintas disebut membuat kondisi jalan mengalami kerusakan sehingga memunculkan keluhan dari warga.
Selain mengganggu kenyamanan, debu yang ditimbulkan juga dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan lansia yang setiap hari menghirup udara bercampur debu.
Sumber terpercaya menyebutkan pemerintah desa sebelumnya telah mempertemukan perwakilan PT Timbul Jaya Persada dengan pihak desa untuk membahas kerusakan jalan.
Dalam pertemuan tersebut, perusahaan disebut belum bersedia menanggung seluruh biaya perbaikan jalan dan menawarkan skema pembiayaan bersama atau fifty-fifty dengan pemerintah desa.
Tanggapan Perusahaan
Saat dikonfirmasi, pihak PT Timbul Jaya Persada meminta agar terlebih dahulu dipastikan kepemilikan truk-truk yang melintas di lokasi tersebut.
“Dipelajari lagi itu (truk-truk yang melintas, red.) milik siapa. Yang jelas Timbul sudah melakukan pembasahan setiap hari,” ujar bagian K3 PT Timbul Jaya Persada, Dika kepada Liputansatu.id (05/08_2026).
Meski demikian, warga berharap ada solusi konkret agar jalan desa kembali layak dilalui dan aktivitas mereka tidak lagi terganggu debu saat kemarau maupun lumpur saat musim penghujan.
Kondisi ini sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai tanggung jawab pihak-pihak yang memanfaatkan jalan desa sebagai akses kendaraan berat, terutama terkait pemeliharaan dan pemulihan infrastruktur yang terdampak. (Az)












