Promo
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadan 1447 H 2026 M Pemerintah Kabupaten Tuban

Jalan Desa Dikorbankan Demi Jagung? Dilema Ekonomi vs Keselamatan di Kerek Tuban

- Reporter

Minggu, 12 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Bupati Tuban, Joko Sarwono, saat memberikan keterangan kepada awak media terkait keluhan warga soal truk tronton pengangkut jagung yang merusak jalan desa di Kecamatan Kerek, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Wakil Bupati Tuban, Joko Sarwono, saat memberikan keterangan kepada awak media terkait keluhan warga soal truk tronton pengangkut jagung yang merusak jalan desa di Kecamatan Kerek, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Tuban – Jalan desa rusak, jembatan retak, dan rasa aman warga perlahan hilang. Di balik geliat distribusi jagung di Kecamatan Kerek, tersimpan persoalan serius: apakah infrastruktur desa harus dikorbankan demi roda ekonomi?
Keluhan warga bukan tanpa alasan. Truk tronton bermuatan jagung kerap melintasi jalur penghubung antar desa yang sejatinya tidak dirancang untuk kendaraan bertonase besar. Dampaknya nyata—jalan cepat rusak, bahkan jembatan di Desa Wolutengah yang baru diperbaiki kembali mengalami kerusakan.
Fenomena ini memunculkan dilema klasik: antara menjaga keberlangsungan aktivitas ekonomi lokal dan melindungi keselamatan serta kenyamanan masyarakat.

Infrastruktur Desa Tak Dirancang untuk Beban Berat

Secara aturan, setiap jalan memiliki kelas yang menentukan jenis kendaraan yang boleh melintas. Namun di lapangan, aturan ini kerap diabaikan.
Truk tronton yang seharusnya melintas di jalur utama, justru masuk ke jalan desa demi efisiensi distribusi. Akibatnya, jalan yang tidak memiliki struktur memadai dipaksa menanggung beban berlebih.
Kerusakan pun tak terhindarkan. Aspal mengelupas, badan jalan ambles, hingga jembatan mengalami retak struktural.

Warga Menanggung Risiko, dari Kerusakan hingga Ancaman Nyawa

Bagi warga, persoalan ini bukan sekadar infrastruktur, tapi juga soal keselamatan.
Jalan sempit yang dilalui truk besar meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi pengendara roda dua dan pejalan kaki. Selain itu, aktivitas harian warga ikut terganggu—mulai dari akses sekolah, distribusi hasil tani kecil, hingga mobilitas darurat.
Keluhan demi keluhan pun terus bermunculan, menandakan persoalan ini bukan insiden sesaat, melainkan masalah yang berulang.

Pemkab Tuban Akui Dilema: Ekonomi vs Aturan

Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Bupati Tuban, Joko Sarwono, menyatakan bahwa pemerintah akan melakukan penertiban.
“Aturan main tentang kelas jalan itu harus diberlakukan,” ujarnya.
Namun di sisi lain, Pemkab juga tidak menutup mata bahwa keberadaan truk tersebut menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat di Kecamatan Kerek.
Distribusi jagung, sebagai komoditas penting, turut menggerakkan roda ekonomi lokal—mulai dari petani hingga pelaku usaha.
Inilah yang kemudian membuat penanganan persoalan tidak bisa dilakukan secara sederhana.

Evaluasi Kelas Jalan Jadi Kunci

Sebagai langkah awal, Pemkab Tuban berencana melakukan evaluasi terhadap kelas jalan di wilayah Kecamatan Kerek.
Langkah ini dinilai penting untuk:
• Menentukan jalur yang layak dilintasi kendaraan berat
• Mencegah kerusakan infrastruktur yang lebih parah
• Menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan keselamatan
Namun pertanyaannya, apakah evaluasi ini akan benar-benar diikuti dengan penegakan aturan yang tegas?

Jalan Desa Bukan Korban yang Harus Diterima

Kasus di Kerek menjadi potret nyata bagaimana lemahnya pengaturan dan pengawasan bisa berdampak langsung pada masyarakat.
Jika dibiarkan, bukan hanya jalan yang rusak—kepercayaan publik terhadap pengelolaan infrastruktur juga ikut tergerus.
Pada akhirnya, pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit:
membiarkan pelanggaran demi ekonomi jangka pendek, atau menegakkan aturan demi keselamatan dan keberlanjutan jangka panjang. (Az)

Berita Terkait

Viral Dugaan Penganiayaan Badut Oleh Anggota Propam Tuban, Polisi Sebut Kasus Sudah Dimediasi
19 Dapur MBG Disuspend, Pemkab Situbondo Minta Disikapi Sebagai Evaluasi
Jelang Operasi Patuh Kapuas 2026, Polres Melawi Bidik Balap Liar dan Knalpot Brong
Modus Lowongan Kerja di Pabrik Semen, Warga Tuban Rugi Rp54 Juta
Gerebek Lokasi Es Moni, Satpol PP Tuban Curiga Ada Kebocoran Informasi
Lapangan Kerja Terbatas, 73 Warga Tuban Pilih Merantau ke Hong Kong dan Taiwan
Geger! Bayi Laki-laki Ditemukan Tak Bernyawa Dalam Tas Kondangan di Tuban
DPRD Tuban Minta Evaluasi Debu Klinker SBI yang Dikeluhkan Warga

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 17:59 WIB

Viral Dugaan Penganiayaan Badut Oleh Anggota Propam Tuban, Polisi Sebut Kasus Sudah Dimediasi

Jumat, 5 Juni 2026 - 16:35 WIB

19 Dapur MBG Disuspend, Pemkab Situbondo Minta Disikapi Sebagai Evaluasi

Jumat, 5 Juni 2026 - 13:43 WIB

Jelang Operasi Patuh Kapuas 2026, Polres Melawi Bidik Balap Liar dan Knalpot Brong

Jumat, 5 Juni 2026 - 00:36 WIB

Modus Lowongan Kerja di Pabrik Semen, Warga Tuban Rugi Rp54 Juta

Kamis, 4 Juni 2026 - 19:46 WIB

Gerebek Lokasi Es Moni, Satpol PP Tuban Curiga Ada Kebocoran Informasi

Berita Terbaru

Tersangka kasus dugaan penipuan dengan modus menjanjikan pekerjaan di PT Swabina Gatra Rembang diamankan di Polsek Jatirogo, Tuban. Polisi turut menyita sejumlah barang bukti berupa training card, sertifikat kompetensi, bukti transfer, serta perlengkapan kerja yang diduga digunakan untuk meyakinkan korban, (Assayid Annazili/Liputansatu.id).

Hukum Kriminal

Modus Lowongan Kerja di Pabrik Semen, Warga Tuban Rugi Rp54 Juta

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:36 WIB

Advertisement
Promo Shopee
Berita Terbaru Hari Ini LiputanSatu.id
Ilustrasi LiputanSatu
Berita Tuban Terkini LiputanSatu.id
Gambar Berita LiputanSatu
Kabar Tuban Hari Ini - Klik Selengkapnya di LiputanSatu.id