Tuban – Gedung Sekolah Rakyat (SR) Tuban yang baru saja diresmikan dan beroperasi pada awal Agustus 2026 lalu, kini menuai sorotan tajam. Belum genap dua bulan digunakan, fasilitas asrama sekolah tersebut telah memakan korban akibat ambruknya salah satu struktur material bangunan pada Rabu (16/09/2026) sekira pukul 16.00 WIB.
Insiden ini menimpa seorang siswa kelas XI berinisial DR. Korban terpaksa dilarikan ke rumah sakit setelah terjatuh dan tertimpa runtuhan material pelindung bangunan yang diduga tidak mampu menahan beban.
Kepala Sekolah SR Tuban, Vera Khairun Nissa, saat dikonfirmasi membenarkan adanya kecelakaan yang dialami anak didiknya tersebut. Menurut Vera, insiden bermula saat sebuah kunci terlempar ke atas bagian luar asrama. Korban kemudian berinisiatif mengambil kunci tersebut secara mandiri dengan cara meraih bagian kanopi tanpa menggunakan tangga bantu. Nahas, saat tangan korban bertumpu untuk meraih kunci, konstruksi kanopi tersebut justru runtuh.
“Ya betul, namun saat jatuh korban sempat menghindar jadi tidak tertimpa secara keseluruhan. Hanya material yang diraihnya saja yang mengenai korban hingga mengakibatkan luka dan harus dilarikan ke rumah sakit,” ujar Vera.
Pihak manajemen SR Tuban menegaskan telah mengambil langkah cepat dengan memfasilitasi seluruh proses penanganan medis korban. “Kami langsung melakukan pendampingan hingga ke rumah sakit dan memberikan tanggung jawab penuh terhadap biaya pengobatan korban,” imbuhnya, seraya menambahkan bahwa pihak sekolah segera berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan instansi terkait.
Di sisi lain, Koordinator Wilayah PT Waskita Karya Tuban, Agus Saputra, tak menampik adanya insiden yang melukai siswa di fasilitas gedung baru tersebut. Ia menyatakan bahwa berdasarkan laporan timnya di lapangan, kejadian itu bukan akibat dari kelalaian teknis kegiatan konstruksi.
“Informasi dari tim di lapangan, insiden tersebut bukanlah akibat dari kegiatan konstruksi. Coba diklarifikasi kepada pihak SR saja karena masih ada perbedaan informasi antara pihak sekolah dengan tim kami,” kata Agus.
Agus meluruskan bahwa material yang runtuh tersebut bukanlah kanopi utama, melainkan struktur topi-topi kanopi yang berfungsi sebagai penahan air hujan agar tidak masuk ke jendela. Pihaknya menjelaskan bahwa bagian topi kanopi tersebut secara teknis memang tidak didesain untuk menopang berat tubuh manusia.
Aa
“Karena ada anak yang naik ke sana, akhirnya ambruk. Namun, nantinya akan tetap kami perbaiki,” jelas Agus sembari mengarahkan media untuk melakukan pertemuan langsung dengan tim teknis di area SR Tuban demi mendapatkan penjelasan yang lebih komprehensif.
Kendati pihak kontraktor menyatakan insiden ini murni akibat adanya beban luar dari siswa yang meraih struktur ringan tersebut, ambruknya material pada proyek yang baru seumur jagung ini tetap menyisakan pertanyaan besar publik. Aspek kualitas material, pengawasan proyek (quality control), hingga Sertifikat Laik Fungsi (SLF) gedung kini dipertanyakan.
Publik pun mendesak adanya evaluasi mendalam untuk memastikan apakah struktur bangunan publik bagi anak-anak sekolah ini sudah benar-benar memenuhi standar keamanan, guna mencegah potensi kejadian serupa di masa mendatang. (Aj)












