SURABAYA — Delapan tahun mengembangkan kawasan tambang di wilayah Pantura Jawa Timur, HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy mengaku baru benar-benar menyadari besarnya potensi yang selama ini berada dalam pengelolaannya. Kesadaran itu lahir bukan ketika memperoleh izin baru atau menemukan cadangan mineral baru, melainkan setelah meninjau kembali seluruh kawasan tambang bersama seorang mitra usaha asal Tiongkok.
Refleksi tersebut dituangkannya dalam sebuah catatan berjudul Menghargai Diri Sendiri: Catatan Subuh dari Bentangan Tambang Tanah Jawa. Tulisan itu bukan hanya memotret perjalanan bisnisnya, tetapi juga menjadi ajakan agar setiap orang mengenali dan memaksimalkan potensi yang telah dimiliki.
Delapan Tahun Membangun, Delapan Tahun Pula Lupa Menghitung
Khalilur mengisahkan dirinya mulai mengembangkan kawasan tambang Tanah Jawa sejak 2018. Dalam rentang waktu itu, aktivitas eksplorasi dan pengembangan terus dilakukan di sejumlah wilayah, terutama Gresik, Lamongan, dan Tuban.
Namun, menurut dia, kesibukan mengembangkan usaha justru membuatnya lupa melihat kembali sejauh mana aset yang telah berhasil dibangun.
Momentum itu datang ketika ia mendampingi seorang pengusaha batu bara dari Tiongkok mengunjungi berbagai lokasi tambang yang dikelolanya. Di tengah perjalanan tersebut, ia mengaku seperti dipertemukan kembali dengan hasil kerja yang selama bertahun-tahun jarang ia hitung secara utuh.
Klaim Menguasai Kawasan Tambang Strategis
Dalam catatannya, Founder & Owner Bandar Indonesia Grup (BIG) ini menyebut memiliki kawasan tambang dolomit yang tersebar di Gresik, Lamongan, dan Tuban. Berdasarkan pemetaan internal yang dilakukannya, luas kawasan tersebut diklaim melampaui area tambang yang selama ini dikelola sejumlah pelaku industri besar.
Ia juga menyebut mengelola 273 titik tambang kapur industri dan kalsium karbonat yang tersebar di delapan kabupaten di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Atas dasar itu, ia bahkan memperkenalkan istilah RAKAI (Raja Kapur Indonesia) sebagai representasi atas besarnya kawasan tambang kapur yang diklaim berada di bawah pengelolaannya.
Selain dolomit dan kapur, Khalilur juga menyoroti potensi pasir silika yang dinilainya memiliki prospek ekonomi tinggi seiring meningkatnya kebutuhan industri kaca dan manufaktur nasional.
Hilirisasi Dinilai Menjadi Kunci Nilai Tambah
Bagi Khalilur, kekuatan sektor pertambangan tidak semata-mata terletak pada besarnya cadangan mineral, melainkan pada kemampuan mengolahnya menjadi produk bernilai tambah.
Ia menilai selama ini banyak pelaku usaha masih menjual bahan baku dalam bentuk mentah, padahal proses hilirisasi mampu meningkatkan nilai ekonomi secara signifikan.
Dalam catatannya, ia memaparkan sejumlah ilustrasi nilai jual produk hasil pengolahan dolomit, kapur industri, kapur bakar, hingga pasir silika yang dinilai mampu menghasilkan margin lebih tinggi dibandingkan penjualan bahan mentah.
Berdasarkan perhitungannya, perputaran ekonomi industri dolomit, kapur, kapur bakar, dan pasir silika di wilayah Gresik, Lamongan, dan Tuban diperkirakan mencapai sekitar Rp60 triliun setiap tahun.
Refleksi tentang Syukur dan Berdikari
Di balik uraian mengenai potensi tambang, Khalilur menegaskan bahwa inti dari tulisannya bukanlah untuk menunjukkan keberhasilan bisnis.
Menurut dia, setiap orang kerap lebih mudah mengagumi pencapaian orang lain dibanding menghitung potensi yang dimiliki dirinya sendiri.
Ia menilai menghargai kemampuan diri merupakan bagian dari rasa syukur atas amanah yang diberikan Tuhan. Sebaliknya, membiarkan potensi yang dimiliki tanpa dikembangkan justru menjadi bentuk penyia-nyiaan nikmat.
Dari refleksi tersebut, Khalilur kembali mengangkat semangat berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri. Baginya, konsep itu bukan sekadar jargon pembangunan, melainkan dorongan agar sumber daya alam Indonesia tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi mampu diolah menjadi industri yang memberikan nilai tambah dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Melalui catatan itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih mengenali potensi yang dimiliki, mensyukurinya, kemudian mengembangkannya secara maksimal. Menurutnya, sejarah besar seseorang tidak dibangun dengan membandingkan diri dengan orang lain, melainkan dengan keberanian memaksimalkan amanah yang telah dipercayakan kepadanya. (Fia/Kiev).
Editor : Mukhyidin Khifdhi












