Jakarta – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, dinamika kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menjadi perhatian. Ketua Umum Netra Bakti Indonesia (NBI), HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, menilai Muktamar 2026 harus menjadi momentum untuk mengakhiri konflik internal yang dalam beberapa tahun terakhir kerap mencuat ke ruang publik.
Menurut Gus Lilur, warga Nahdliyin pada dasarnya menginginkan NU tetap menjadi organisasi yang teduh dan mampu menjaga persatuan, bukan terus disibukkan oleh perbedaan di tingkat elite.
“Mayoritas warga NU tidak menghendaki para pemimpinnya terus bertengkar. NU terlalu besar jika energi organisasi habis hanya untuk menyelesaikan konflik internal,” kata Gus Lilur dalam keterangan tertulisnya, Kamis (18/6/2026).
Menilai Ada Pola Konflik yang Berulang
Dalam pandangannya, konflik yang berkembang di tubuh PBNU tidak hanya dipahami sebagai perselisihan antara Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan Sekretaris Jenderal Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.
Gus Lilur mengaku telah menelusuri dinamika kepemimpinan NU sejak tingkat cabang, wilayah, hingga PBNU. Dari penelusuran tersebut, ia melihat adanya pola yang menurutnya terus berulang dalam perjalanan organisasi.
“Saya mencoba melakukan tabayun dengan melihat perjalanan sejarah organisasi. Dari situ saya menemukan pola yang menurut saya patut menjadi bahan renungan bersama menjelang Muktamar,” ujarnya.
Ia menyebut nama Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar sebagai salah satu figur yang menurut pandangannya kerap berada dalam berbagai dinamika kepemimpinan NU di sejumlah tingkatan organisasi.
Namun demikian, Gus Lilur menegaskan dirinya tidak bermaksud menyalahkan satu pihak ataupun menyampaikan tuduhan terhadap individu tertentu.
“Saya tidak mengatakan seluruh persoalan bersumber dari satu orang. Konflik sebesar NU tentu dipengaruhi banyak faktor, mulai dari komunikasi, perbedaan pandangan, hingga dinamika politik organisasi,” katanya.
Muktamar Harus Melahirkan Kepemimpinan Pemersatu
Gus Lilur menilai Muktamar NU ke-35 seharusnya menjadi ruang evaluasi bagi seluruh warga Nahdliyin dalam menentukan arah organisasi lima tahun ke depan.
Menurutnya, NU membutuhkan sosok pemimpin yang mampu menjadi perekat berbagai kelompok di dalam organisasi, sekaligus menghadirkan suasana yang lebih kondusif.
“NU membutuhkan pemimpin yang mampu menyatukan seluruh elemen jam’iyah, bukan menambah fragmentasi. Kepemimpinan yang teduh jauh lebih dibutuhkan dibanding kepemimpinan yang terus berada dalam pusaran konflik,” ujarnya.
Ia juga menilai karakter kepemimpinan yang pernah ditunjukkan para Rais Aam terdahulu, seperti KH Ahmad Siddiq dan KH Sahal Mahfudz, dapat menjadi teladan bagi regenerasi kepemimpinan NU.
Menurutnya, kedua tokoh tersebut dikenang bukan hanya karena keluasan ilmu, tetapi juga kesederhanaan, keteduhan, dan kemampuannya menjaga persatuan warga Nahdliyin.
Ajak Warga NU Menilai Secara Objektif
Lebih lanjut, Gus Lilur mengajak seluruh warga NU agar menjadikan Muktamar sebagai momentum melakukan evaluasi secara objektif terhadap perjalanan organisasi.
Ia menegaskan bahwa pandangan yang disampaikannya merupakan bagian dari kontribusi pemikiran menjelang Muktamar dan bukan untuk memperkeruh situasi.
“Yang saya harapkan sederhana, yakni NU kembali menjadi rumah besar yang nyaman bagi seluruh Nahdliyin. Siapa pun yang memimpin nanti, semoga mampu merawat persatuan dan membawa organisasi semakin bermanfaat bagi umat dan bangsa,” pungkasnya.












